Dewasa ini dunia pada umumnya dan Indonesia khususnya dilanda
gelombang kekerasan[1]
yang multi dimensional akibat praktik politik, ekonomi, agama, budaya, sosial,
hukum, ras dan sebagainya. Bagaimanapun, akibat langsung kekerasan adalah makin
memudarnya harkat dan nilai manusia baik terhadap diri sendiri maupun terhadap
sesamanya. Terjadi krisis kedirian manusia. Kekerasan telah menghancurkan
hubungan persaudaraan, bahkan kekerasan mengubah kehangatan dan kerukunan
menjadi dendam, sakit hati, perasaan tersingkir, saling mencurigai dan
hilangnya kesempatan hidup yang baik dimasa depan.
Kekerasan yang
mengatas namakan ajaran agama sudah terjadi sejak dahulu kala. Mulai dari dunia Perjanjian
Lama, Perjanjian Baru, abad-abad pertengahan hingga saat ini. Oleh karena itu,
penulis merasa tertarik untuk membahas kekerasan yang mengatas namakan ajaran
agama. Apabila ajaran agama dipelintir akan menimbulkan kekerasan.
Kitab Kejadian
Dalam bahsa Iberani, Kitab kejadian disebut Beresyit, ‘pada
mulanya’, yaitu kata pembuka kitab tersebut. Nama itu sangat sesuai mengingat
bahwa kitab Kejadian menceritakan awal dari segala sesuatu yang berhubungan
dengan iman umat Allah dalam Alkitab. Maksud utama kitab itu bersifat teologis,
pertama, hakikat dan dampak-dampak kenyataan bahwa Allah adalah pencipta;
kedua, akibat dosa yang mendalam; ketiga, cara Allah menjatuhkan hukuman atas
dosa manusia dalam segala hal; keempat, anugerah Allah yang mengherankan yang
memilihara ciptaan-Nya.[2]
Kitab kejadian itu
jelas terbagi menjadi dua bagian besar. Bagian pertama, yaitu bab 1-11
bercerita tentang umat manusia dari awalnya sampai tampilnya moyang Israel,
yaitu Abraham. Bagian kedua, yaitu bab 12-50 bercerita mengenai nenek moyang
bangsa Israel, Abraham, Ishak, Yakub beserta kedua belas anaknya, sampai mereka
pindah dan menetap di negeri Mesir.[3]
Bagian kedua kitab
Kejadian ini pada pokoknya sebuah “kisah keluarga”. Lebih tepat dikatakan kisah
sebuah “suku bangsa “ atau “marga”. Sebab menurut paham umat Israel dahulu,
sebuah “keluarga” lebih besar dari hanya suami-isteri, anak-anak cucu dan anak
cicit saja. Keluarga yang dikisahkan dalam Kej. 12-50 ialah keluarga yang
kemudian menjadi bangsa Israel dan umat Allah.
Dalam Kej 12-50
terdapat sejumlah ceritera disekitar Abraham serta anak-anaknya, sejumlah
ceritera yang menyangkut Ishak yang dianggap anak Abraham, dan sejumlah
ceritera mengenai Yakub yang dianggap anak Ishak, serta kedua belas anaknya,
yaitu mereka yang dipandang sebagai moyang masing-masing suku yang membentuk
bangsa Israel dikemudian hari.
Maksud sebenarnya
Kej 12-50 ialah memperlihatkan bahwa keluarga nenek-moyang bangsa Israel adalah
suatu keluarga pilihan Allah. Bertitik tolak kedalam bangsa Israel yang menurut
keyakinan penulis kisah itu adalah umat Allah yang terpilih, Kej 12-50 ingin
menandaskan bahwa pilihan Tuhan itu sejak awal mula menentukan hal-ihwal
nenek-moyang. Pra sejarah umat Allah memang merupakan persiapan untuk
sejarahnya yang terpimpin oleh Allah yang setia.[4]
Kejadian Pasal
34:1-31 merupakan pasal dari kitab kejadian bagian kedua. Pasal itu terdiri
dari nas-nas (Y dan E[5]).
