Pergunakanlah Waktu dan Tetap Berpengharapan


PENYALAHGUNAAN KEKUASAAN OLEH PENGUASA DAN IMPLIKASINYA DALAM KEHIDUPAN MASA KINI ( Pendekatan Teologis Terhadap Yesaya 3:15 dan Filipi 2:4 )


I.                   Pendahuluan
Kekuasaan acap kali disalahgunakan oleh orang yang ‘menganggap dirinya’ sebagai penguasa. Mereka yang disebut penguasa biasanya memakai kekuasaannya untuk kepentingan pribadi bukan untuk rakyatnya. Ketika mereka belum menjadi penguasa, mereka sangat pro terhadap masyarakat kelas bawah untuk menarik simpati. Bahkan mereka mengumbar janji akan memperhatikan orang-orang lemah yang kesulitan dalam memenuhi hidupnya ketika masa kampanye. Namun apa boleh buat jangankan memperhatikan penderitaan orang lemah, kebanyakan penguasa dalam hal ini pemerintah sering menindas rakyatnya sendiri. Orang miskin semakin dimiskinkan oleh sistem yang berlaku, sementara itu orang kaya merajelela memakai hartanya untuk menindas orang lemah sekaligus untuk menutupi kebenaran hukum. Karena itu Allah berfirman melalaui nabi Yesaya (Yes. 3:15) dan Rasul Paulus (Fil. 2:4) mengecam para penguasa yang menindas rakyatnya serta pemerintah yang hanya mementingkan dirinya sendiri bahkan berlaku menindas umatNya yang lemah dan tidak berdaya. Untuk lebih memahami sajian ini, maka penulis membuat sistematika penulisan sebagai berikut:
II.                Terminologi Kekuasaan
Dalam literer Indonesia kekuasaan berasal dari kata kuasa artinya: kemampuan atau kesanggupan untuk berbuat sesuatu (suatu kekuatan di luar kekuatan badan atau benda); kewenangan atas sesuatu atau menentukan (memerintah, mewakili, mengutus) sesuatu; orang yang diberi kewenangan untuk mengurus (mewakili); mampu, sanggup, kuat; pengaruh (gengsi, kesaktian) yang ada pada seseorang karena jabatannya. Jadi kekuasaan ialah kuasa (untuk mengurus, memerintah), kemampuan, kesanggupan, dan kekuatan.[1] Dan penyalahgunaan kekuasaan artinya hal perbuatan dengan memakai kekuatan (kuasa) secara tidak benar.
Secara Alkitabiah kekuasaan disebut otoritas (authority) yaitu suatu hal yang dapat menjamin suatu perintah atau suatu pernyataan ditaati dan diterima sebagai yang benar yang diciptakan oleh dan dari Kristus di bawah bimbingan Roh Kudus.[2] kebangkitanNya dan kematian sesungguhnya telah memateraikan kemenangan dan kemahakuasaan atas kuasa-kuasa maut dan dosa.[3]
Kata kuasa (kekuasaan) dalam PL dan PB cukup bervariasi:[4]
Dalam Perjanjian Lama:
1. Geruyah (power)     : kuasa, kekuatan (mis. Kuasa/kekuatan seorang pemerintah)
2. Geburah                  : Tuhan yang Mahakuasa
3. Gibborim                 : penguasa-penguasa
4. Gibbor                     : pahlawan perkasa
5 .Zebaoth                   : suatu kata untuk menunjukkan kuasa para penghuni sorgawi (mis. YHWH
  Zebaoth, Mzm. 102:21; 103:21)
6. Koah dan oz            : kuasa (kekuatan) Tuhan
7. Soltana                    : Suatu terjemahan dari kodeks Theodotin artinya kuasa, kekuatan Tuhan
  yang menggerakkan seluruh dunia. Otoritas dunia, manusia - para penguasa
  didelegasikan oleh Allah Tuhan bagi  sejarah.[5]
Dalam Perjanjian Baru
1. Dynamis      : disebutkan 118 kali dalam kitab PB artinya kekuatan, kuasa-kuasa, kemampuan
  untuk mencapai, kekuatan fisik dan pasukan, kekuatan bertempur dan kuasa politis.
  Dalam diri Yesus dynamis-Nya berasal dari pengurapanNya oleh Roh Kudus (Yes.
  39:2)
2. Exousia       : wibawa, pemerintah, kuasa. Dalam diri Yesus exousia-Nya berkaitan dengan
   misiNya yang ditentukan oleh Allah. Exousia adalah kekuatan potensial yang tidak
   bisa dipisahkan antara phisik dengan kekuatan alam rohani, serta dilakukan secara
   spontan.
3. Arkhai, arkhe: permulaan, pemimpin, wibawa dan penguasa
4. Kyriotetes   : berasal dari kata kyrios artinya tuan, kuasa-kuasa tertinggi

