Pergunakanlah Waktu dan Tetap Berpengharapan


Tertidur Dalam Sadar


Tertidur dalam Sadar

Ketika aku di padang pasir aku merindukan air, ketika aku di lautan membeku aku merindukan tanah yang kering.

Suatu gambaran kehidupan yang mengisi imajinasi ku, yang memungkinkan aku untuk selalu mencari yang hampir mustahil ku dapatkan, tapi ku yakini akan adanya karena ku butuhkan walau dia sedang tersebunyi jauh dibalik ribuan mil jaraknya dari air yang menghidupkan ku, dan mungkin yang memungkinkan darah ku membeku karena dinginnya suhu es yang tak membiarkan ku menginjakkan kaki di atas tanah yang kering.
Walau memang saat ini aku sedang tidak tersadar dengan keadaan ini, hingga tamparan itu datang dengan lembut tapi rasanya seperti di jatuhkan dari langit ke bumi . Yang mungkin tetapi pasti ini waktunya untuk bangun dari diri ku yang tersadar, tetapi tertidur. Yang mungkin tetapi pasti ini waktunya bergerak dari langkah ku yang berhenti. Bergerak untuk maju dari kemunduran yang terselubungi dengan kegiatan ku yang mewarnainya dengan indah.
Aku harus merasakan haus walau sedang merasakan ilusi dahaga yang tidak mengingatkan tubuh ku untuk mulai meminum air yang nyata yang sekarang kian sekarat keberadaannya.
Aku harus melawan dingin yang di tutupi hangatnya api mimpi yang membuatku tertidur dengan darah semangat yang membeku.
Walau lembut tetapi sudah sangat cukup untuk membunuh mimpi ku yang sedang sadar tetapi tertidur.
Sang pemberi tamparan aku sangat menghargai mu dengan luka  yang kau ciptakan karena ini akan menjadi pengingat untuk setiap masa-masa yang terlewatkan.
Sedikitpun tidak ada kata untuk membenci mu, karena kamu masih memberikan aku waktu berubah, walaupun itu sudah terlambat tapi aku masih kau berikan ruang untuk memulai yang terhentikan.
Sekarang aku mengerti bahwa masa depan penuh harapan itu memang ada. Walau hanya menduga tetapi namanya juga berharap, harapan dan usaha ku lah yang akan menjadi jawabannya kelak dimana aku kamu letakkan.
Tamparan mu seperti embun pagi yang menyapa ku dengan lembut setelah aku mengaku saat ini. Aku menyadari ternyata masih terlalu banyak orang yang menyayangi ku saat ini, sehingga aku merasakan kebanggaan tersendiri yang membuat benteng pertahanan ku semakin kuat.
Biarkanlah aku menemukan air kehidupan yang sedang tersebunyi di tengah gurun tandus tersebut dan menemukan tanah berpijak yang hangat di tengah lautan es yang sedang menyembunyikan ku, agar mereka menyadari bahwa aku masih berjalan di jalan yang benar.
Dan kelak biarkanlah aku menangis dengan semua ini.
Dan kelak biarkanlah kita tersenyum dan berpelukan.
Dan kelak biarkanlah tidak ada lagi tangis di balik harapan yang kalian yang sering ku tidak acuhkan dulu.
Dan sekarang biarlah cerita ini tidak ku akhiri, karena aku sedang akan memulai yang sempat terhenti... dan amarah kalian biarlah menjadi semangat pelipur lara ku yang nyata...
Karena harapan ku tangis itu tidak datang lagi..
Biarlah cerita ini bukan menjadi cerita ku tetapi menjadi kisah mu yang sedang ku ceritakan karena kerinduan ku yang menjadi harapan ku atas mu...



Labels: SASTRA

Thanks for reading Tertidur Dalam Sadar. Please share...!

0 Comment for "Tertidur Dalam Sadar"

Back To Top