Yang bercerita tentang Dina dan Sikhem. Dina, anak perempuan Yakub, diperkosa
oleh Sikhem, anak raja negeri Sikhem. Kakak-kakak Dina, yang mendengar
peristiwa itu, menjadi marah. Dengan tipu muslihat mereka dapat membunuh semua
orang laki-laki di kota Sikhem dan merampas semua harta benda dan wanita-wanita
orang Sikhem.[6]
Menurut Walter Lempp,[7]
bahwa ceritera Dina itu adalah sebuah ceritera-sejarah-suku yang mencerminkan
suatu bentrokan yang berdarah diantara suku-suku Simeon dan Lewi dengan
penduduk asli Sikhem. Dalam ceritera itu tidak disebutkan suatu tempat suci
suatu nama orang atau tempat, adat-istiadat,[8]
nama Allahpun tidak disebutkan sama sekali; melainkan ceritera itu berisikan
peringatan historis politis diantara Israel yang baru memasuki Palestina, dengan
penduduk Kanaan asli.
Injil Yohanes
Injil Yohanes
merupakan sumber yang berdiri sendiri, informasi yang ada di dalamnya
independen dari Injil-injil Sinoptik. Dari isinya dapat diketahui bahwa banyak
hal yang penting dalam Injil Yohanes yang melengkapi ketiga Injil Sinoptik.[9]
Kalaupun bahwa penulis Injil Yohanes itu mengenal salah satu dari ketiga Injil
lain, ia pasti tidak menggunakannya untuk mengubah karyanya sendiri.[10]
Injil Yohanes pernah dinggap sama dengan buku Helinistik, yaitu buku
yang dalam dalam hal pemikiran paling sejajar dan dekat dengan aliran Yudaisme
yang sudah di-Helinis-kan, dengan agama-agama rahasia dan bukan dengan
Filasafat Yunani. Sekarang ditemukan lagi bahwa pemikiran Yahudi benar-benar
melatar belakangi Injil ini.
Hal ini tentu
berarti bahwa pemikiran Injil Yohanes bersifat Yahudi, dan memang demikian
faktanya. Kendati hanya sedikit kutipan dari PL, tetapi kebanyakan pengertian
pokok dalam Injil Yohanes diambil dari PL (umpamanya Firman Hidup/kehidupan,
terang, gembala, Roh, dll) dan Yesus dilukiskan menggenapi nubuatan PL.[11]
Kendatipun terdapat
keutuhan formal dari karya ini, dengan pengamatan yang lebih cermat kita dapat
menemukan didalamnya berbagai sumber, yang memberikan bukti akan adanya
tindakan penyuntingan oleh pengarang Yohanes. Masalah ini masih merupakan
perdebatan diantara ahli.[12]
Ada dua bagian dalam Injil Yohanes yang alpa dalam naskah asli. Pertama, cerita
tentang perempuan yang berzinah (7:52-8:11). Peristiwa itu benar-benar terjadi
demikian dan dicatat di luar kitab-kitab Injil kanon, yang kemudian masuk dalam
beberapa naskah Injil Yohanes. Kedua, goncangan air (5:3b-4), yang alpa dalam
naskah-naskah terbaik.[13]
Tujuan penulisan
Injil Yohanes dinyatakan secara khusus agar para pembaca dapat percaya bahwa
Yesus adalah Anak Allah (Yoh 20:31), karena itu tidaklah mengherankan bila
ditemukan lebih banyak penekanan pada konsep Anak Allah daripada mengenai Anak
Manusia. Disamping itu, ada pernyataan Yesus mengenai diri-Nya dalam injil
Yohenes yaitu Yesus sebagai Terang dunia, (Yoh 8:12) yang khususnya dijelaskan
dalam pasal 9. Sekarang manusia dinyatakan dalam keadaan buta atau gulita, dan
yesus adalah satu-satunya yang dapat menyembuhkan kebutaan dan memberikan
terang kepada orang yang berjalan dalam kegelapan. [14]
Yohanes 8:4-7, ini
merupakan bagian dari Yohanes 7:1-8:59 yaitu mengenai sengketa dengan orang
Yahudi. Adapun latar belakang pertikaian:[15]
1.
