![]() |
| Gading S |
Hari ini, Pematangsiantar yang bernama asli Pamatangsiantar merayakan hari jadinya ke 148 tahun.Ya, sejak terbentuk pada tahun 24 April 1871 kota ini telah tumbuh pesat dan menghasilkan banyak peradaban-peradaban baru yang telah mengejawantah dalam kehidupan sehari-hari warganya.
Siantar, bagaimana ia sering disingkat memiliki luas 79 km2 dengan populasi saat ini 270.000 lebih jiwa warganya yang terdiri dari beragam suku etnis yakni ; Simalungun sebagai sipukka huta mendominasi 62%, diikuti Toba 18%, Jawa 14% dan sisanya suku lain termasuk etnis Tionghoa.
Tak cuma beragam dalam identitas, Siantar pun beragam dalam kehidupan beragama.
Kristen Protestan unggul 47% disini tipis 6 % diatas Islam.
Keragaman itu semua dapat terawat dengan baik sejak berdirinya kota ini, pun ditambal dengan berdirinya banyak pusat studi dan sinode dikota ini ; Kristen Protestan ada Sekolah Pendeta HKBP, Pentakosta, UHKBPN-P, Kantor Pusat GKPS, HKI, GKPI, HKIP dan lainnya. Katholik ada STFT Filsafat, Islam ada Sekolah Agama Islam Samora, Buddha ada patung agung Dewi Kwan-Im. Juga ada penamaan nama Jalan Gereja, Jalan Mesjid, Jalan Vihara, Kampung Keling, Kampung Kristen dan lainnya. Itulah sebagian kecil dari bukti betapa harmoninya kehidupan dikota warisan Kerajaan Siantar ini.
Tapi harmoni saja tidak cukup, karna Warga juga butuh peradaban baru. Khususnya segala sesuatu yang mengenai "hajat hidup orang banyak", lihatlah betapa stagnannya pertumbuhan ekonomi dikota ini, ditambah lagi kesemrawutan penanganan masalah-masalah sosial-ekonomi oleh pemerintah.
Masih segar dalam ingatan, bagaimana Nasib Tugu Sang Naualuh yang dilempar-lempar bagai bola Pingpong, bahkan ditambah statement Sekdanya yang mengatakan "Siantar diambang konflik Sosial" sungguh blunder memang, dimana seharusnya seorang pemimpin dapat menyuarakan pesan-pesan harmonis, optimisme dan membangun bukan malah menakut-nakuti dan berpotensi mengkotak-kotakkan. "Wajar lah pulak, dia kan ga orang sini jadi ga tau tentang itu" kata Ucok (26), pengangguran menyambi Preman dikotaku.
Pengabaian sejarah ini menjadi bisa jadi buah simalakama bagi siapapun yang memimpin, Siantar nyaris tak punya ikon yang bisa dibanggakan dan dapat berdaya jual (branded istilahnya) tinggi, ambil contoh Tugu Becak ? Birmingham Small Army atau Becak buatan Inggris masakan dijadikan puja-puja dikota ini? "Antara tidak punya nasionalisme dan tidak punya pilihan lain atau kreatifitas hampir mirip ya" ketus Opungku yang juga Pensiunan Kepala Dinas (Kadis) dikota ini.
Itu baru soal sejarah dan ikon, 2 hal yang sejatinya dapat saling berhubungan laksana kota Surabaya yang memiliki Ikon Sura dan Buaya (Hiu dan Buaya) yang saling berhubungan. Lihatlah betapa terkenalnya sejarah dan ikon mereka sampai-sampai masuk dalam mata pelajaran sejarah Sekolah Dasar (SD) suatu hal yang tidak akan kau dapati dengan Siantar.
Untuk mempersingkat tulisan ini, kita berlanjut ke masalah ekonomi kreatif dan ancaman kota mati.
Taukah anda, pemerintah sudah mencanangkan pembangunan tol keliling Danau toba, yang kuistilahkan dengan "the ring of fire."
Yap, dengan pembangunan tol nan hebat itu, wisatawan akan boleh menempuh perjalanan medan-keliling danau toba lebih cepat tanpa harus singgah melewati kota-kota kecil maupun besar seperti tebing dan siantar.
"Lantas, what's wrong with in ?" tanya Armada, seorang Mahasiswa yang kukenal aktif dalam dunia pergerakan padaku.
Ketika tol itu sudah jadi, semua mobil baik aangkutan massa, barang, pribadi pasti akan memilih jalur itu. Nah, ketika itu terjadi hampir bisa dipastikan tidak akan ada lagi orang yang ingin daerah toba boleh singgah dikota ini, dampaknya tentu berkurangnya volume orang dan kendaraan. Kalau dulu orang akan singgah beli roti ganda, belanja bunga ziarah ke pasar horas, belanja olah-oleh ke Ramayana. Setelah ada tol? Mereka tidak akan lagi lewat karna tol dirancang keluar kota didaerah gurilla tanpa lewat inti kota.
Lantas apa solusinya ? Ya, ekonomi kreatif yang selama ini digandrungkan pemerintahan Jokowi. Mencetak banyak anak Milennial sebagai pengusaha baru, tidak tergantung dengan pekerjaan pegawai. Juga memadukan SDM dan SDA dalam suatu produk yang unik dan memiliki daya tarik.
Ambil contoh kota Pekalongan, secara geografis orang tidak akan singgah melewati kota itu karna akan menambah jarak tempuh dijalur pantura, tapi dapat kita lihat kota itu tidak mati karna punya ekonomi kreatif dalam bentuk ; Batik.
Ya, banyak yang bilang batik khas Pekalongan lebih hebat dari Solo yang dijuluki kota batik. Itulah bagaimana cara mereka bertahan dari arus pembangunan dan peradaban yang baru dan teru-menerus berjalan. Lantas, bagaimana dengan Siantar?
(Gading S Kader GMKI Komisariat USI Fakultas Hukum)
Labels:
OPINI
Thanks for reading SIANTAR: EKONOMI KREATIF, SEJARAH DAN ACAMAN KOTA MATI. Please share...!


0 Comment for "SIANTAR: EKONOMI KREATIF, SEJARAH DAN ACAMAN KOTA MATI"