Pergunakanlah Waktu dan Tetap Berpengharapan


Badan Otorita Danau Toba (Apa Kabar Monaco Of Asia?)

gbr.danau toba "segempal tanah surga"

Dalam tajuk pengembangan dan peningkatan keperawisataan nasional yang di bumingkan oleh pemerintahan Indonesia masih jelas di ingatan kita terkhusus masyarakat yang ada di sumatera utara yang salah satu destinasi wisatanya masuk kedalamnya yaitu Danau Toba. Danau toba berada di 7 kabupaten dan salah satu maskot yang terkenalnya adalah pulau samosir, segempal tanah yang jatuh dari surga menurut kepercayaan mitologi batak dan disanalah asal usul orang batak di percaya. Secara sains danau toba terjadi akibat dari letusan gunung api (supervolcano) yang terjadi sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu, dan luasnya terbentang sepanjang 100 km dan lebar sekitar 30 km, menjadikan danau toba sebagai danau terbesar ke 2 di dunia dan danau terbesar pertama di asia tenggara.
Kembali kepada BODT dengan Monaco Of Asia  sebagai jalan baru kebijakan yang diambil dari pemerintah untuk untuk meningkatkan parawisatanya dan peningkatan pendapatan daerah dan negara melalui Tourist yang datang ketempat destinasi ini. Maka presiden mengeluarkan PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2016 TENTANG BADAN OTORITA PENGELOLA KAWASAN PARIWISATA DANAU TOBA. (http://www.mongabay.co.id/wp-content/uploads/2016/11/Perpres-soal-Badan-Otorita-Danau-Toba.pdf). Melalui tulisan ini, saya akan berusaha menampilkan bagaimana masyarakat Indonesia untuk melihat terkhusus orang batak, sebagai bentuk peraturan tentunya akan berusaha melindungi dan memudahkan dan ini yang terlihat dalam peraturan presiden no. 49 tahun 2016 ini, dimana jika kita lihat UUD pasal 4 ayat 1 dan UU no 10 tahun 2009 tentang keparawisataan yang merupakan salah satu dasar keluarnya peraturan presiden ini, terkhusus UU no 10 tentang keparawisataan dimana pada Bab III Prinsip Penyelenggaraan Keprawisataan  Pasal 5 point pertamanya berkata bahwa menjunjung tinggi norma agama dan nilai budaya sebagai pengejawantahan dari konsep hidup dalam keseimbangan hubungan antara manusia dan Tuhan Yang Maha Esa, hubungan antara manusia dan sesama manusia, dan hubungan manusia dan lingkungan.
Tetapi yang harus kita ketahui juga pada Peraturan presiden terkait BODT tersebut pada bagian dewan pengarah ada sekitar 13 menteri yang dimasukkan kedalamnya, dan yang harus kita ketahui juga  tidak ada tercantum menteri terkait dengan kebudayaan dan Agama. Ada apa? Jika dikatakan dewan pengarah seharusnya menurut saya ini harus ada, sesuai dengan namanya dewan pengarah untuk mengarakan mau di bawa kemana BODT ini, apa dampaknya kepada masyarakat segala sesuatu harus di prediksi oleh menteri ini. Tetapi apa yang sudah di sahkan menurut saya ini bukanlah dewan pengarah tapi adalah susunan kepanitiaan bagaimana untuk mensukseskan dan melancarkan dari BODT dengan proyek wisata nasional dengan nama Monaco Of Asia.  Karena menurut saya justru kedua menteri tadilah yang suharusnya duduk di bagian itu, agar terjadinya keseimbangan jika ada hal yang melanggar sesuai dengan asas keparawisataan yaitu menjaga norma budaya dan agama, bukan hanya untuk bagaimana hal nya membuat jalan ketempat wisata itu maka di butuhkan menteri perhubungan dan menteri pekerjaan umum. Jika demikian semua yang terkait dengan Monaco of asia adalah keperluan dari harga jual kepasar wisata saja, dengan menikmatinya tampa menghargainya.