Ada dua golongan dalam
masyarakat Yahudi yang menjadi “musuh” Yesus. Tokoh-okoh agama Yahudi
(orang-orang Farisi) mereasa bahwa Yesus menjadi pesaing dan mengancam
kedudukan/wibawa mereka didalam masyaraka, dan juga mereka menganggap bahwa
yang diajarkan Yesus adalah ajaran sempalan yang menyesatkan. Golongan kedua
adalah para penguasa (pimpinan politik), yang mengangap ajaran Yesus
bertentangan dengan ajaran resmi dan sering kali terkesan menentang tradisi
masyarakat yang sudah mapan, sehingga Yesus dianggap dapat menggoyahkan keadaan
masyarakat (instabilitas politik, sosial dan keamanan). Hal ini tentu akan
mengancam kedudukan para penguasa oleh rakyat yang terhasut oleh ajaran dan
sikap Yesus.
2.
karena itulah dua golongan
tersebut selalu mencari cara-cara yang sah menurut hukum yang berlaku, meskipun
dengan motif kepentingan masing-masing, untuk menangkap dan menghukum Yesus.
Mereka dapat berkomplot mencari alasan, cara dan waktu yang tepat untuk
mewujudkan rencananya.
Kata kunci :
Ø Sunat
Menyunat anak merupakan sebuah kebiasaan oleh orang
Israel. Sunat dihisabkan ke dalam ajaran Musa terkait dengan Paskah (Kel.12
:44), dan agaknya diteruskan sepanjang zaman Perjanjian Lama (mis, Yer 9:25,26).
Di dalam Kejadian 17 menunjukkan bahwa sunat
pertama-tama mewujudkan tanda rohani; kedua, mempunyai arti kebangsaan.
Kebangsaan yang dimaksud ialah yang mencirikan keanggotaan bangsa Israel. Dalam
pasal ini dikatakan bahwa Abraham dan seisi rumahnya disunat sebagai tanda
perjanjian dengan Tuhan. Dari sinilah asal mula sunat dan caranya sunat menjadi
adat Israel, bukan diterima di Mesir atau negri-negri lain. Sunat Israel
berbeda dengan sunat yang ada di bangsa lain, bangsa lain bersunat untuk
menunjukkan kedewasaan, sedang orang Israel bersunat sebagai pertanda kedudukan
di hadirat Allah, dan bahwa kasih karunia ilahi mendahului perbuatan manusia.
Hubungan ketaatan dengan sunat selalu ditekankan dalam
Alkitab. Dalam hal ini sunat mengandung gagasan penyerahan diri kepada Allah,
tetapi bukan inilah intinya. Sunat menjelmakan, menerapkan janji dan menghimbau
orang agar hidup dalam ketaatan sesuai dengan perjanjian dengan Allah. Darah
yang tumpah dalam sunat itu tidak menyatakan batas penyerahan diri itu, tetapi
mengungkapkan tuntutan yang mahal yang dibuat Allah bagi mereka yang
dipanggil-Nya, dan dicirikan dengan tanda perjanjian-Nya.[16]
Selain dari makna diatas khitanan menjadi suatu tanda keanggotaan dalam
persekutuan Yahweh.[17]
Hukum Taurat dan Tradisi Nenek Moyang
Taurat (תַּחַת “Tora”)
Ada perbedaan pendapat yang luas tentang asal usul kata tora,
tapi dapat dipastikan ada kaitanya dengan kata kerja hora yang berarti
memimpin, mengajar, mendidik dan di banyak tempat dapat diterjemahkan dengan
pengajaran. Kata-kata yang sejajar adalah mutsar, ‘petunjuk’; khokhma,
‘kebijaksanaan’; dan khususnya mitswa, ‘perintah’. Tapi kebanyakan
pengajaran itu berasal bukan dari manusia, melainkan dari Allah. Tora
diberikan oleh Allah, tapi melalui perantaraan manusia seperti Musa, para imam,
para nabi atau hamba Tuhan.