2.1   Latar belakang Kitab Yesaya dan kitab Filipi
Yesaya 3:15
Secara umum kitab Yesaya ada tiga bagian yaitu Proto Yesaya (1-39), Deutero-Yesaya (40-55), dan Trito-Yesaya (56-66). Proto Yesaya berasal dari seorang nabi yang bekerja pada masa raja Yotam, Ahaz dan Hizkia, jadi kira-kira tahun 740-960 BC. [6] Pasal 1-39 berasal dari zaman ketika Yehuda, Kerajaan Selatan diancam oleh Asyur, negara tetangga yang sangat kuat. Pemberitaan nabi Proto Yesaya berlangsung pada abad ke-8 BC pada akhir pemerintahan raja Uzia pada masa kejayaan Asyur di bawah Tiglath Pileser (745-727). [7] Dan secara umum pemberitaan nabi ini berakar dalam tradisi. Yesaya juga mengklaim bahwa semua yang diucapkannya itu merupakan tindakan Allah sendiri.
Yesaya menyadari bahwa yang sesungguhnya yang mengancam kehidupan Yehuda bukanlah kekuatan Asyur, tetapi dosa Yehuda sendiri, karena bangsa itu tidak taat dan kurang percaya kepada Allah. Baik dengan kata-kata, maupun dengan perbuatan, nabi Yesaya mendorong umat serta para pemimpin mereka untuk hidup menurut kehendak Allah dan berlaku adil.[8] Ia mengingatkan bahwa umat Allah akan celaka dan binasa kalau tidak mendengarkan Tuhan. Yesaya juga menubuatkan akan perdamaian dunia dan kedatangan seorang keturunan Daud yang akan menjadi raja yang dinanti dan diidam-idamankan.
Pasal 3:15 termasuk dalam nubuatan nabi Yesaya yang berasal pada tahun 746-724 BC yang merupakan kecaman kepada Yehuda - Israel Utara khususnya para penguasa.[9] Israel Utara memiliki letak yang sangat strategis untuk usaha komersial. Yehuda bisa melakukan perdagangan dengan bangsa lain seperti Arabia Selatan (Sebna dan Ofir) lewat jalur lautan. Hal ini menambah potensi dan kekayaan negara Israel Utara. Namun sangat disayangkan karena keadaan ini menimbulkan golongan pedagang yang kaya dan berpengaruh sekali pada pemerintahan Utara. Golongan kapitalis ini mempengaruhi para pemimpin dan pejabat, sehingga menimbulkan gejolak-gejolak sosial dan kemerosotan moral, jurang kesenjangan antara si kaya dan si miskin, pelecehan keadilan serta kebenaran. [10] Masyarakat menjadi tergolong-golong. Golongan utama ialah golongan pemerintah dimana seluruh keperluannya harus ditanggung rakyatnya. Kemudian golongan kedua ialah rakyat biasa yaitu para petani yang menjadi golongan terendah yang hidupnya semakin merosot. Di antara mereka telah ada yang kehilangan tanah miliknya karena telah milik orang kaya. Istilah hamba dan tuan mulai dikenal.
Allah yang telah menyatakan Israel sebagai kerajaan iman dan bangsa yang kudus (Kel.19:6) telah memutuskan perjanjian dengan umatNya. Hal ini nyata dalam keadaan sosial dan ekonomi; kekerasan hati dan egoisme yang tidak dapat disembunyikan lagi dalam kehidupan bangsa Israel.[11] Orang yang menuntut kekuasaan dan kekayaan menutup mata terhadap sesama manusia yang diperbudak dengan tidak memperdulikan penderitaan dan keluhan mereka. Tetapi Tuhan tidak menutup mataNya, melainkan Ia memperhatikan nasib orang yang teraniaya secara khusus.
Amos, Yesaya dan Mikha adalah nabi-nabi yang mengecam korupsi dan ketidakadilan yang terjadi dalam pemerintahan. Nabi Yesaya menjadi salah seorang nabi  yang berani, yang tidak takut menghadapi para penguasa. Ia dengan terus terang menyatakan kejahatan mereka. Hal ini bukanlah disebabkan keberanian mereka yang luar biasa, akan tetapi karena mereka sadar akan posisi mereka sebagai penyambung lidah bagi Tuhan.

