![]() |
| GMKI KOMISARIAT STT HKBP Pematangsiantar Duduk Bersama Badan Komunikasi Pemuda Remaja Mesjid Indonesia Pematangsiantar (BKPRMI) Terkait ISU SARA 4 November 2016 |
Diskusi ini dilakukan pada hari Kamis, 03 November 2016. Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Komisariat STT-HKBP mengundang Badan Komunikasi Pemuda Remaja Mesjid Indonesia (BKPRMI) Pematangsiantar dalam diskusi tersebut. Diskusi tersebut di Moderatori oleh Calvin Yosep Opusunggu (Seketaris Cabang GMKI Pematangsiantar Purnabakti 2013-2014) dan Wahyu Nolim Lestari Siregar (Ketua Komisariat GMKI Komisariat STT-HKBP) dan yang menjadi Notulen adalah May Luther Dewanto Sinaga (Sekretaris Komisariat GMKI Komisariat STT-HKBP).
Diskusi tersebut diawali dengan perkenalan dari anggota BKPRMI yang diawali oleh Ketua BK PRMI Pematangsiantar (Faidil Siregar), yang sekaligus Purnabakti Ketua Front Pembela Islam (FPI). Bapak Faidil pun mengenalkan teman-teman yang dibawanya yang dimulai dari Thoifatul Azis Nasution (Bendahara BKPRMI Pematangsiantar) hingga teman-teman yang lainnya. Dan Bapak tersebut mengatakan bahwa saat itu Bapak Khoir Parinduri (Sekretaris BKPRMI Pematangsiantar) tidak dapat hadir dalam diskusi tersebut.
Bapak Faidil mengatakan bahwa selain Ketua BKPRMI Pematangsiantar, beliau juga merupakan Ketua Forum Pembela Islam (FPI) Pematangsiantar dan beliau juga mengatakan bahwa beliau sangat senang karena GMKI Komisariat STT-HKBP telah mengadakan diskusi tersebut. Melalui diskusi tersebut, harapannya adalah bahwa kota Pematangsiantar mampu menjadi sebuah kota yang kondusif dan memiliki toleransi antar umat beragama yang tinggi. Bapak Faidil mengatakan bahwa manusia merupakan ciptaan yang maha kuasa yang memiliki perbedaan-perbedaan. “Bagi kami tidak ada masalah mengenai perbedaan agama yang ada di Indonesia ini asalkan memiliki komunikasi yang baik. Kita selalu terbuka menerima semua orang dan jangan jadikan perbedaan agama menghasilkan sebuah permusuhan” ujar Pak Faidil. Beliau juga mengatakan bahwa sebaiknya setiap manusia saling mendukung untuk membangun kota Pematangsiantar menjai lebih baik.
Setiap orang pasti menganggap bahwa agamanya lah yang benar dan tidak ada satupun agama mengajarkan hal yang tidak benar. Sampai saat ini, saya dan teman-teman saya akan tetap menjaga kekondusifan kota Pematangsiantar dan kami belum pernah memiliki pemikiran untuk memecahbelahkan bangsa, Ujar Faidil dalam diskusi tersebut. Tak berapa lama kemudian, salah seorang kader GMKI Komisariat STT-HKBP pun bertanya kepada BKPRMI mengenai bagaimana BKPRMI memandang “Toleransi Umat Beragama”. Kemudian salah seorang anggota BKPRMI mengatakan bahwa “Selama ini, kami sudah menjalin komunikasi yang baik antar umat yang beragama, dan bagi kami komunikasi yang baiklah yang paling utama. Ada baiknya dari GMKI ataupun dari kami memiliki komunikasi yang baik agar tercipta sebuah daerah yang memiliki toleransi umat beragama yang tinggi. Jadi, bagi saya pribadi komunikasi yang baik ini lah yang sangat perlu dibangun untuk saat ini”.
Kemudian Ketua BKPRMI Pematangsiantar mengatakan bahwa “Saat ini, kita harus memperlihatkan toleransi umat beragama melalui tindakan kita. Bila perlu kita kumpulkan kawan-kawan kita masing-masing untuk berdiskusi dan saling berbagi untuk menciptakan sebuah kota Pematangsiantar yang kondusif. Karena pada saat ini, banyak orang yang ingin memecahbelahkan kita. Jika kita bergabung, maka orang lain pun tidak akan berani memecahbelahkan kita”.
