Pergunakanlah Waktu dan Tetap Berpengharapan


ANTARA FEUERBACH DAN ATEIS

Ludwig Andreas von Feuerbach
Lahir : 28 Juli 1804, Landshut, Bavaria
Meninggal : 13 September 1872 (umur 68)
Rechenberg dekat Nurnberg, Kekaisaran Jerman
Aliran : Materialisme, Humanisme

Filsafat Feuerbach disebut orang juga naturalisme atau serba alam, sebab hidup alami (duniawi) merupakan dasar yang amat utama. Serbazat mula mula diperuntukkan bagi ilmu (terutama ilmu alam). Dari sini baru lahir dialektika materialisme atau sosiologi materialisme atau historis materialisme, yaitu filsafat yang dibangun oleh Marx & Engels. Feuerbach mula-mula penganut Hegel,yang menurut Feuerbach tumpuan terakhir rasional agama. Bagi Feuerbach, esensi agama adalah proyeksi sifat-sifat manusia. Menantang kepercayaan akan keabadian hidup, melakukan polemik dengan agama, menerangkan agama secara antropologi; manusia mencipta Tuhan menurut gambarannya sendiri, kepercayaan agama adalah hasil kebudayaan. Perlawanannya terhadap Hegel: pikiran ditentukan oleh wujud. Feuerbach berpegaruh besar atas perkembangan materialisme Marx. 

Cara berpikir Feuerbach telah menjadi titik pangkal bagi banyak bentuk ateisme. Beberapa kelemahan filsafat Feuerbach yang begitu berpengaruh. Pertama, Feuerbach mendasarkan teorinya pada ssuatu identifikasi yang tidak dapat diterima. Agama merupakan kesadaran dari ketakterhinggaan. Manusia mengalami ketakterhinggaan dari kesadarannya. Kesimpulan yang ditarik oleh Feuerbach adalah bahwa agama merupakan kesadaran dirinya sendiri. Kesimpulan ini terlalu cepat karena ketakterhinggaan yang dialami dalam kesadaran ketakterhinggaan yang dihormati dalam agama cukup berbeda. Manusia tidak berdoa pada keluasan pemikirannya. Kedua, Feuerbach memandang agama sebagai suatu monolog, suatu monolog di dalam subyek sendiri dengan perasaannya. Agama adalah suatu monolog dengan kesadaran yang tak terhingga. Cara berpikir Feuerbach sungguh subyektivitis. Segala sesuatu ditafsirkan sebagai sesuatu yang ada untuk saya.

Apa yang dikatakan oleh Allah, Surga, dan neraka itu sebetulnya perkataan manusia tentang dirinya sendiri. Isi-isi agama sebenarnya hanya realita manusia sendiri saja yang diproyeksikan kedalam surga.  Tetapi karena manusia sendiri tidak memahami bahwa agama itu sebenarnya hanya hakikatnya sendiri, maka dalam agama hakikat manusia diasingkan dirinya. Agama adalah tanda keterasingan manusia dari dirinya sendiri.

 Untuk keluar dari keterasingan itu, untuk mencapai hakikatnya sendiri yang sebenarnya, manusia harus meniadakan agama. Kita harus mengerti, masalahnya bukanlah tuhan yang maha kuasa, maha bijaksana, maha baik, maha murah hati, maha adil, melainkan manusia sendiri yang kuasa, bijaksana, baik, murah hati dan maha adil. Apabila manusia menemukan dirinya sendiri didalam agama, dia mengembalikan hakikatnya pada dirinya sendiri dan dengan demikian akhirnya menjadi manusia yang kaya, manusia yang betul-betul manusiawi. Manusia yang beragama buat Feuerbach adalah manusia yang miskin, karena ia telah melemparkan kekayaan kodratnya kedalam dunia angan-angan. Kekayaan hakikat manusia, dengan demikian, menghadapi manusia sebagai  mahluk yang asing, yakni sebagai Allah, dan dihadapan ia membungkuk. Penderitaan manusia adalah tempat kelahiran Allah, kata Feuerbach. Apabila manusia mengerti kenyataan itu dan menarik kembali agama kedalam dirinya sendiri, ia akan menjadi mahluk yang kaya dan sanggup untuk membangun suatu dunia persaudaraan yang baru.

             Bagian kritik Feuerbach yang paling berpengaruh ditatanan masyarakatsampai hari ini adalah kritik masalah agama. Pemikiran feurbach menurut saya sendiri sangat ateis sekali, menurutnya  diatas yang sangat bertentangan  adalah bukanlah tuhan yang maha kuasa, maha bijaksana, maha baik, maha murah hati, maha adil, melainkan manusia sendiri yang kuasa, bijaksana, baik, murah hatidan maha adil. Dan feuerbach menyatakan bukanlah tuhan yang menciptakan manusia, malah sebaliknya tuhan adalah ciptaan angan-angan manusia.  Allah, Malaikat, Surga, neraka tidak mempunyai kenyataan pada dirinya sendiri., melainkan hanya merupakan gambar-gambar yang dibentuk manusia tentang dirinya sendiri, cerminan isi hati manusia yang kemudian melemparkan, melalui daya hayal, kedalam surga angan-angan saja. Pemikiran Feuerbach diatas adalah seakan-akan manusialah yang  paling berkuasa di muka bumi ini dan tiada satupun yang setara dengan manuasia.

           Di atas Feuerbach hanya membicarakan manusia terasing pada dirinya sendiri karna adanya agama tapi ia tidak membicarakan tentang mengapa manusia sampai mengasingkan diri kedalam agama?  Feuerbach hanya menyebut keterasingan manusia dalam agama tanpa mempersoalkan mengapa sampai terjadi demikian.(WNS)


Labels: Tokoh

Thanks for reading ANTARA FEUERBACH DAN ATEIS. Please share...!

0 Comment for "ANTARA FEUERBACH DAN ATEIS"

Back To Top