Tan Malaka lahir di Suliki, Sumatera
Barat pada 2 Juni 1897. Tan muda bernama Ibrahim, biasa dipanggil Ibra, anak
yang bandel namun cerdas. Terlahir dari orang tua golongan Kaum
Bangsawanlokal. Namun dalam hal kepemilikan dan kedudukan tidak berbeda
dengan penduduk desa lainnya. Berdasarkan garis Matriarkat,ia
mewarisi gelar terhormat Datoek Tan Malaka kepada Ibrahim. Dalam suatu upacara
khidmat pada tahun 1913 didudukan pada jenjang yang mulia (Poeze, 2008; xv).
Tan Malaka
mengawali pendidikan dasarnya di Sekolah Rakyat di asal kelahiranya, dan
melanjutkan sekolah guru pribumi (Inlandsche Kweekschool voor Onderwijzers)
di Bukit Tinggi, Setelah menyelesaikan pendidikan Kweekschool ia melanjutkan
pendidikannya di Harleem, Belanda pada 1913. Nilainya yang cukup memuaskan dan
hubungannya yang bagus dengan gurunya menjadikan mereka bersimpati pada Tan
Malaka. Mereka rela mengumpulkan Rp. 50 tiap bulan untuk membantu Tan Malaka
dalam studi lanjutnya di Belanda (Tan Malaka,2008: 34).
Selama mengenyam
pendidikan inilah Tan Malaka mulai berkenalan dengan buku-buku filsafat karya
pemikaran Jerman, Nietzche dan buku-buku tentang revolusi Prancis dan Amerika.
Tan Malaka juga sangat bersimpati dengan pergerakan yang dilakukan kaum buruh
komunis Rusia yang terjadi pada bulan oktober 1917, dan mulai berkenalan dengan
buku-buku yang berkaitkan dengan Revolusi Rusia, seperti Het Kapitalkarya
Marx, Engels, dan Kautsky (Poeze, 2000:71).
Kemudian Tan
Malaka kembali ke Indonesia dan menjadi guru bagi anak-anak kaum buruh di
perkebunan Sumatera, tepatnya di Deli dari Desember 1919 sampai Juni 1921.
Pengalamannya bergaul dengan kaum proletar inilah yang makin memantapkan Tan
bergerak dalam bidang pendidikan. Dari Deli ia menuju Semarang pada Juli 1921,
tujuannya adalah untuk mendirikan perguruan yang sesuai dengan keperluan dan
jiwa rakyat Murba masa itu. Rakyat Murba adalah sebutan Tan Malaka untuk kaum
proletar. Di Semarang inilah Tan Malaka dekat dengan Vereniging van
Spoorden Tram Personel (VSTP) atau Serikat Buruh Kereta Api yang waktu
itu diketuai oleh Semaun, yang kemudian mengetuai Partai Komunis Indonesia
(PKI). Sebelumnya PKI bernama Indische Sociaal Democratische Partai (ISDP) yang
didirikan kaum sosialis revolusioner Belanda pada 1914. Ketika di Semarang
itulah Tan dekat dengan Sarekat Islam (SI) Tjokroaminoto. Setibanya Tan Malaka
di Semarang, Semaun mengadakan rapat istimewa anggota SI Semarang untuk
mengusulkan mendirikan perguruan yang dicita-citakan olehnya (Tan Malaka, 2008:
93-94).
Sekolah rakyat
yang didirikan, biasanya juga disebut sekolah Tan Malaka, segera mendapat
tempat dihati rakyat, disamping bayaran yang murah sekolah tersebut sesuai
dengan keadaan jiwa rakyat jelata yang sedang tertindas. Sehingga dimana-mana
didirikan sekolah model Tan Malaka, bersamaan dengan kemajuan sekolah rakyat
tersebut, dalam wilaya politik sedang berkecamuk perbedaan dalam serikat Islam
antara kelompok SI dan PKI.
Tan Malaka
adalah orang yang tegas termasuk ketika ia berani menjukan sikapnya, Menurut
sejarahwan Anhar Gonggong, Tan Malaka adalah tokoh yang dekat dengan
Tjokroaminoto. Tan Malaka memiliki keyakinan yang sama bahwa Islam adalah potensi
besar untuk membawa kaum bumiputra menuju kemerdekaan. Hal ini terbukti dengan
pembentukan SI-merah oleh Tan Malaka, karena ia tidak ingin Islam
dipertentangkan dengan komunisme. Karena pemikirannya ini, dan juga ketidak
sepahamannya untuk melakukan revolusi PKI tahun 1926 menyebabkannya harus
didepak dari PKI dan cap sebagai Trostky melekat pada dirinya.
