Melalui Dekrit Presiden Soekarno No.316 tahun 1959
menetapkan tanggal 22 Desember adalah
Hari Peringatan Ibu yang di rayakan secara Nasional. Di tanggal 22-25 Desember
yang ketika itu di Yogyakarta berkumpul para pejuangan perempuan dari berbagai
daera yang ada di jawa dan sumatera, untuk mengadakan kongres perempuan I
(pertama) dan ini merupakan tonggak dasar berdirinya organisasi pejuang
perempuan pertama di Indonesia.
Namun harus di ketahui juga sebelum kongres pertama
ini, sudah banyak sebelumnya lahir pejuang perempuan di Indonesia seperti, M.
Christina Tiahahu, Cut Mutiah, R. A Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, dan lain sebagainya. Menurut
kaca mata politik yang ada ini merupakan respon dari Soekarno untuk mengadakan
Kongres tersebut untuk menghargai perjuangan perempuan lainnya. karena memang
sebelumnya soekarno telah meresmikan hari kartini sebagai hari perempuan
nasional di bidang perjuangan pendidikan dan emansipasi perempuan, tapi yang
diketahui juga bahwa kartini hanya berjuangan di daerah jawa di jepara. Oleh karena
itu Sukarno menandatangani dekret ini sebagai bentuk penghargaan kepada kaum
perempuan yang berjuangan dan melahirkan pejuangan yang lahir di tanah
Indonesia.
Peringatan hari ibu kekinian, mungkin sedikit
bergeser dalam hal pemberian maknanya, seperti dengan pemberian kado,
ucapan-ucapan maaf dan pengenang atas kasih sayang yang di berikan beliau. Dengan
demikian seharusnya kita harus menyadari kembali bahwa peringatan ini bukan
hanya sekedar pengucapan dan pertunjukan yang menjadikan pasar ekonomi
kapitalis meningkat dengan ikut menyatu dengan hari-hari perayaan tersebut.
sehingga tidak sadar kita juga telah termasuk media yang mengiklankan dari hari
besar ibu tersebut menjadi media kapitalis masuk menjilir dalam sendi-sendi
kehidupan masyarakat dengan menawarkan berbagai prodak yang katanya merupakan
bagian pemberian makna dari hari ibu
tersebut.
Saatnya kita sebagai bangsa yang besar, masyarakat
yang berintelektual, kaum muda pembawa perubahan melihat realita yang ada pada
saat ini, menyepakati bersama bahwa hari ini adalah hari pernyataan dimana
harkat dan martabat dari perempuan dan laki-laki adalah sama, dan ini merupakan
bentuk nyata dari hari ibu yang indentik dengan perempuan. Di hari peringatan
ibu nasional ini, realita yang ada di Indonesia harus mampu kita teropong
kembali kepada data yang ada di lapangan angka kemiskinan sudah sampai dimana
apakah menurun atau semakin naik. Tidak ada lagi kekerasan kepada kaum
perempuan, Jika demikian biarkanlah melalui hari ibu ini kita dapat memberi apresiasi
terbaik kita kepada kaum ibu dan perempuan untuk berjuang bersama-sama.
Biarkanlah peringatan hari ibu nasional bukan
menjadi seremoni belaka yang jadinya di tunggaing oleh kaum kapitalis yang
menjadikan banyak pergeseran makna dari hari ibu tersebut mengarahkan kita
kepada hidup yang hedonis, konsumeris, yang mengatakan dengan hal demikianlah
kita menunjukkan bentuk kasih sayang dan penghargaan. Sesungguhnya ini adalah
hal yang salah biarkanlah peringatan hari ibu nasional ini menjadikan kita
sadar sebagai bangsa yang besar memiliki banyak pejuang perempuan yang tangguh
dan itu patut kita hargai, dan melalui penghargaan kita biarkanlah kembali kita
merenung dan menemukan maknanya dalam bentuk perjuangan kita bersama-sama untuk
Indonesia lebih baik dan tampa kekerasan dengan kesamaan harkat martabat setiap
gender.
Labels:
OPINI
Thanks for reading Sejarah Peringatan Hari Ibu Nasional ( HPI Kekinian). Please share...!


0 Comment for "Sejarah Peringatan Hari Ibu Nasional ( HPI Kekinian)"