Filipi 2:4
Jemaat di Filipi adalah jemaat pertama yang didirikan Paulus di Eropa. Filipi terletak di Makedonia, sebuah provinsi Kerajaan Roma. Surat Paulus kepada jemaat di Filipi ini ditulis ketika Paulus berada di penjara dan merupakan surat keenam dalam PB. Banyak penafsir PB berpendapat bahwa kota inilah tempat Paulus dipenjarakan, tempat ia menuliskan surat ini penyebutan istana dalam Filipi 1:13 dan ‘rumah tangga istana atau kaisar’ dapat saja dikenakan pada Efesus maupun ke Roma. Tetapi, memang tidak ada petunjuk jelas bahwa Paulus pernah dipenjarakan di Efesus atau di Roma.[12]
Hati Paulus pada saat itu cemas karena ada pekerja-pekerja Kristen yang menentangnya. Juga karena di dalam jemaat Filipi itu ada orang-orang yang mengajarkan ajaran-ajaran yang menyesatkan. Meskipun demikian surat Paulus ini bernada gembira dan penuh harapan. Paulus menulis surat ini karena pertama-tama ia mau mengucap terima kasih kepada jemaat di Filipi atas pemberian yang telah diterimanya (sumbangan finansial) dari mereka ketika ia berada dalam kesukaran (Fil. 4:15-20). Dan dalam kesempatan ini pula ia ingin memberi dorongan kepada mereka supaya mereka berani dan tabah dalam menghadapi kesukaran. Ia minta dengan sangat supaya mereka rendah hati sama seperti Yesus, dan tidak dikuasai oleh perasaan angkuh dan mementingkan diri sendiri. Ia mengingatkan mereka bahwa hanya karena rahmat Allah sajalah, Allah membuat mereka bersatu dengan Kristus berdasarkan kepercayaan mereka kepadaNya, bukan karena mereka taat menjalankan upacara-upacara agama yang ditentukan dalam hukum agama Yahudi. Ciri khas dari surat ini ialah tekanannya pada kegembiraan, keteguhan hati, kesatuan, dan ketabahan orang kristen dalam mepertahankan percayanya kepada Kristus dan menjalani hidup sebagai orang kristen. Surat ini menunjukkan juga betapa cintanya Paulus kepada jemaat di Filipi itu.
Filipi 2:4 merupakan bagian dari pasal 1:27 – 2:18 yang berbicara tentang Kehidupan orang Kristen. Namun Pasal 2 :1-4 adalah seruan untuk kesatuan melalui merendahkan diri pribadi. Paulus membicarakan tentang kebutuhan akan kesatuan yang lebih besar dan persekutuan yangm lebih kuat dalam gereja Filipi, dan untuk seruannya itu ia mengemukakan 4 alasan: Pertama, Dalam Kristus ada segala nasehat menuju kesatuan oleh karena itu perpecahan adalah penolakan terhadap kehendak dan tujuan Kristus; Kedua, Mereka yang telah mengenal berkat kasih wajib mewujudkannya terhadap orang lain tanpa batas atau pandang bulu (bnd.1 Yoh.4:7-12); Ketiga, Semua orang percaya memiliki roh yang sama, justru wajib bersama-sama menjadi satu; Keempat, Pengetahuan tentang belas kasihan Allah harus mendorong mereka untuk menyatakannya kepada orang lain dalam kasih mesra dan belas kasihan.[13]