Sejak permulaan
istilah tora digunakan untuk menggambarkan ajaran mengenai suatu hal,
keputusan-keputusan yang diambil untuk memecahkan soal yang musykil.[18]
Menurut Alt, Hukum Taurat berfungsi secara negatif untuk mencegah
pelangaran-pelanggaran yang ekstrem, dan secara positif untuk membela hak-hak
asasi warga Israel.[19]
Sementara itu,
Tradisi nenek moyang merupakan bagian integral dari Taurat, sejauh ditularkan.
Hukum tertulis selalu disertai hukum lisan; yang dimaksudkan untuk menjelaskan
dan mengartikanya. Perlunya tradisi ini dituntut oleh hakikat dari Taurat
sendiri. Sebagai petunjuk mengenai ajaran dan praktek, Taurat harus disampaikan
kepada jemaat.[20]
Tafsiran Ayat
Kejadian 34:1-31
Dina, satu-satunya
anak perempuan dalam keluarga Yakup, suatu ketika pergi untuk bergaul dengan
perempuan di Sikhem. Di kota itulah Dina dilarikan dan diperkosa Sikhem, anak
Hemor, pemimpin negeri itu. Tetapi Sikhem jatuh cinta kepada Dina. Perbuatanya
yang salah itu ingin diperbaiki dengan meminang Dina.
Anak-anak Yakup
merasa terhina sekali dengan perbuatan Shikhem terhadap saudara perempuanya
itu. Mereka menuntut agar semua laki-laki di Sikhem di sunati dahulu, barulah
mereka mengizinkan Dina kawin dengan Sikhem. Sebetulnya itu suatu tipu muslihat
dari anak-anak Yakub, dimana setelah mereka disunat maka masuklah Simeon dan
Lewi kedalam kota Sikhem dan menyerang kota tesebut, ketika semua laki-laki di
sana tidak berdaya membela diri. Mereka membunuh semua laki-laki di kota itu,
perempuan-perempuan dan anak-anak dijadikan budak serta semua ternak dilarikan. [21]
Disini ajaran agam
telah dipelintir untuk tujuan politis tertentu, yakni menghancurkan lawan.
Dapat dibayangkan bagaimana orang yang setelah tiga hari disunat, berperang dan
mempertahankan diri dengan senjatanya. Selain itu, betapa agama sangat berperan
menjadi kekuatan yang sangat peka dalam menggalang dan menggerakkan massa guna
menghabisi lawan melalui tindakan yang sangat emosional, dan tidak lagi
mengindahkan keadilan. Agama tidak lagi dipakai untuk mensejahterakan manusia,
tetapi menjadi penghancur harkat manusia.
Yakub marah akan
tindakan anak-anaknya. Ia berupaya untuk menyadarkan anak-anaknya akan dampak
perbuatan mereka. Pernuatan anak-anaknya jelas menghalangi nama baik dan
eksistensi keluarga itu sebagai umat perjanjian. Tindakan Yakub tersebut
merupakan usaha untuk melawan kekerasan tanpa menggunakan kekerasan.[22]
Yohanes 8: 4-7
Seorang perempuan yang terdapat berzinah dihadapkan kepada Yesus
oleh orang-orang Farisi (suatu golongan para rabi Yahudi yang berpegang pada
hukum Taurat dan adat istiadat nenek moyang ) dan Ahli Taurat (penafsir dan
pengajar Taurat). Mereka minta supaya Yesus mau mengadili Perempuan itu.
Sebenarnya yang dilakukan para ahli Taurat dan Farisi tidak lepas dari strategi
mereka untuk menjebak Yesus dalam rangka menangkap dan menghukumNya secara sah
berdasarkan peraturan/hukum waktu itu.[23]
Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka
memperoleh sesuatu (alasan legal) untuk menyalahkan-Nya. Yesus dalam persoalan
ini ditempatkan dalam posisi delematis. Menurut hukum taurat (Im. 20:10; Ul.