Bagi Tan Malaka
pemberontkan yang direncanakan PKI kelompok Prambana bukan saat yang tepat.
Digambarkan oleh Tan Malaka dalammassa aksi, moment perubahan massa
aksi menjadi pemberontakan bersenjata timbul dengan sendirinya, sebagai hasil
dari berbagai maca keadaan, bukan direncanakan terlebih dahulu. Hal tersebut
disebabkan oleh karena masa hanya berjuang untuk kebutuhan yang terdekat dan
sesuai dengan kepentingan ekonomi. Karena mereka ditinggal oleh masa, sebab
dari awal mereka telah memisahkan diri dari masa (Malaka. 2000:95).
Penggalan pidato
Tan Malaka pada Kongres Komunis Internasional keempat pada tanggal 12 Nopember
1922 dapat menjelaskan bagaimana sikap Tan Malaka sebagai tokoh komunis
terhadap Islam. Pada pidato tersebut, ia menentang thesis Lenin yang diadopsi
pada kongres kedua, yang menekankan perlunya sebuah “Perjuangan Melawan Pan
Islamisme”. Di sini Tan Malaka mengusulkan sebuah pendekatan yang lebih
positif. Berikut penggalan pidato Tan Malaka:
“Pan-Islamisme adalah sebuah sejarah yang panjang. Pertama saya akan
berbicara tentang pengalaman kita di Hindia Belanda di mana kita telah bekerja
sama dengan kaum Islamis. Di Jawa kita memiliki sebuah organisasi yang sangat
besar dengan banyak petani yang sangat miskin, yaitu Sarekat Islam. Antara
tahun 1912 dan 1916 organisasi ini memiliki sejuta anggota, mungkin sebanyak
tiga atau empat juta. Itu adalah sebuah gerakan popular yang sangat besar, yang
timbul secara spontan dan sangat revolusioner.”
(https://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/1922-PanIslamisme.html)
Dalam Pidatonya, Tan Malaka menyampaikan usulan pada komintren mengenai
pentingnya kerjasama kaum komunis dengan gerakan Pan Islamisme di negara-negara
jajahan. Menurutnya Pan Islamisme bukanlah sebuah gerakan keagamaan, melainkan
sebuag gerakan perjuangan kemerdekaan melawan kekuasaan imprialisme. Tan Malaka
mengingatkan bahwa kaum muslim yang berjumlah 250 juta orang (pada saat itu),
dapat menjadi sebuah kekuatan besar yang dapat dirangkul dalam perjuangan melawan
kekuasaan imperialism di dunia, terutama di tanah jajahan (Malaka,
2000:313-316).
Dilain
kesempatan ketika terjadi konflik dalam tubuh serekat Islam, seorang bertanya
pada Tan Malaka, apakah dia seorang komunis yang anti agama (atheis)? Tan
Malaka menjawab dengan bahasa Belanda :
”Als ik voor God sta, ben ik Moslim, maar als ik
voor de mensen sta, ben ik geenn moelim, omdat heeft gezegd date er onder de
mensen vele duivels zijn” (jika saya berdiri dihadapan Tuhan, saya
adalah seorang muslim, tetapi jika saya berhadapan di depan manusia, saya bukan
muslim sebab bukankah Tuhan pernah mengatakan bahwa diantara manusia itu banyak
setannya) (Poeze,2000:315).
Banyak petinggi
Komintern yang kemudian memusuhinya. Perbedaaan pandangan Tan Malaka dan para
petinggi komintern lain. Mayoritas tokoh Komintern menilai gerakan Islam
sebagai pengehalang dan juga sisa-sisa feodalisme yang harus dibasmi, sedangkan
Tan Malaka sangat tidak setujuh. Terlepas dari keyakinan yang dipegang oleh Tan
Malaka, Menurut Mohammad Yamin, dalam karya tulisnya menyebutkan"Tan
Malaka Bapak Republik Indonesia" memberi komentar: "Tak
ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat
sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina
sebelum revolusi Philippina pecah…." Hal ini diamini bila kita
bandingkan ketika Tan Malaka dengan bukunya yang berjudul Near de
Republiek Indonesia yang pertama kali menggagas berdirinya republik
Indonesia pada April 1925 di Kowoloon Cina, mendahului karya Moh. Hatta dengan Mencapai
Indonesia Merdeka pada 1930 di Belanda dan Soekarno di tahun 1932
dengan Kearah Indonesia Merdeka (Kutoyo, 2000:213).