3.2 Tafsiran Yesaya 3: 15 dan Filipi 2:4
Yesaya 3:15
Menurut tradisi, Yehuda telah dibagi dalam suku-suku yang dipimpin oleh para tua-tua. Para pemimpin itu dibagi dalam para pejabat dan para pemimpin perang. Mereka bersama-sama bertanggungjawab kepada rakyatnya. Akan tetapi dalam kenyataannya, mereka bukan mengayomi rakyat, melainkan mereka telah menjarah kebun anggur Tuhan, yang menjadi simbol dari tanah parjanjian itu (Yehuda, bnd. Hos.10:1; Yer.12:10). Mereka telah menimbun hasil kebun itu (minyaknya) di rumah-rumah mereka sendiri. Dengan demikian, para pemimpin telah menyalahgunakan kedudukan dan wewenang mereka untuk memperkaya diri sendiri dengan mengorbankan orang-orang yang miskin (ay.14, bnd. Am.3:10).
Dalam bahasa aslinya, ada suatu keraguan apakah pernyataan di ayat 15 ini berasal dari Allah ataukah dari nabi itu sendiri. Bila disesuaikan dengan teks Masora, kata נאם־אדני יהוה צבאות  berarti Ne’um-Adonai YHWH Zebaoth. Keraguan tersebut tidak dapat diterima. Dalam ayat 14 dan 15 secara khusus dapat diketahui bahwa apa yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya pada masa itu adalah merupakan nubutan yang berasal dari Tuhan Allah. Nabi Yesaya yang menjadi penyampai nubuatan itu kepada bangsa Israel yang tidak lagi mengindahkan hukum-hukum Allah. Bila memang ayat tersebut bukanlah perkataan yang berasal dari Allah, maka tidak akan jelas siapa yang dimaksudkan di ayat 15 sebagai umat. Yesaya 3:15 dapat dipahami dengan memperhatikan beberapa kata penting seperti:
1. Dakha dalam LXX disebut dengan tapeinoun, berarti merendahkan. Dalam PL juga kata ini sering diparalelkan dengan istilah ani, oni ( עָנִי, עֳנִי ), artinya orang-orang yang menderita, orang yang miskin, atau orang yang tertindas (lih. Ul. 24:15; Yes. 49:13,. Zef. 3:12); atau sama dengan kata evyon ( אֶבְיוֹן ), artinya orang (fakir) miskin atau orang yang berkekurangan (mis. Ul. 15:4; Mzm. 74:21).[14]. Kata dakha umumnya digunakan dalam kitab nabi-nabi sebagai pernyataan penghancuran terhadap musuh-musuh Israel. Namun dalam kitab Yesaya khususnya pasal 3:15, kata ini diartikan sebagai “para pemimpin yang menumpas rakyatnya seperti menumpas musuh-musuh.”. Pemerintah dan orang kaya lainnya memberlakukan atau menumpas rakyat jelata bagaikan menggerinda dan menindas kaum miskin seperti menggiling. [15] Umat Allah sebagai yang adalah kaum lemah itu mengalami pemerasan di bidang ekonomi, sosial dan hukum yang telah menyimpang dan menjadi wujud dari pembunuhan (peniadaan) keadilan.
2. Kata  ani, oni ( עָנִי, עֳנִי ) yang berarti orang-orang tertindas. Sebuah kata yang terutama ditujukan kepada orang-orang yang status sosial dan ekonominya berada di bawah. Tetapi kata ini juga sering diartikan sebagai “umat Allah”, yang dipanngil Allah untuk dibebaskan dan dilepaskan. Sebenarnya tekanan dalam ayat 15 ialah penghancuran dan penindasan yang dilakukan oleh penguasa dan orang-orang kaya terhadap orang-orang yang tidak berpengharapan (orang miskin). Orang tertindas diberlakukan seperti cagar alam milik penguasa yang biasa dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi penguasa. [16]
Duhm [17] menafsirkan ayat ini dengan, “kamu menindas orang-orang yang tanpa pengharapan seperti batu gerinda, dengan memakai kuasamu dan perang-perangan sah serta dengan undang-undangmu”. Padahal Raja, para tua-tua serta para pangeran bertanggung jawab “untuk membantu yang orang lemah/miskin dan menghukum para penindas. Seperti buah-buah anggur dalam apitan anggur, umat yang miskin itu ditindas dan diinjak-injak (digiling hancur); sedangkan orang-orang miskin itu disebut juga “umat-Ku”(ay.15). Menindas orang-orang miskin dan lemah di masyarakat merupakan pelanggaran terhadap hukum perjanjian Allah. Hal itu mendatangkan murka Tuhan. Betapa besar tanggung jawab para pemimpin di tengah masyarakat dan negara. Penindasan terhadap orang miskin dan lemah tampaknya mempunyai akar yang dalam di tengah masyarakat dalam banyak macam cara dan bentuk, baik pada zaman kuno maupun zaman modern.[18] Kaum miskin dalam ayat 15 ini mengandung makna:[19]
1.      Sebagai orang-orang yang tertindas atau tertekan. Para nabi Israel telah menyerukan beberapa pernyataan keras kepada para penindas dengan mengatakan “barang-barang rampasan yang adalah milik kaum tertindas berada di rumahmu” (Yes.3:14f) dan “pada pakaianmu terdapat darah kehidupan dari ketidakbersalahan kaum miskin” (Yer.2:34). Nabi Amos dan Zakaria juga menyerukan hal yang sama tentang kaum miskin. Para nabi tersebut mengatakannya bukan hanya untuk menjaga kekudusan ibadah yang telah rusak dalam hidup bangsa Israel, tetapi juga karena mereka telah mengesampingkan perkara-perkara kaum tertindas.
2.      Sebagai umat Tuhan . Orang-orang yang tertindas yang menantikan keadilan Tuhan untuk perkara-perkara mereka dan untuk mempertahankan keberadaan mereka ketika ditindas, dipandang sebagai orang-orang benar pilihan Tuhan. (Mzm 14:5f; Yes.3:15; 14:32).
Persamaannya, orang-orang yang tertindas yang adalah umat Tuhan diidentikkan dengan”miskin”yang menantikan pemulihan nama baik mereka dari Tuhan (Mzm.37:14; 74:19; Hab.3:13f). Faktanya, orang-orang yang membutuhkan menjadi suatu petunjuk dari umat Tuhan yang percaya kepada-Nya untuk membebaskan mereka dari semua masalah. (Mzm.40:17; 70:5; 74:21; 86:1).

