![]() |
| Ivan Illich, 4 September 1926, Vienna, Austria. meninggal (Umur 76), Tokoh Filsafat Pendidikan. |
Ada apa dengan sekolah dianggap dan diyakini sebagai sarana
satu-satunya dalam mencari ilmu pengetahuan? Mengapa sekolah yang jumlahnya
sedemikian menjamur dianggap sebagai jalan hidup bagi manusia modern? Mengapa
mereka yang tidak sekolah berarti mereka terbelakang? Benar bahwa pendidikan
merupakan upaya mulia dalam rangka memupus kebodohan dan memanusiakan manusia.
Benar pula Imanuel Kant ketika menyebut, manusia hanya dapat menjadi manusia
karena pendidikan.
Atas nama pembangunan dan perkembangan anak didik, benarkan
sekolah merupakan wahana tunggal? Bukankah sekolah telah bergeser dari
nilai-nilai keluhurannya tatkala ia menjadi ruang komoditi, pengetahuan
dikemas-kemas dan dijajakan? Bukankah sekolah telah jadi tempat
dehumanisasi—proses penurunan martabat manusia? Itu di antara kritik radikal
Ivan Illich (1926-2002) yang meyakini tujuan pendidikan secara ontologis telah
menjauh dari harapan.
Beberapa puluh tahun lalu, dunia pendidikan pernah
digemparkan dengan kehadiran seorang pemikir pendidikan revolusioner yang
pikiran-pikirannya dipenuhi dengan gagasan-gagasan meletup-letup lagi
mencengangkan. Dialah Ivan Illich, seorang pemikir besar kelahiran Wina tahun
1926, yang mempunyai latar belakang pendidikan teologi dan kemudian menjadi
seorang rohaniawan Katolik penuh kontroversi. Pikiran-pikirannya dapat
ditelusuri melalui beberapa karya yang telah ditulisnya. Penelusuran terhadap
karya-karyanya ini menjadi demikian penting bagi generasi-generasi sepeninggalnya
untuk secara arif menyikapi serta mengkritisi setiap gagasan yang
dicetuskannya. Penulis menganggap proses kreatif ini, dengan menyelami serta
mengkritisi, akan menemukan signifikansinya ketika dipahami dalam kerangka
historis pada waktu pemikiran Illich lahir dan kemudian dikontekstualisasikan
dalam masa sekarang.
Pemikiran yang akan disoroti dalam tulisan ini, adalah
pemikiran pendidikan Ivan Illich dalam buku kontroversialnya yang berjudul “Deschooling
Society”. Tentu saja penulis tidak akan terlalu jauh membahas setiap detil
gagasan Illich, disebabkan luasnya gagasan-gagasan yang telah ia tuangkan dalam
buku tersebut. Buku yang ditulis Illich dalam rangka mengkritisi praktek
kemapanan pendidikan yang selama beberapa tahun diselenggarakan oleh sekolah
ini, dianggap sangat berbahaya oleh beberapa pihak. Ia dianggap telah
menyadarkan masyarakat akan urgensi peninjauan ulang beberapa konsep yang
selama ini dianggap mapan oleh sebagian besar masyarakat. Ivan Illich memang
berbeda dengan beberapa pemikir pendidikan lainnya seperti Paulo Freire. Ivan
dianggap bukan sebagai pemikir yang memiliki massa (baca: pengikut) seperti
layaknya Freire. Pemikiran-pemikiran Freire diikuti oleh banyak orang
dikarenakan mempunyai target yang jelas, yaitu kaum tertindas (proletar dalam
bahasa Marx) yang termarjinalkan oleh praktek pendidikan yang memang tidak adil
lagi sangat menindas. Namun pemikiran Illich tetap penting dan, tentu saja,
tetap menarik untuk dikaji.
Ivan sulit memaafkan menyaksikan guru menjadi subyek aktif, dan
anak didik adalah obyek pasif yang penurut. Ivan tak sudi melihat pendidikan
akhirnya bersifat negatif di mana guru memberikan informasi yang harus ditelan,
serta wajib diingat dan dihafalkan. Profesor tamu di Gottingen dan Berlin,
Jerman, pada 1981 dan di akhir tahun 1982 pengajar di Berkeley, California,
Amerika Serikat, memang revolusioner. Dilahirkan di Wina pada tahun 1926, dia
tokoh pendidikan yang sangat kontroversial dengan ide-ide pembebasannya tentang
persekolahan, sehingga dikelompokkan sebagai pemikir “humanis radikal”.
