Pergunakanlah Waktu dan Tetap Berpengharapan


Masalah Memberi Kesan


Sebongkah batu besar dan kokoh tidak akan goyah oleh hembusan angin sepoi sepoi maupun 
angin kencang, demikian lah orang berhikmat tidak akan bergerak karena pujian maupun celaan.

Perbudakan yang paling melelahkan di dunia adalah kekuatiran akan Kesan apa yang orang memiliki tentang saya?kekuatiran ini memaksakan seseorang untuk berusaha sekuat tenaga agar kelihatan pintar, ramah,dan penderma.


Ketika kita melihat ke dalam diri kita untuk mengetahui siapakah diri kita, seringkali yang pertama kita temukan adalah kecurigaan yang akhirnya menimbulkan aneka pertanyaan. kita menemukan bahwa motivasi kita sering tidak semurni yang kita harapkan. Apakah saya penderma ? Saya memberi bantuan ke panti asuhan, kepada panitia pembangunan gereja dan sebagainya. tetapi apakah saya membelinya sebagaimana adanya atau apakah saya memberinya supaya mereka yang memintanya tidak mengganggu saya?apakah saya memberi sebanyak yang saya mampu dan seharusnya apakah saya memberikannya untuk memberi kesan dan memoles reputasi saya? apakah saya memberi lebih banyak kali ini hanya karena saya ingin meningkatkan reputasi saya dimata orang lain dan saya dapatkan mepercakapkanya dengan orang lain untuk memberi kesan positif tentang diri saya? Inilah pertanyaan pertanyaan yang dapat kita ajukan untuk mengetahui motivasi kita memberi.
ketika juga dapat memeriksa kehidupan bergereja kita dengan seksama." apakah kita rajin bergereja terutama untuk menjaga citra kita terhadap sesama warga gereja? apakah karena kita tahu Tuhan tidak akan memenuhi permintaan kita kalau tidak rajin beribada? apakah karena kita merasa tidak enak kalau orang lain mencap kita bukan seorang warga gereja yang baik? apakah kita terus berkeliling mencari gereja yang menyediakan nyanyian tata ibadah khotbah dan sebagainya yang cocok dengan selera kita? atau kita bergereja di suatu gereja karena kita percaya Tuhan menempatkan kita di situ tidak terutama untuk kepentingan kita tetapi untuk menjadi saksisaksi Nya?

Dari pengalaman kita bisa belajar bahwa intropeksi terhadap motivasi yang ada di balik sikap dan tindakan tindakan kita memberi lebih banyak ketidak pastian. ketimbang kepastian. kita selalu dapat bertanya terhadap diri sendiri tetapi kita tidak akan dapat yakin apakah kita mengenal diri kita sendiri.

salah satu hal yang perlu kita periksa adalah mata rantai kehidupan kita. sekarang dengan masa lalu yang mungkin tanpa sadar amat mempengaruhi kehidupan kita saat ini, misalnya ada banyak anak anak yang dibesarkan dalam mental hadiah atau hukuman, jika anak menyenangkan dan memenuhi selera orang tua maka ia akan mendapat hadiah, jika tidak memenuhi selera orang tua tidak peduli apakah salah atau benar anak mendapat celaan bahkan mendapat hukuman. pola itu terus melekat hingga seseorang itu dewasa, itu sebabnya ada orang yang tidak pernah menjadi dirinya sendiri. tetapi selalu bergerak berdasarkan rayuan maupun ancaman dari luar dirinya. itu juga bisa menimbulkan semangat persaingan, kecemburuan, iri hati dan sejenisnya. Itu pula yang mengakibatkan seseorang tidak siap menerima keberadaan diri sendiri dan sekaligus tidak bahagia melihat keberadaan dan keberhasilan orang lain. adakah ikatan masa lalu kita membelenggu hidup kita hari ini?

kita membutuhkan evaluasi diri. Bukan membuat kita menjadi benci diri apalagi menghukum diri, melainkan untuk kembali ke tujuan hidup kita sebagaimana Tuhan kehendaki. Tuhan mengenal kita lebih baik ketimbang kita mengenal diri sendiri. kita perlu memohon pertolongan Tuhan untuk memperkenalkan diri kita kepada diri kita sendiri, pertanyaan pertanyaan berikut ini dapat kita ajukan dan menjawab dengan sadar, bagaimana perasaan saya ketika orang memuji saya? bagaimana perasaan saya ketika orang mengkritik saya? sejauh mana perasaan perasaan itu menentukan sikap dan tindakan saya sehari hari ?
Jika jawaban kita jernih terhadap pertanyaan pertanyaan di atas, maka kita tidak akan memberi perhatian serius kepada pujian orang atas bakat,  kebaikan hati penampilan fisik maupun prestasi yang kita raih dalam berbagai bidang, demikian halnya kalau ada orang yang mencela kita, kita hanya akan memikirkan ala kadar saja. tidak perlu terlalu serius dengan semua itu, mengapa sebab banyak orang yang memuji maupun mencela kita lebih mencerminkan suasana hati mereka, jika kita menerima pujian orang sesungguhnya kita menyerahkan diri di kontrol atau dikendalikan orang lain. kita akan berusaha menjaga citra, penampilan dan ide sebagaimana diharapkan orang lain. Kita akan menyesuaikan diri dalam banyak hal terhadap selera orang yang memuji kita,akhirnya kita menjadi terpenjara oleh pujian itu sendiri.
Jadi kalau orang lain memuji kita, kita mengatakan dalam hati orang yg memuji saya sesuai dengan suasana hatinya. "Ketika orang lain memuji kita kita seharusnya lebih menikmati persahabatan kita, ketimbang pujian itu sendiri. sebaliknya kalau orang lain mengkritik atau mencelah kita, kita perluh melihat kedalam diri sendiri, kalau kritik itu benar kita mensyukurinya. Ia merupakan obat meskipun rasanya pahit. Jika celaan orang itu hanyalah mengungkapkan keadaan diri mereka yang serba negatif atau karena cemburu iri hati sombong dan sebagainya, merekalah yang mempunyai masalah. karenanya, kita jangan bereaksi berlebihan apalagi menjadi marah sambil membalas. Emas yang dilemparkan ke dalam kotoran sapi pun tidak akan berubah kadar kemasannya. kita tidak perlu peduli dengan nama baik menurut ukuran dunia ini, yang seringkali mengutamakan pemolesan dari luar, kita dapat hidup apa adanya dan merasakan kemerdekaan sejati ketika kita tidak dikendalikan oleh orang lain, tetapi digerakkan oleh roh Tuhan yang mendiami inti kemanusiaan kita.

Labels: OPINI

Thanks for reading Masalah Memberi Kesan. Please share...!

0 Comment for "Masalah Memberi Kesan"

Back To Top