Filipi 2:4[20]
Pada ayat 4 Paulus melanjutkan apa yang ia katakan dalam ayat 3: “dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingan-kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga[21]”. Paulus mengatakan bahwa kepentingan sendiri sama sekali tidak boleh menjadi tujuan usaha dan pekerjaan anggota-anggota jemaat. Kepentingan orang lain juga harus diperhatikan. Mereka belum boleh puas jikalau egoisme telah mereka musnahkan. Memusnahkan egosime belum memenuhi tuntutan kerendahan hati. Tuntunan ini baru dapat dipenuhi, kalau anggota-anggota jemaat tidak melayani diri sendiri saja, tetapi melayani juga orang lain. Mencari kepentingan sendiri dan kesombongan (ay.3) adalah pasti musuh dari persekutuan dan penghalang bagi kesatuan. Ada dua jalan praktis untuk mengatasi itu, yakni[22]: Pertama, mereka harus menganggap yang lain lebih utama ketimbang diri mereka sendiri, dengan melihat kemampuan dan karunia-karunia yang ada pada orang lain itu, sambil menyadari kelemahan, kegagalan dan keterbatasan diri mereka sendiri (bnd. Rom. 12:10), artinya menetapkan/meletakkan orang lain di atas diri sendiri, menaruh rasa hormat satu dengan yang lain, mengutamakan orang lain lebih dari diri sendiri. Jika ketiga hal ini sudah dilakukan maka, akan terwujud kesatuan dalam jemaat.[23]
 Kedua, mereka harus membiasakan diri untuk berpikir dan berbicara mengenai kepentingan orang lain, jangan hanya kepentingan pribadi (bnd. Rm. 15:2-3; 1 Kor. 10:24,33; Gal. 6:2). Bagi Paulus konsep “berpikir” adalah dasar bagi perkataan dan perbuatan, dan memberi arah pada jalan hidup (bnd. 2:5; 3:15; 4:8). Kata mencari kepentingan sendiri (Yun. eritheia) menunjukkan sikap mencari kepentingan diri sendiri, ambisi pribadi, golonganisme. Salah satu syarat supaya dapat memperhatikan kepentingan orang lain ialah merendahkan diri yang merupakan kebajikan yang diajarkan oleh Yesus Kristus sendiri dan sebagai cara untuk meninggikan Tuhan. Kata tiap-tiap dalam perikop ini sama artinya dengan “masing-masing kelompok”, dengan demikian menunjuk pada golongan-golongan. Atau mungkin saja kata itu berarti “masing-masing dan semua”.