Menurut Illich sistem
pendidikan yang baik dan membebaskan harus mempunyai tiga tujuan, yaitu: Satu, pendidikan
harus memberi kesempatan kepada semua orang untuk bebas dan mudah memperoleh
sumber belajar pada setiap saat. Kedua, pendidikan harus mengizinkan semua orang yang
ingin memberikan pengetahuan mereka kepada orang lain dengan mudah, demikian
pula bagi orang yang ingin mendapatkannya. Ketiga, menjamin tersedianya masukan umum yang
berkenaan dengan pendidikan.
Upaya membebaskan masyarakat dari kecenderungan menganggap
sekolah sebagai satu-satunya lembaga pendidikan, mau tidak mau, akan menghapus
perbedaan ekonomi, pendidikan, dan politik yang menjadi tumpuan stabilitas
tatanan dunia dan stabilitas banyak bangsa sekarang ini. Bangunan pendidikan
demokratis yang ditawarkannya: Demokrasi dalam memperoleh pendidikan; Demokrasi
dalam sistem pembelajaran; dan Demokrasi dalam pengembangan kurikulum.
Kasus Indonesia yang mungkin bisa dianggap relevan
dengan kritikan Illich adalah permasalahan yang saat ini masih digodok
oleh decision maker yang berkenaan dengan sertifikasi guru.
Dunia pendidikan Indonesia merupakan dunia problematis lagi kompleks.
Sebagaimana pernah dilaporkan dalam salah satu TV swasta bahwa guru yang telah benar-benar
memenuhi sertifikasi yang ditetapkan pemerintah hanyalah sekitar 31% (data per
Desember 2006). Dan membutuhkan waktu yang lama untuk bisa men”sertifikasi’kan
seluruh guru di negeri ini.
Memang realita yang ada di Indonesia berbeda dengan
realita yang dihadapi Illich pada waktu itu. Tesis Illich telah sampai pada
kesimpulan bahwa sekolah sebagai lembaga pendidikan telah menyebabkan langkanya
ketrampilan. Sebagaimana dinyatakan oleh Illich “….Skill teachers are
made scarce by the belief in the value of licenses. Certification constitutes a
form of market manipulation and is plausible only to a schooled mind. Most
teachers of arts and trades are less skillful, less inventive, and less
communicative than the best craftsmen and tradesmen….”Ada permasalahan
lain yang pada waktu itu belum sempat muncul. Penggalakan sertifikasi di
Indonesia, disamping membuat diskriminasi, disinyalir juga akan memunculkan
praktek jual beli gelar yang ilegal, program kuliah jarak jauh yang
mempersingkat waktu untuk mendapatkan gelar, serta program kuliah yang
berangkat dari logika semakin banyak uang semakin singkat waktu kuliah yang
bisa ditempuh. Sungguh sangat ironis melihat kenyataan seperti itu. Pendidikan
telah benar-benar direduksi dari makna mulia yang sebenarnya. Maka jangan
salahkan kalau kemudian lulusan yang dihasilkanpun tidak mempunyai ruh
pedagogis yang seharusnya dimiliki. Pendidikan kemudian kehilangan elanvitalnya.
Dunia pendidikan Indonesia bak lingkaran setan. Sementara pemerintah
meminta semua guru harus bersertifikasi dengan terlebih dahulu harus mengenyam
pendidikan tinggi, masyarakatpun mengeluh dengan semakin mahalnya biaya
pendidikan, terutama pendidikan tinggi. Di sisi lain, lembaga-lembaga
pendidikan tinggi “pemasok” guru bersertifikat (lembaga pendidikan tinggi yang
mempunyai jurusan keguruan), seringkali juga dikritik karena ketidakmampuannya
menyiapkan lulusan yang berkualifikasi dan kompeten di bidangnya. Lembaga
pendidikan tinggi ini dituding melahirkan lulusan yang setengah-setengah,
bahkan tidak pantas menjadi seorang guru. Lulusan bersertfikatpun ternyata juga
belum tentu memiliki kompetensi. Dan hal inilah yang perlu untuk segera
dibenahi. Lalu sebenarnya quo vadis pendidikan Indonesia?(WNS)
Labels:
Tokoh
Thanks for reading Bebas Dari Sekolah "Ivan Illich". Please share...!


0 Comment for "Bebas Dari Sekolah "Ivan Illich""