Tan Malaka
menghabiskan waktu 20 tahun dalam masa pelarian dan buronan internasional.
Sejak ditangkap pada 13 Februari 1922 dengan tuduhan mengganggu Rest en
Orde (keamanan dan ketertiban) bagi pemerintahan Belanda di Indonesia
akibat gerakan buruh yang gencar ia lakukan. Tan Malaka tiba di Belanda pada
Maret 1922, Politik Pembuangan adalah politik yang dilakukan pemerintahan
Kolonial Belanda untuk memisahkan tokoh-tokoh pergerakan dengan masanya.
20 Tahun Dalam Pengasingan Tan Malaka (1922-1942)
Tan Malaka
menjadi korban politik pembuangan yang dilakukan Belanda dengan tuduhan
mengganggu keamanan dan ketertiban umum, di Belanda Tan Malaka di sambut Partai
Komunis Belanda (CPH). Tan Malaka di jadikan juru kampanye sekaligus dicalonkan
sebagai anggota Parlemen Belanda (Prabowo, 2002:17). Ditahun yang sama Tan
Malaka menjadi duta Komintren wilaya Asia Tenggara pada Kongres Komunis
Internasional (Komintern) IV di Moskow. Selanjutnya pengembaraan dan pelarian
Tan Malaka dari kejaran polisi rahasia kaum Kolonial dari satu negara ke negara
lainnya. Ia pun sempat bertemu berbagai tokoh pergerakan di Asia seprti Dr. Sun
Yat Sen yang dinilainya sebagai borjuis kecil dan Manuel Quezon, Presidan
Pertama Republik Filipina yang membela Tan Malaka saat di tangkap Inggris, saat
Tan Malaka bersembunyi di Filipina sebagai wartawan.
Walau menetap
dinegeri orang totalitas perjuangan Tan Malaka pada masalah-masalah pergerakan
nasional untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Pada esensinya
pemikiran-pemikaran dan perjuangan Tan Malaka terpusat kepada tujuan bagaimana
memerdekaan bangsanya sekaligus merombak secara total seluruh tatanan ekonomi,
politik, sosial dan budaya. Jauh sebelum Sukarno menulis Indonesia menggugat
pada tahun 1932 yang berisi arti penting kemerdekaan bagi bangsa Indonesia
ataupun Hatta dengan Kearah Indonesia Merdeka pada 1930, Tan Malaka sudah
menulis pamplet berjudul Naar De Republik (Menujuh Republik Indonesia) sebagai
konsepsi menujuh kemerdekaan Indonesia yang terbit pertama kali di Kowloon Cina,
April 1925 semasa pengasinganya.
Pada Juni 1927
Tan Malaka mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) di Bangkok, Thailand.
Dan PARI menolak berkoordinasi dengan Komintren (Poeze, 1988:356).
Bersama Soebakat dan Djamaluddin Tamin mengumumkan PARI bahwa partai ini
independen dari Kominter maupun PKI. Perjuangan PARI berdasarkan pamflat Near
de Republiek Indonesiasebagai gerakan bawah tanah untuk memimpin jalanya
Revolusi Indonesia menggantikan peran PKI. Namun PARI sebagai gerakan kiri di
Indonesia dan sebagai grakan Revolusi tidak bias berkembang di Indonesia
setelah dua tokoh kepercayaan Tan Malaka tertangkap.
Keberadaan
PARI yang di bentuk Tan Malaka dan sifat independen yang di ambil PARI,
menjadikan Tan Malaka tidak hanya sebagai musuh dan ancaman bagi pemerintahan
kolonian namun juga menjadi musuh utama PKI dibawah pimpinan Muso. Selanjutnya
sejak tahun 1927 sampai 1932 kegitan politik Tan Malaka semakin
terhambat. Tan Malaka lebih sering berada dalam pengejaran intel Imprealisme
Belanda, Inggris dan Amerika.