22:34) perempuan yang berzinah harus dirajam[24]
publik sampai mati sebagai hukumanya. Seandainya Yesus menyatakan supaya
perempuan itu dibebaskan, maka Ia akan dianggap sebagai pelanggar Hukum taurat
dan ada alasan sah untuk ditahan. Dan sikap/pendirian seperti inilah yang
mereka tunggu-tunggu selama ini. Tetapi sebaliknya seandainya Yesus menyuruh
supaya perempuan itu dihukum rajam sesuai dengan ketentuan Taurat yang berlaku,
hal ini akan bertetangan dengan hati nurani Yesus sendiri sebagai mana yang Ia
tunjukkan dalam pelayananNya selama ini. Yesus sangat menghargai kehidupan. Ia
tak mau mengorbankan kehidupan atas nama hukum, sementara hukum dibuat untuk
kehidupan.[25]
Mereka mendesak Yesus untuk menyatakan pendirian-Nya, dan dengan
tegas Ia menyatakan siapa yang tidak berdosa supaya mempelopori pelaksanaan
hukum rajam itu. Sungguh mereka tidak menduga, dan karena mereka tidak siap
menjawab tantangan Yesus itu, satu persatu mereka meninggalkan tempat itu. Dan
tak sebuah batupun yang sempat terlempar. Suatu sikap Yesus yang brilian dan
arif untuk mematahkan serangan lawan tanpa kekerasan.[26]
Skopus
Agama yang
dipelentir membuat manusia bertindak kekerasan dengan brutal. Kasih dalam
penganpunanlah yang melepaskan manusia itu dari tindak kekerasan.
Muatan Teologi Tersirat
Terobosan Yesus Yang Menghidupkan
Melawan dosa tidak
hanya cukup dengan hukum. Hidup kita sebagai manusia-yang sering mengakui penuh
kelemahan-juga tidak akan berubah kalau tidak berhadapan dengan Allah. Justru
karena kelemahan manusiawi, maka manusia memerlukan ibadah. Manusia beragama
bukan untuk menyalahkan orang lain dan menonjolkan jasa biar dihormati.
Mempercayai Allah berarti bersedia memperbaharui diri, melihat kedepan untuk
membangun kehidupan yang lebih baik. karena itulah Yesus berkata, “pergilah
jangan berbuat dosa lagi”. Ia tidak menghukum karena untuk menghukum tidak
perlu Ia datang. Ia datang untuk mengampuni. Manusia membutuhkan pengampunanNya
setiap hari agar manusia mampu melangkah ke masa depan. Manusia membutuhkan
pengampunan untuk memperbaharui diri. Penghayatan manusia terhadap pengampunan
Allah tampak didalam keseriusan membenahi kehidupan.
Salah Kaprah
Kekerasan bukanlah
hal yang baru, melainkan sudah sejak dahulu kala dikenal dan masih terus
berlangsung sampai hari ini.
Satu hal lagi yang
menarik perhatian kita, bahwa banyak tindak kekerasan dewasa ini yang diwarnai
oleh masalah keagamaan. Mark Juergensmeyer,[27]
dalam karya menyatakan bahwa telah
bermunculan kelompok-kelompok garis keras (Fundamentalisme[28])
dalam berbagai agama besar didunia ini yang tidak segan-segan menggunakan
kekerasan guna mencapai meksud-maksudnya, dan selain itu mereka mencari
pembenaran teologis terhadap tindakanya. (Sama seperti apa yang telah dilakukan
oleh orang-orang Farisi dan Ahli Taurat dalam Yoh 8:4-7).
Penggunaan kekerasan (fisik) ditemukan baik
dikalangan penganut Kristen, Yahudi, Islam, Sikhisme-Hindu, maupun Budhisme.
Peristiwa-peristiwanya antara lain: Dikalangan Kristen umpamanya, Rev. Mike
Bray dan kawan-kawan, yang membom beberapa klinik aborsi dinegara-negara bagian
Amerika Serikat dan distrik Colombia. Dengan dalih memerang kegelapan dan
kejahatan.
