![]() |
| Proyek TOL Semarang-Solo |
Ifrasturuktur untuk siapa? Sebelum membahas ini terbesit dipikiran seharusnya ialah ifrastuktur seperti apa?
Kekinian saat ini, sering di dengungkan di telinga rakyat sejagat Indonesia tentang pembangunan Tol dan Trans Papua besar-besaran yang sekarang di fokuskan di luar pulau Jawa dengan kata lain berarti terjadi ekspansi,perluasan, perluasan untuk apa? Nanti dulu.
TOL=Tax on Location: yang pada artian TOL yang dimaksud pengendara yang menggunakan jalan tersebut akan dikenakan pajak.
Sejarah TOL, pembukaan jalan besar-besaran Anyer-Panarukan dilakukan oleh Belanda pada masa penjajahan yang berfungsi untuk: 1. Mengangkut hasil alam 2. Memudahkan mobilisasi pasukan-pasukan Belanda.
Indonesia memulai pembangunan TOL pada masa Orde Baru tahun 70an: Memulai pembangunan proyek TOL yang notabene merupakan model pemikiran yang ditawarkan oleh Kapitalis kepada Indonesia pada saat itu melalui pemberian pinjaman/BOT (Build Operate and Transfer) yang katanya bangun kelola dan alih milik tetapi saat ini kita masih membayar pajaknya tampa batas ambang yang diberikan.
TOL di bangun untuk mempercepat: pembangunan, pengangkutan hasil bumi, pendidikan, kesehatan. Jika fungsinya untuk melakukan hal diatas kenapa harus menggunakan TOL? Apakah tol merupakan tugas dari pemerintah dengan membebankan kepada rakyat? Sedangkan yang mengkelolah adalah pihak pemodal, dan sekali lagi apakah TOL menjadi solusi ketika TOL akan membentuk gaya hidup individualis bagi rakyatnya, dan pada jangka waktu tertentu TOL juga akan menjadi macet.
Kenapa macet? Karena TOL adalah bisnis dari gaya hidup tersebut, ketika iklan dari berbagai merek kenderaan bertaburan mulai dari sepeda motor dan mobil bermerek Toyota, Chevrolet, dll semakin masif iklannya tentunya akan semakin meningkat hasrat membeli masyarakat dan terakhir kita juga akan semakin memperpara polusi dan kebutuhan minyak yang melimpa dari Indonesia sehingga eksploitasi minyak bumi juga harus segera di perbanyak.
Saat ini, tidak jauh beda dari orde baru, MP3EI SBY, TOL-Trans Papua Jokowi masih saja menjadi produk infrastruktur andalan utama yang ditawarkan pemerintah untuk menjadi negara maju.
Tentunya pembangunan jalan untuk membuka dari sebuah ketertinggalan dan isolasi adalah menuju kemajuan seperti yang diterangkan di atas. Tetapi apakah TOL menjadi solusi?
Jika melihat dari kacamata sejarah dan perkembangan? Saat ini TOL adalah solusi yang kuno. Karena efek dari TOL tersebut sangat beranekaragam yang paling memperpara ialah gesekan antara pemerintah dan masyarakat ketika lahan-lahan produktif dan hutan hutan di gunduli untuk membuka jalan/pelepasan lahan yang rentan dengan pelanggaran HAM. Bukan itu saja mafia-mafia yang tidak tunduk dengan negara ataupun mungkin yang terlewatkan dari negara semakin mengembangkan sayap-sayapnya untuk melakukan ekspansi merebut lahan-lahan masyarakat setempat.
TOL bukanlah solusi terbaik, pembangunan angkutan massal/transportasi massal adalah hal yang lebih elegant yang dapat dilakukan pemerintah. Dari sisi efektifitasnya akan sangat banyak yang terbantu, mengurangi macet, mengurangi kebutuhan kederaan individu, mengurangi kebutuhan bahan bakar, mengurangi polusi, dan mungkin lainnya.
Ifrastruktur untuk siapa? Seharusnya untuk segenap rakyat Indonesia bukan segelintir orang-pemilik modal-corporation-eksploitasi, jika hal-hal ini masih menjadi hal yang utama pastinya Infrastruktur bukanlah milik rakyat Indonesia tetapi milik penjajah-penjajah dari dalam dan asing yang dengan bentuk berbeda sedang menjaja Neokolim negara ini dan kita memeliharanya.
.
Labels:
OPINI
Thanks for reading INFRASTRUKTUR UNTUK SIAPA? . Please share...!


0 Comment for "INFRASTRUKTUR UNTUK SIAPA? "