IV. Implikasi Masa Kini
Situasi kehidupan umat Tuhan pada masa kini tidak jauh berbeda dengan situasi kehidupan yang dirasakan oleh umat Tuhan pada masa PL dan PB. Secara khusus bila dilihat dari sikap dan perbuatan para penguasa terhadap rakyat jelata. Para penguasa yang dipilih dan dipercayakan oleh rakyat tidak menjalankan tugasnya dengan benar untuk mengayomi setiap rakyatnya. Kebanyakan pemerintah (penguasa) tidak bisa mewujudkan harapan rakyatnya yaitu mencapai ketentraman dan kesejahteraan hidup, sebab para penguasa sengaja lupa atau tidak memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan rakyatnya. Para penguasa yang biasanya disebut pengayom, kini menjadi pemeras dan pencari keuntungan pribadi. Biaya yang telah dianggarkan oleh negara untuk membantu orang-orang miskin telah dibuat menjadi anggaran pribadi para pemiliki kekuasaan. Para penguasa menyalahgunakan kekuasaan yang diberikan kepadanya hanya untuk memuaskan diri dan anggota keluarganya. Hal seperti inilah yang disoroti oleh Allah melalui hambaNya nabi Yesaya. Dan secara khusus Paulus dalam suratnya ke jemaat Filipi yang mengingatkan kepada setiap orang yang mengaku dirinya sebagai pengikut ajaran Kristus mulai dari umat biasa maupun golongan penguasa supaya jangan hanya memperhatikan kepentingan pribadinya namun juga kepentingan orang lain. Orang lain yang dimaksudkan disini ialah orang-orang yang tidak mampu hidup karena keadaan ekonomi yang tidak baik, karena tidak mendapatkan keadilan dan kebenaran, karena dianggap sebagai golongan inferior.
Sudah sepantasnya para penguasa (pemerintah) memakai kuasa yang diberikan TUHAN padanya dengan penuh hikmat, yaitu hikmat untuk peduli terhadap rakyatnya terutama golongan miskin dan papa. Tetapi ternyata dapat disimpulkan bahwa sejak dahulu hingga sekarang banyak penguasa yang berkuasa secara diktator dalam memerintah sebut saja pemerintahan Nazi Hitler di Jerman atau di Indonesia pada rezim Soeharto. Di Korea sendiri juga berlangsung kediktatoran penguasa dengan menindas rakyat yang lemah. Biasanya pemerintah yang bersifat diktator sangat ditakuti oleh rakyat dan tidak bisa melakukan aksi protes sebab akan ditangkap, disiksa bahkan dibunuh. Namun ada satu dasar yang menjadi penuntun bagi rakyat terhadap perlakukan penguasa yang diktator, yaitu perjuangan rakyat Minjung di Korea. Minjung dapat dikatakan adalah golongan masyarakat Korea yang tidak memiliki identitas, siapa mereka di negaranya sendiri. Mereka sama sekali tidak punya harta untuk diandalkan, mereka hanya sebagai kelompok petani yang terus mendapat pemerasan dari penguasa. Akhirnya mereka berusaha untuk ke luar dari kuasa pemerintahan diktator dengan melakukan aksi perjuangan melalui karya seni untuk mengkritik penguasa yang selalu menyengsarakan rakyat miskin. Mereka menyalurkan aksi protes melalui tari topeng. Akhirnya aksi mereka ini mendapat respon dari pemerintah.
Dari peritiwa orang-orang Minjung suatu teologi dimana mereka mengatakan bahwa Yesus adalah juga orang Minjung karena Yesus tidak punya apa pun atau selalu bergambung dengan orang miskin meskipun Ia adalah Raja utusan Allah Bapa. Dalam cerita Alkitab bahwa Yesus memberi keselamatan dan kelepasan dari segala penindasan dan siksa. Karena itu, mereka menyimpulkan bahwa jika Yesus adalah seoranmg Minjung, itu berarti bahwa oknum yang bisa melespkan mereka dari kediktaoran penguasa ialah orang Minjung itu sendiri. Konsep ini ingin menekankan bahwa rakyat yang tertindas itu sendirilah yang harus berusaha agar dapat lepas dari penguasa yang menyalahgunakan kekuasaannya dengan menidas atau tida memperhatikan orang-orang lemah. Dengan cara antara orang Minjung harus saling memperhatikan satu dengan yang lain. Teori ini sangat faktual dengan perkataan Paulus pada jemaat Filipi 2:4, “Hendaklah setiap orang (dalam hal ini para rakyat) tidak hanya memperhatikan kepentingan sendiri tetapi juga kepentingan orang lain”. Artinya bahwa setiap orang harus saling memperhatikan dan membangun supaya dapat menumpas para penguasa yang tidak berlaku adil dan berkuasa sewenang-wenang. Sebab tanpa kesatuan dari rakyat sendiri, tidak akan mungkin dapat menumbangkan pemerintahan yang diktator yang tidak memperhatikan rakyatnya malah menindas rakyatnya sendiri.