Dikalangan Yahudi,
contohnya pandangan Rabi Meir Kahane, tokoh garis keras yang bercita-cita
menggusur semua orang asing, khususnya Arab dari tanah Israel. Dengan dalih
tidak mau lagi melihat bangsanya, orang-orang Yahudi di hina dan di tindas
lebih lama di tanah airnya sendiri. Dikalangan islam, Juergensmeyer mengangkat
tokoh Mahmod Abaouhalima dan pembom World Trade Center; Abdul Azis Rentisi dan
misi bunuh diri Hamas. Dikalangan Shikisme, Simranjit Singh dan
pembunuhan-pembunuhan di India. Dan akhirnya dikalangan Budhisme, tokoh yang
diangkat untuk dibicarakan adalah Takhesi Nakamura, yang berguru pada Shoko
asahara, dan serangan Gas Sarin Aum Shinrikyo dalam kereta Api bawah Tanah.[29]
Dari uraian singkat
diatas, kita dapat melihat bagimana agama dan kekerasan telah menyangkut
dirinya dalam aktivitas tindakan manusianya, malahan kekerasan dinilai dapat
menjadi alat yang efektif mendekati cita-citanya. Sejauh ini, kekerasan bukan lagi menjadi alat
yang digemari oleh kaum Ateis, melainkan telah juga menjadi alat permainan dari
tokoh-tokoh kelompok keras tertentu dari berbagai agama besar di dunia. Inilah
realitas yang sedang dihadapi dan mesti dihadapi oleh orang-orang yang prihatin
dengan perkembangan global akhir-akhir ini.
Edward
Schillebeeckx,[30]
teolog katolik yang berfikir Inklusif, ketika berbicara tentang kekerasan
agama, melihat ada dua jenis pondasi yang salah. Pondasi yang pertama
keliru adalah, klaim agama sebagai satu-satunya agama yang benar; dan kedua,
agama dianggap sebagai jaminan langsung kesejahteraan masyarakat manusia. Dalam
kesimpulanya, ia melihat bahwa pada dasarnya setiap manusia merindukan untuk diterima
tanpa syarat oleh orang lain: setiap individu ingin diterima apa adanya, tanpa
melihat apakah mereka hitam, putih, cacat atau asing. Sikap menghormati,
memaafkan, mencintai dan mempercayai mengangkat martabat seseorang. Oleh karena
itu, pada akhirnya kebudayaan yang manusiawi adalah kebudayaan yang cinta
kasih, kebudayaan yang tidak bisa semata-mata didasarkan kepada hukum atau
dijadikan produk hukum. Inilah pengajaran Injil Yesus Kristus, sumber kekuatan
yang tidak pernah kering bagi tindakan etis budaya manusia yang lebih
memperhatikan kemanusiaan bagi semua orang.
Kesimpulan
Kekerasan terjadi sepanjang sejarah manusia dan dapat dialami setiap
manusia. Kekerasan bisa dipacu oleh kekuasaan, dendam, kebencian, dll. Dewasa
ini, kekerasan bukan lagi menjadi alat yang digemari oleh kaum Ateis, melainkan
telah juga menjadi alat permainan dari tokoh-tokoh kelompok keras tertentu dari
berbagai Agama besar di dunia.
Kekerasan hanya
dapat diredam apabila setiap orang mau saling menerima apa adanya. Tanpa
membedakan Hitam atau putih. Kekerasan tidak boleh dilawan dengan kekerasan,
melainkan di lawan dengan kasih dan disikapi dengan arif dan bijaksana.