Setelah 20 tahun
dalam pelarian di luar negeri Tan Malaka kembali ke Indonesia pada tahun 1942
pada masa Jepang mendaratkan diri dan berkuasa di Indonesia. Sekembali ke
Indonesia Tan Malaka sempat menuliskan karya pentingnya di balik kehidupan serba
kekurangan yang ia alami, yakni MADILOG (Materialisme Dialektika dan Logika)
yang dimulai sejak 15 Juli 1942 sampai 30 Maret 1943. Buku yang mengajak dan
memperkenalkan kepada bangsa Indonesia cara berfikir ilmiah, dan meninggalkan
cara hidup yang dogmatis. Selama pendudukan Jepang Tan Malaka sering menjalin
kontak dengan tokoh pemuda seperti Sukarni, Chairul Saleh, Adam Malik, Maruto,
Pandu Kartawiguna dan lain-lain.
Sampai menjelang
Proklamasi 17 Agustus 1945, memang Tan Malaka tidak terlalu ambil bagian secara
langsung dalam antusias medan euforia kemerdekaan dan ini diakuinya sebagai
penyesalan terbesar dalam hidupnya (Fa’al 2005 :135-137). Perjuang Tan Malaka
di mulai setelah kedatangan kembali Belanda dan sekutu yang ingin kembali
merongrong kekuasaan di Indonesia.
Tan Malaka
adalah satu dari sedikit anak bangsa yang konsisten memegang prinsip ideologis
yang ia yakini hingga akhir hayatnya. Setelah kisah hidupnya dibungkam oleh
Orde Baru, termasuk karya-karyanya dilarang beredar, pada pascareformasi nama
Tan Malaka bergaung kembali. Tan Malaka pada masa perjuangan kemerdekaan sering
disebut-sebut dari mulut ke mulut, namun sulit untuk mengetahui persis
keberadaannya, hingga relatif orang hanya dapat mengetahui dari karya-karyanya.
Hal itu karena Tan Malaka lebih banyak menyamar dengan berganti-ganti nama dan
berpindah tempat, sebagai konsekuensi dari gerakannya yang tidak mau kompromi
dengan penjajah -padahal sebagian dari pejuang kemerdekaan melakukan kompromi
juga konsekuensi dari gagasan-gagasan provokatif revolusionernya yang telah ia
tuangkan dalam karya-karyanya yang dibaca secara sembunyi-sembunyi (Tempo, 17
Agustus 2008: 26). Dalam otobiografi pendek yang ia tulis dalam Dari Penjara ke Penjara
terlihat juga bahwa ia betul-betul membumi dan membaur dengan rakyat, buruh,
kelas pekerja, dan mereka yang selama ini diperjuangkan oleh Tan Malaka untuk
mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Tan Malaka adalah potret intelektual
organik, intelektual yang terlibat langsung dalam perjuangannya, tidak sekadar
berwacana melalui tulisan saja. Ia betul-betul menyelami kehidupan kaum
proletar yang diperjuangkannya, menjadi bagian darinya dengan menjadi buruh,
pekerja keras, tukang ketik, dan lainnya.
Banyak ceita tentang sosok Tan
Malaka dilukiskan lewat novel berjudulPatjar Merah Indonesia yang
merupakan cerita saduran dari The Scarlet Pimpernet karangan
Baroness Orczy yang menceritakan kisah Sir Percy Blakeny dan Revolusi Prancis.
Novel setengah fiksi yang menceritakan perjalanan perjuangan revolusioner dalam
kesederhanaan, tidak mabuk untuk menjadi terkenal, menjadi bintang pahlawan
yang dielu-elukan kedatangannya.
Tan Malaka Dan
Konsep MADILOG
Ketika bicara soal Tan Malaka mungkin tidak bisa dilepaskan dengan ajaran
Marxisme yang lekat oleh dirinya sehingga sampai sekarang di cap sebagai
seorang komunis, namun kita tidak dapat mengabaikan sejauh mana jejak langkah
dan konteks sosio-historis Tan Malaka yang terlahir dari tradisi Islam puritan
di Pandan Gadang, Suliki Sumatera Barat pada 1897.