V. Kesimpulan
Kaum miskin dan terindas menurut perspektif Yesaya dan Paulus adalah golongan dalam masyarakat akibat kesewenang-wenangan para penguasa dan pemimpin yang telah berakar dari waktu ke waktu. Kaum miskin dan tertindas tersebut menjadi orang-orang yang dikesampingkan. Para penguasa dan pemimpin melihat mereka sebagai sapi perah atau cagar alam yang dapat dimanfaatkan tenaganya untuk kepentingan pribadi. Mereka secara umum diperlakukan seperti tidak rakyatnya sebab pemerintah memeras mereka dengan membuat biaya pajak yang tinggi. Sementara itu juga harga jual dari apa yang dihasilkan oleh para kaum miskin ini dari ladanganya jatuh harga oleh golongan orang kaya. Jadi dari seluruh segi kehidupan orang miskin mendapat tekanan.
Pada situasi sekarang orang miskin dan tertindas sering disamakan dengan kaum buruh dan para petani. Dan pemerintah sering mengabaikan keberdaan mereka. Pengabaian terhadap eksistensi mereka ini adalah salah satu bentuk kekerasan yang harus diperhatikan oleh setiap orang. Sebab mereka juga adalah ciptaan Tuhan yang harus diperhatikan oleh manusia laninnya yang berkecukupan. Pemerintah dan penguasa sudah sepantasnya mendasarkan sistem kepemimpianannya pada kasih dan kerendahn hati. Mereka sebagai pemerintah harus melayani rakyatnya, sebagai prinsip dalam ajaran Yesus bahwa Ia datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani.(WNS)

DAFTAR PUSTAKA


Abineno, J.L. Ch.
1989                            Tafsiran Alkitab Surat Filipi, Jakarta: BPK-GM
Bloomendaal, J.
2006                            Pengantar Kepada Perjanjian Lama, Jakarta: BPK-GM
Bromiley, G.W (Ed.)
1986                            The International Standard Bible Encyclopedia Vol. 3, Grand Rapids Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company
Brown, Colin (Ed.),
1976                            The New International Dictionary of New Testament Theology Vol. 2, Exeter Devon: The Paternoster Press
Browning, W.R.F.
2007                            Kamus Alkitab: Panduan Dasar Ke Dalam Kitab-Kitab, Tema, Tempat, Tokoh, dan Istilah Alkitabiah, Jakarta: BPK-GM
Groenen, C.
1992                            Pengantar ke dalam Perjanjian Lama, Yogyakarta: Kanisius

Haw Thorne, Gerald F.
1983                            Word Biblical Commentary, Waco Texas: Word Books Publishers
Lembaga Alkitab Indonesia
1986                            Kabar Baik: Alkitab dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari, Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia
Leon, Xavier – Dufour.
1990                            Ensiklopedi Perjanjian Baru, Yogyakarta: Kanisius

Oswalt, John N.
1986                            The New International Commentary on the Old Testament, Grand Rapids Michigan: WMB. Eerdmans Publishing Company
O’collins, G. & Farrugia, E.G.
2000                            Kamus Teologi, Yogyakarta: Kanisius
Poerwadarminta, W.J.S.
1982                            Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: PN Balai Pustaka

Rad, Gerhard von.
1965                            Old Testament Theology, New York: Harpers & Row Publishers

Soedarmo (Penterjemah)
1983                            Tafsiran Alkitab Masa Kini Vol.3, Jakarta: BPK Gunung Mulia
Widyapranawa, S.H.
2006                            Tafsiran Alkitab Kitab Yesaya Pasal 1-39, Jakarta:  BPK-GM
Watts, John D.W.
1985                            Word Biblical Commentary Vol. 24, Waco Texas: Word Books Publishers