Banyak dari sebagian pengamat yang mendukung dengan nama Monaco Of Asia sebagai judul dari proyek nasional ini, dengan berbagai argument yang berusaha memperkuat dan mendukung. Ada yang mengatakan Monaco of Asia akan belajar dari Bali, ada yang mengatakan Monaco of Asia bukan hal yang berbau judi ataupun kasino yang indentiknya. Memang semua ini masih pandangan  dan opini karena belum terjadi, kita hanya menerka-nerka saja, tetapi agar kita ketahui jangan katakan belajar kepada bali untuk menjaga kebudayaannya. Bali sendiri mengatakan dalam bukunya Yudhis M. Burhanuddin “Bali Yang Hilang” didalam buku ini menceritakan sesuai fakta yang tidak di tutupi sesungguh indentitas bali itu sudah hilang, hanya medialah yang selalu bercerita bahwa bali tersebut indentik dengan kebudayaan. Dan jika bercerita tentang Monaco kota wisata disana adalah kota kasino, tidak bisa di tutupi mereka dengan mengatakan balap F1 , atau lomba kapal pesiarnya itu hanya bagian dari sampul wisata saja di Monaco, nah dengan demikian orang batak sendiri sekarang harus mampu menyadari mau di bawa kemana Danau Toba ini, mau dibawa kemana??
     Dengan mengiyakan namanya dengan Monaco of Asia saya berpandangan bahwasanya pemerintah juga mengaminkan atas hilangnya Indentitas batak tersebut, hilangnya nama daerah yang ada di Indonesia sendiri sebagai bagian dari ibu pertiwi. Mengapa pemerintah sungguh sangat jauh pergi untuk meminjam dan membawa dari eropa ke ibu pertiwi dari nama “Monaco”?  jika dikatakan karena Monaco lebih dahulu terkenal, apa danau toba kurang di kenal dunia dengan Danau Terbesar di dunianya dengan keindahannya? Atau hanya untuk keperluan mengundang investor datang ke Indonesia? Semoga orang batak sadar dengan hal ini terkhususnya pemerintah Indonesia yang membawa roda ekonomi dengan modelnya sendiri.
Tetapi melalui perpektif yang didapatkan dari tulisan ini saya rasa masih sungguh jauh jika dikatakan proyek ini adalah untuk keperluan harkat hidup orang banyak jika di lihat dari kosep ekonominya, dan sebagai konsep indentitas maka masih menjurus kepada penghilang indentitas kebudayaan batak yang di dapatkan melalui BODT ini. Dengan demikian pemerintah jangan hanya memfokuskan diri dengan masalah pembangunannya, tetapi juga dampak pembangunannya, tetapi seharusnya dengan ciri khas yang ada di tempat itu sendirilah yang di kembangkan sebagai bentuk harga jualnya di pasar wisata. Agar apa yang ada di negara ini itu yang di kenal dunia, agar apa yang di nikamati atas ibu pertiwi melalui parawisatanya itu yang dijaga dan di rawat oleh wisata dengan mengenalnya. Karena jika dunia mengenal “Monaco Of Asia” nya, adalah pintu masuk yang merusak dari budaya batak sendiri yang ada di ibu pertiwi, jangan latih orang lain masuk ke Indonesia dengan mengenal yang bukan Indonesia. Biarlah Indonesia di kenal dunia dengan daerah dan kebudayaan yang ada di Indonesia sendiri.

“Danau toba Bonapasogit.” ( Danau Toba kampung halaman)
“Arga Do Bona Pinasa.” ( Kampung halam sangat berharga)

      Jangan jadikan ini bagian dari strategi untuk menghilang indentitas batak, yang mungkin juga cara terselubung untuk protap di lupakan. Kita dukung ke majuan parawisata, dengan mengutamakan kepentingan umum, tampa merusak kebudayaan dan nilai-nilai agama, Jaga Indentitas Negara!


Horas Batak...
Labels: OPINI

Thanks for reading Badan Otorita Danau Toba (Apa Kabar Monaco Of Asia?). Please share...!

0 Comment for "Badan Otorita Danau Toba (Apa Kabar Monaco Of Asia?)"

Back To Top