Kemudian Ketua Komisariat GMKI Komisariat STT-HKBP (Wahyu Nolim Lestari Siregar) mengatakan bahwa “berbicara dengan kota Pematangsiantar yang kondusif, maka berbicara juga tentang pendidikan relasi antar umat beragama oleh karena hal yang seperti apa yang dapat membangun dari relasi tersebut. Kemudian Ketua BKPRMI Pematangsiantar mengatakan “Kita tidak mau terpancing dengan hal-hal yang berhubungan dengan memecahbelahkan antar umat beragama. Agama pasti akan mengajarkan hal yang baik, dan tidak ada agama yang mengajarkan hal yang buruk. Saya salut dengan GMKI Komisariat STT-HKBP karena telah mengundang kami dalam diskusi ini, dan harapan saya hubungan baik kita tidak sampai disini saja”.
Salah seorang anggota BKPRMI Pematangsiantar mengatakan bahwa “Manusia yang berpendidikan pasti bermoral, dan apabila tidak berpendidikan kemungkinan besar tidak bermoral. Berbicara pendidikan, untuk Indonesia sudah sangat komplit. Dan bagi saya Indonesia merupakan negara yang memiliki hukum yang sangat banyak. Meskipun ada hukum, yang sangat di perlukan adalah bagaimana relasi kita dengan orang lain. Semuanya kembali lagi kepada komunikasi. Dan bagi saya, orang-orang yang melakukan bentrokan di luar sana merupakan masalah Nafsu saja. Dan yang menjadi kendala terbesar menurut saya adalah sulitnya mencari persamaan antar umat beragama, dan apabila persamaan itu sudah ditemukan maka tidak akan terjadi perpecahan antar umat beragama”.
Kemudian salah seorang kader GMKI Komisariat STT-HKBP bertanya, mengapa dibeberapa daerah ada pemerintah yang memihak kepada salah satu agama tertentu?”. Kemudian pertanyaan tersebut dijawab oleh ketua BKPRMI Pematangsiantar. Beliau mengatakan “Semuanya sudah diatur di dalam undang-undang. Dalam mengantisipasi perpecahan dalam masyarakat, seorang pemerintah harus mengambil sebuah kebijakan meskipun harus ada yang di korbankan. Dan pemerintah tersebut akan melihat mana kerugian yang terkecil dari sebuah kebijakan yang diambilnya tersebut. Pemerintah itu bukan milik satu golongan tertentu saja, akan tetapi milik semua golongan. Jadi, kita harus mampu menyikapinya dengan cara bijaksana agar kita tidak sesat pikir. Jangan kita yang menjadi sumber permasalahan, dan tugas kita lah meredam permasalahan tersebut”.
Salah seorang dari anggota BKPRMI Pematangsiantar mengatakan bahwa mereka sangat bersyukur karena sejauh ini belum ada pergerakan di kota Pematangsiantar dalam menyikapi Demo yang dilakukan oleh Forum Pembela Islam (FPI) pada hari Jumat, 04 November 2016 di Jakarta. Dan BKPRMI Pematangsiantar memiliki harapan agar para pemuda-pemuda dapat saling bergandengan tangan agar tidak ada yang mempengaruhi para pemuda kedalam hal yang buruk apa lagi dalam hal mengajak dan memperkeruh, jangan ada yang terprovokasi dan dari FPI Pematangsiantar sendiri tidak ada ikut ambil bagian dengan permasalahan yang ada di Jakarta.
Jadi, meskipun manusia diciptakan oleh Tuhan dengan segala perbedaan dan salah satunya adalah perbedaan agama, maka kita harus menyatukan segala perbedaan tersebut dengan komunikasi-komunikasi yang baik. Berbicara agama maka berbicara tentang keyakinan masing-masing, karena itulah kita tidak bisa memaksakan kehendak kita kepada orang lain. Marilah kita sama-sama membangun kota Pematangsiantar yang Kondusif dengan saling bergandengan tangan, sehingga tidak akan ada orang yang berani memecahbelahkan kita.
Penulis : May Luther Dewanto Sinaga (Sekretaris Komisariat GMKI Komisariat STT-HKBP masa bakti 2015-2016)
Labels:
BERITA
Thanks for reading PANDANGAN GMKI KOMISARIAT STT-HKBP DAN BKPRMI PEMATANGSIANTAR TENTANG KEBERAGAMAN UMAT BERAGAMA. Please share...!


0 Comment for "PANDANGAN GMKI KOMISARIAT STT-HKBP DAN BKPRMI PEMATANGSIANTAR TENTANG KEBERAGAMAN UMAT BERAGAMA"