Dalam wawancara majalah detik
oleh keponakan Tan Malaka, Zulkifi Kamarudin (Majalah Detik, 2014: 99),
mengenai keislaman Tan Malaka, menyatakan Tan Khatam dan hafal Al-Qur’an karena
sejak kecil belajar mengaji di surau dari cerita Nenek-nenek mereka mengenai
sosok Tan Malaka. Sebagaimana banyak litelatur, kebudayaan Minangkabau sangat
kental dengan nuansa Islami. Hal ini dibuktikan dengan semboyan adat minang
yaitu; “adat basandi syariat, syariat basandi kitabullah” (adat
bersendikan syara’ dan syara’ bersendikan kitabullah). Tan Malaka menggambarkan
keadaan keluarganya dengan menulis:
”sumber yang saya peroleh untuk
pasal ini (agama Islam) adalah sumber hidup. Seperti sudah saya lintaskan
dahulu, saya lahir dalam keluarga Islam yang taat. Ketika sejarah Islam di
Indonesia bisa dikatakan masih pagi, diantara keluarga tadi sudah lahir seorang
alim ulama, yang sampai sekarang dianggap keramat. Ibu-Bapak saya keduanya
taat, takut pada Allah, dan menjalankan sabda Nabi. (Tan Malaka, 2010: 381-382).”
Masa kecilnya, Tan Malaka
adalah seorang anak yang pemberani, nakal dan keras kepala. Alam Minangkabau
yang asri penuh pemandangan alam; gunung bebukitan dan sungai, menjadi guru
bagi Tan Malaka untuk menempa mental dan fisiknya. Alam takambang jadi guru merupakan ungkapan filosofis Minangkabau yang bermakna
dialektis bahwa seseorang harus dapat membaca alam sekitar, orang
sekitar,dan belajar dari apa yang mereka tampakkan, dimanapun berada kita
dapat menjadikannya pelajaran dalam memaknai dan mejalankan kehidupan.
Berkat kecemerlangan otaknya, dia menjadi salah satu
dari sedikit kaum pribumi yang berhasil menimba pendidikan Barat. Tercatat
sebagai mahasiswa Rijks Kweekschool, Harlem, Belanda pada 1913 hingga 1919
sekaligus menjadi awal perkenalannya dengan teori Marxisme lewat karya-karya
Marx-Engels. Pematangan intelektualitasnya kemudian dibuktikan dalam masa
kepulangannya sebagai guru di Tanjung Morawa dimana dia melihat realitas
kehidupan kaum buruh perkebunan yang tertindas sebagai dampak kebijakan
pemerintah jajahan pada waktu itu (Rambe, 2001: 20-24).
Di sini lah pergulatan gagasan yang dihadapkan pada realitas sosial yang pada
akhirnya membawa arti penting bagi penegasan perjuangan Tan Malaka menuju
Republik Indonesia. Perjalanan karir politiknya kelak dan kekayaan gagasan
dalam karya-karyanya sedikit banyak dilandasi atau paling tidak dipengaruhi
oleh teori yang dia dapat dan realitas sosial-politik pada saat itu. Dalam
latar sosio-historis itulah, Tan Malaka membangun tradisi kirinya.
Pemikiran Tan Malaka secara konsisten, didasarkan pada
filsafat dan pandangan hidup Madilog yang merupakan landasan dasar dan harus
disadari oleh kaum proletar Indonesia untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia.
Madilog hadir, berangkat dari keprihatinan Tan Malaka kepada kaum proletarian
yang terlalu tenggelam dengan dunia takhayul dan mistis yang menjadikan mereka
tidak realistik dan tak punya nyali untuk bergerak melawan imperalisme. Kaum
proletarian hanya bergantung, enggan berubah dan terkesan menunggu datangnya
Ratu Adil yang akan membebaskan mereka pada keterpurukan, yang mana cerita itu
belum tentu benar adanya (takhayul). Dalam filsafat pemikirannya, Tan Malaka
menyebut masalah pelik ini sebagai logika mistika. Untuk mengatasi
hal tersebut, Tan Malaka menyodorkan tiga hal sebagaisenjata penangkalnya,
yakni Materialisme, Dialektika dan Logika (MADILOG).
Materialisme, menekankan pada keterarahan perhatian manusia pada kenyataan, bukan
kepada khayalan dan takhayul. Logikanya sederhana, dari pada kita sibuk mencari
penyebab tentang segala kejadian di alam gaib, lebih baik kita mencari
kenyataan bendawi sendiri. Dalam mengkaji realitas, maka diperlukan ilmu
pengetahuan yang berbasis pendekatan ilmiah. Dengan begitu, paraproletar
Indonesia akan berpikiran maju dan dapat keluar dari keterpurukan. Namun,
materialisme akan dapat optimal apabila disertai oleh dialektika.