Aktualisasi pengajaran Yesus ditengah-tengah dunia ini merupakan alternatif
yang ampuh dalam melawan kekerasan tanpa kekerasan.(WNS)
Daftar Pustaka
Barclay, Willam Pemahaman Alkitab Setiap hari:
Yohanes Ps. 8-21,
Jakarta:
BPK-GM,1999
Blommendaal, J Pengantar kepada Perjanjian Lama,
Jakarta: BPK- GM,1990
Dofour, xavier lion Ensiklopedi
Perjanjian Baru, Yogyakarta: Kanisius,1990
Douglas,D, J Tafsiran
Alkitab Masa Kini jilid I,II, Jakarta:
YKBK/OMF, 2003
Drane John Memahami Perjanjian Baru, Jakarta :
BPK-GM, 2005
Groenen C Pengantar kedalam Perjanjian Baru, Yogyakarta:
Kanisius, 1984
Pengantar
kedalam Perjanjian Lama,Yogyakarta: Kanisius,
1989
Guthrie Donald Teologi Perjanjian Baru I, Jakarta: BPK-GM, 2003
Juergensmeyer, Ark (terj. M. Sadat
Ismail)
Teror Atas Nama Tuhan: Kebangkitan
Global
Kekerasan Agama, Jakarta-Magelang: Nizam
Press dan
Arima Publishing, 2002
Kuschel -Josef Karl Agama sebagai sumber kekerasan? Terj.
Imam Baehagie, Yokyakarta: Pustaka Pelajar,
2003
Lasor , W.S. Pengantar Perjanjian Lama, Jakarta: BPK-GM,
1994
Lempp Walter Tafsir Kejadian: Ps. 32:1-36:43, Jakarta: BPK-GM,
2000 Marxsen, Willi Pengantar
Perjanjian Baru: Pendekatan Kritis terhadap
Masalah-Masalahnya, Jakarta: BPK-GM, 2000
Redksi PT BPK-GM, Redaksi
Stop
Kekerasan!: Pemahaman Alkitab Tentang Nirkekerasan 1, Jakarta: BPK-GM,
2001
Vriezen, C Agama Israel Kuno, Jakarta: BPK-GM,
2003
[1] [1] Ada berbagai pengertian mengenai kekerasan, lihat Tomas Santoso,
ed, Teori-teori kekerasan (Jakarta: PT Galia Indonesia dan Universitas
Kristen Petra, 2002). Umpamanya, memilahnya menjadi tiga kelompok besar yaitu,
kekerasan sebagai tindakan aktor atau kelompok aktor; kekerasan sebagai dari
produk struktur, dan kekerasan sebagai jejaring antara aktor dengan struktur.
[5][5]Penulis sumber Y menitik-beratkan pemanggilan Israel untuk menjadi
bangsa (umat) Allah, dan janji Allah kepada mereka diteguhkan oleh AnugerahNya.
Sumber ini diperkirakan mungul dan ditulis kira-kira antara tahun 900-800
seb.Kr. di daerah selatan (Yehuda). Sumber E lahir di kerajaan Utara (Israel)
kira-kira antara tahun 800-700 seb.Kr. ketika sinkretisme Baalistis melanda
kehidupan Agama Israel. Sumber E menitik-beratkan pemanggilan Israel, tetapi
dalam pemanggolan itu israel diasingkan dari bangsa-bangsa lain. karena itu,
pandangan teologia E yang paling penting dan dominan ialah relasi yang khusus
antara Allah dan bangsa Israel.
[8][8] Hanya Martin North-lah yang mempertimbangkan ada tidaknya dalam Kej
34 ini tersembunyi sebuah ceritera sebab: “mereka mengambil Dina” (Wajjiqechu
dijnah) dapat juga diterjemahkan: “mereka mengambil hukuman (balasan) dari
rumah Sikhem” (bnd Yer 20:10 yang membaca: Weniqccha nqmatenu mimmennu= mari
kita mengambil balasan dari padanya) (lihat Noth Ue Gd.P, hal 94, cat.256).
kalau usul itu benar, maka Kej 34 juga merupakan suatu ceritera-sebab, yaitu
etimologi nama Dina dan pengesahan adat membalaskan perkosaan itu dengan
pembunuhan (bnd 2 Sam 13, dimana Absalom, sebagai abang, membalaskan
pemerkosaan saudarinya, Tamar. Dengan pembunuhan atas Amnon); tetapi pertanyaan
itu belum terjawab sekaligus.