[1] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta, PN Balai Pustaka, 1982), hlm. 528
[2] G. O’collins & E.G. Farrugia, Kamus Teologi, (Yogyakarta, Kanisius, 2000), hlm. 224.
[3] Xavier Leon – Dufour, Ensiklopedi Perjanjian Baru, (Yogyakarta, Kanisius, 1990), hlm. 349
[4] Colin Brown (Ed.), The New International Dictionary of New Testament Theology Vol. 2, (Exeter Devon, The Paternoster Press, 1976), hlm. 602-603.
[5] Ibid, hlm. 607
[6] J. Bloomendaal, Pengantar Kepada Perjanjian Lama, (Jakarta, BPK-GM, 2006), hlm. 108
[7] Gerhard von Rad, Old Testament Theology, (New York: Harpers & Row Publishers, 1965), hlm. 148
[8] Lembaga Alkitab Indonesia, Kabar Baik: Alkitab dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari, (Jakarta, Lembaga Alkitab Indonesia, 1986), hlm. 920
[9] C.Groenen, Pengantar ke dalam Perjanjian Lama, (Yogyakarta, Kanasius, 1992), hlm. 247
[10] S.H. Widyapranawa, Tafsiran Alkitab Yesaya Pasal 1-39, (Jakarta, BPK-GM, 2006), hlm. 1
[11] Ibid, hlm.29
[12] W.R.F. Browning, Kamus Alkitab: Panduan Dasar Ke Dalam Kitab-Kitab, Tema, Tempat, Tokoh, dan Istilah Alkitabiah, (Jakarta, BPK-GM, 2007), hlm. 106
[13] Soedarmo (Penterj.), Tafsiran Alkitab Masa Kini Vol.3, (Jakarta, BPK-GM, 1983), hlm. 643
[14] G. Johannes Botterweck & Helmer Ringgren, Theological Dictionary of the Old Testament Vol. 3, (Grand Rapids Michigan, WMB. Eerdmans Publishing Company, 1983), hlm. 195.
[15] Ibid, hlm. 199
[16] Bnd. John N. Oswalt, The New International Commentary on the Old Testament, (Grand Rapids Michigan, WMB. Eerdmans Publishing Company, 1986), hlm. 138-139).
[17]  Dikutip oleh: John D.W. Watts, Word Biblical Commentary Vol. 24, (Waco Texas, Word Books Publishers, 1985), hlm. 42
[18] S.H. Widyapranawa, Tafsiran Alkitab Kitab Yesaya Pasal 1-39, (Jakarta, BPK-GM, 2006), hlm. 22
[19] G.W. Bromiley (Ed.), The International Standard Bible Encyclopedia vol.3, (Grand Rapids Michigan, William B. Eerdmans Publishing Company, 1986), hlm. 905
[20] J.L. Ch. Abineno, Tafsiran Alkitab Surat Filipi, (Jakarta, BPK-GM, 1989), hlm. 51-52
[21] Ada naskah-naskah tulisan tangan yang tidak memakai kata “juga” (Yun. Kai), sehingga pertentangan antara bagian pertama dan bagian kedua dari kalimat ini menjadi lebih tajam: janganlah tiap-tiap orang memperhatikan dirinya sendiri, tetapi kepentingan orang lain. Banyak penafsir misalnya C. Barth mempertahakan terjemahan ini, karena hal itu lebih cocok dengan ayat 3b. Mereka, yang Paulus nasihati di sini menurut pnafsir-penafsir itu ialah orang-orang yang hanya memperhatikan kepentingan sendiri dan tidak memperdulikan kepentingan orang lain. Sikap ini salah. Karena itu, Paulus melarangnya. Ia menuntut supaya jemaat Filipi berbuat sebaliknya: bukan kepentingan sendiri, tetapi kepentingan orang lain yang harus mereka perhatikan.
[22] Soedarmo (Penterj.), Op-Cit, hlm. 644
[23] Bnd. Gerald F. Haw Thorne, Word Biblical Commentary, (Waco Texas, Word Books Publishers, 1983), hlm. 70
Labels: OPINI

Thanks for reading PENYALAHGUNAAN KEKUASAAN OLEH PENGUASA DAN IMPLIKASINYA DALAM KEHIDUPAN MASA KINI ( Pendekatan Teologis Terhadap Yesaya 3:15 dan Filipi 2:4 ) . Please share...!

0 Comment for "PENYALAHGUNAAN KEKUASAAN OLEH PENGUASA DAN IMPLIKASINYA DALAM KEHIDUPAN MASA KINI ( Pendekatan Teologis Terhadap Yesaya 3:15 dan Filipi 2:4 ) "

Back To Top