Dialektika menjelaskan bahwa realitas tidak dilihat sebagai
sejumlah unsur terisolasi yang sekali jadi lalu tak pernah berubah. Dialektika
mengatakan bahwa segala sesuatu bergerak maju melalui langkah-langkah yang
saling bertentangan. Khususnya ia menyebutkan dua hokum dialektika: hukum
penyangkalan dari penyangkalan dan hukum peralihan dari pertambahan kuantitatif
ke perubahan kualitatif dan kesatuan antara yang bertentangan.
Logika oleh
Tan Malaka secara eksplisit membandingkan dan menggantikan logika mistis
menjadi logika realitas. Dari madilog, Tan Malaka menunjukkan betapa lebih
mampu Madilog daripada logika gaib dalam menjelaskan segala kenyataan penting
yang kita hadapi. Seperti perkembangan alam raya, evolusi organisme, sejarah
manusia dan lain sebagainya (Suseno, 2000).
Menurut Tan Malaka, seorang pemimpin haruslah seorang
yang cerdas dan mampu memimpin suatu pergerakan revolusioner. Ia dapat
memberikan pertimbangan dan memperkirakan arah perjuangan yang akan berjalan.
Di samping itu, seorang pemimpin haruslah dapat menyelami kemauan rakyat dan
dapat mengubah kemauan masa menjadi perbuatan masa. Namun untuk menggerakkan
suatu masa haruslah memiliki suatu partai revolusioner. Partai inilah yang
nantinya akan mempertemukan orang-orang yang memiliki persamaan pandangan dalam
revolusi. Untuk mencapai kemenangan revolusi, harus memperhatikan dua syarat
berikut : pertama, kondisi objektif, yaitu suatu tingkatan sistemproduksi yang
tertentu dari masyarakat dan taraf tertentu dari kesengsaraan rakyat. Sedangkan
yang kedua adalah kondisi subjektif, yaitu kesediaan rakyat untuk membuat
sebuah partai revolusioner yang berdisiplin dan mengakar dalam masa rakyat
(Rambe, 2003: 201).
Tan Malaka
adalah model seorang intelektual organik dalam istilahnya Gramsci,
intelektual yang tidak sekadar piawai bermain teori, namun juga mampu membumi
dan bergerak di akar rumput. Ia tidak sekadar menuangkan gagasannya dalam buku,
pamflet, dan karya tulis lainnya sebagai media perjuangan, namun ia juga turut
bergerak dan berjuang secara fisik dengan bergerilya, mengagitasi dan memimpin
gerakan perlawanan melawan penjajah.
Di kala pemimpin
perjuangan kemerdekaan lebih mengedepankan perjuangan fisik, ia tidak lupa
dengan kondisi masyarakat yang masih belum memiliki kesadaran intelektual
tinggi, yang tidak sekadar membutuhkan semangat perjuangan dari orasi pemimpin
perjuangan, tapi juga membutuhkan acuan perjuangan, panduan perjuangan,
penyemangat perjuangan dalam bentuk tertulis yang lebih tahan lama dan dapat
diwariskan dari orang ke orang lain, dari generasi ke generasi.
Namun semua yang
dilakukan Tan Malaka harus di bayar mahal, rezim berkuasa yang merasa terganggu
dan khawatir dengan pikiran-pikiran Tan Malaka dapat mengganggu stabilitas
nasional kemudian menenggelamkan dirinya dari pentas sejarah bangsa. Antipati
pemerintah terdahulu (Orde Baru) terhadap Tan Malaka agaknya karena
karya-karyanya banyak didasarkan pada paradigma berpikir Marxian, sedangkan
gagasan-gagasan itu relatif dekat dan bahkan menginspirasi komunisme,
stalinisme, leninisme. Hal tersebut menjadikan rezim berkuasa melarang
karya–karyanya dibaca kalangan umum dan menenggelamkan peranan dalam perjuangan
kemerdekaan.
Labels:
Tokoh dan Sejarah
Thanks for reading TAN MALAKA: Mengenal Tokoh Intelektual Perjuangan Sebelum Kemerdekaan. Please share...!




0 Comment for "TAN MALAKA: Mengenal Tokoh Intelektual Perjuangan Sebelum Kemerdekaan"