[11][11] F.M Braun,‘L’ arriere-Fond Judaique du
Quatrieme Evangile et la Communaute de I’ Alliance’, RB 62, 5-44 dalam J,
D, Douglas, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, jilid 2, (Jakarta :
Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2003,) 611
[12][12] Willi Marxsen, Pengantar Perjanjian Baru: Pendekatan Kritis
terhadap masalah- masalahnya,(Jakarta: BPK-GM, 2000), 311
[13][13] E.C. Hoskeyns dan F.N Davey, 1947 dalam J, D, Douglas, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, jilid 2, (Jakarta : Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2003,)
611
[15] [15] Soetarman sp, kasus perempuan berzinh, dalam pemahaman Alkitab tentang
Nirkekerasan (Jakarta: BPK-GM, 2001),
44-45
[16] [16] P. Marcel, Biblical Doctrine of Infan Baptism, 1953, 82
Dalam J. D Douglas, Ensiklopedi
Alkitab Masa Kini, jilid 2, (Jakarta : Yayasan Komunikasi Bina
Kasih/OMF, 2003), 427
[18] [18] A. Alt, ‘The Origins of Israelite Law’,essays on Old Testament
History and religion, 1968, 101-171 dalam J, D, Douglas, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini,
jilid 2, (Jakarta : Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2003) 451
[22] [22] Adi Pidekso, Jika Agama Dipelintir, Kekerasan Berkembang dalam pemahaman Alkitab tentang
Nirkekerasan (Jakarta: BPK-GM, 2001),
1-4
[23] [23] Willam Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap hari: Yohanes Ps. 8-21
(Jakarta: BPK-GM, 1999). 1-2
[24] [24]Ibrani saqal,’melempari dengan batu’; ragam,artinya
‘mengumpul batu atau melemparkan batu’ (menurut kamus Koehler: menimbuni
seseorang dengan batu) (Im24:16; 1 Raj 12:18)= melempari seseorang sampai mati
dengan batu (Ul 13:10; 17:5); dalam TBI keduanya diterjemahkan sama; Yunani Katalithazo,
‘melempari dengan batu (dengan tidak kenal ampun)’, lithoboleo,’melempari
dengan batu’. Melempari dengan batu ialah cara orang Ibrani untuk melaksanakan
hukuman mati (Kel 19:13; Im 20:27; Luk 20:6 dst). Saksi penuduhan (hukum Taurat
meminta paling sedikit dua orang seperti itu) yang harus melemparkan batu
pertama (Ul 13:9; bnd Yoh 8:7).
[27] [27] Ark Juergensmeyer, Teror Atas Nama Tuhan: Kebangkitan Global
Kekerasan Agama,terj. Oleh M. Sadat Ismail (Jakarta-Magelang: Nizam Press
dan Arima Publishing,2002).280-282
[28] [28] Walaupun dalam sejarahnya Fundamentalisme lahir dalam kaitanya
dengan Protestanisme, namun saat ini fundamentalisme telah menjadi istilah yang
umum digunakan untuk merujuk pada gerakan revivalisme keagamaan diluar tradisi
protestan, seperti dalam Islam, Hindu, Budha, dll. Fundamentalisme telah
menjadi selogan politik untuk menyebut dan melegitimasi kelompok dan gerakan
keagamaan. Lihat. Mun’im A. Sirry, Militansi Agama: Iman dan Politik dalam
masyarakat modern,(Jakarta: Erlangga,2003) 3
[30] [30] Karl-Josef Kuschel, et al. Agama sebagai sumber kekerasan? Terj.
Imam Baehagie (Yokyakarta: Pustaka Pelajar, 2003). 243-251
Labels:
OPINI
Thanks for reading KEKERASAN (Tinjauan Biblika Terhadap Kekerasan yang Terjadi Atas Nama Agama Berdasarkan kej 34:1-31; Yoh 8: 4-7) . Please share...!


0 Comment for "KEKERASAN (Tinjauan Biblika Terhadap Kekerasan yang Terjadi Atas Nama Agama Berdasarkan kej 34:1-31; Yoh 8: 4-7) "