Pergunakanlah Waktu dan Tetap Berpengharapan


CARITA MAHABHARATA

Ilustrasi Mahabhrata

I. Pendahuluan
Setiap agama memiliki keunikannya masing-masing. Keunikan itu menunjukkan bahwa setiap agama tidaklah sama walaupun memiliki beberapa kemiripan-kemiripan di dalam ajarannya. Sebab, pada prinsipnya, sebuah agama itu lahir atau muncul dari agama sebelumnya, dan terus berkembang sejalan dengan perkembangan zaman. Khususnya, dalam hal ajaran atau doktrin, yang pada dasarnya lahir dari suatu konteks sejarah atau zaman sebagai jawaban dari sebuah persoalan yang “urgen” untuk segera dijawab pada masa itu, dan biasanya akan terus “diabadikan” dan dipakai dalam kehidupan iman suatu pemeluk agama dari zaman ke zaman sesuai dengan konteksnya.
Dalam agama Hindu, epos kepahlawanan dua carita yakni Mahabrata dan Ramayana lahir dalam suatu konteks sejarah kehidupan umat Hindu dengan permasalahannya yang “urgen” saat itu. Konteks zaman yang semakin berkembang  terkesan “memaksa” para penulis untuk memunculkan dua carita ini sebagai jawaban atas persoalan yang  sedang terjadi ketika itu, sehingga dampaknya, dimana sampai sekarang dua carita ini masih dipakai dalam kehidupan keagamaan umat Hindu, terlebih dalam perkembangan kehidupan spritualitas jemaat. Untuk, itu apakah yang melatarbelakangi munculnya dua carita ini? Dan apakah pesan atau maknanya dalam kehidupan kerohanian umat Hindu? Sehingga dengan jelas bahwa, setiap orang melalui tulisan ini setidaknya dapat mengetahui dan belajar tentang iman sesamanya (Hindu) dari dua carita Bhagavad-Gita[1] yakni Mahabrata dan Ramayana, secara khusus akan dibahas dalam tulisan ini hanyalah carita Mahabharata.



II.   Pengertian Mahabrata
2.1  Latar Belakang Mahabharata
Sekitar abad ke-2 sM, di wilayah India terjadi berbagai perubahan hidup kemasyarakatan. Khususnya, setelah India terjajah secara politis dan menjadi wilayah kekuasaan Persia semasa abad tersebut. Hal lain yang banyak terjadi ialah munculnya “kejenuhan” dalam berbagai aspek kehidupan. Dari sudut keagaaman terkesan sebagai suatu kondisi yang “statis”, disusul dengan kehidupan ekonomi masyarakat yang memprihatinkan. Inilah yang mendukung munculnya awal suatu “reformasi” oleh kaum Ksatria dari agama Hindu. Hal ini ditandai dengan lahirnya berbagai aliran-aliran seperti:
1.    Samakhia: merupakan aliran yang menolak Brahman dan dewa.
2.    Bhagawad-Gita: merupakan kitab tentang Sastra dari Ramayana dan Mahabrata.
3.    Golongan Yoga: aliran yang menekankan ketenangan atau “semedhi”.
4.    Budha: aliran yang menjadi sebuah agama Besar di China.[2]
Yang termasuk kepustakaan Wiracarita adalah dua syair kepahlawanan, Ramayana dan Mahabrata. Kedua pustaka ini berisikan cerita dalam bentuk syair tentang perbuatan-perbuatan mulia yang dilakukan oleh pahlawan-pahlawan kebangsaan yang besar. Maksud dari cerita ini ialah menggambarkan bagaimana menerapkan hukum-hukum Smrti pada keadaan yang  konkret dalam kehidupan.[3]
Bagian pertama Kitab Mahabrata disusun oleh Wyasa. Kapan hal itu terjadi, tidak seorangpun mengetahuinya. Yang jelas ialah, bahwa kitab ini sudah dikenal pada waktu agama Budha timbul. Bentuknya yang sekarang pun mungkin terjadi antara abad ke-2 sM sampai abad ke-2 M. Ceritanya mengisahkan tentang perang besar antara Kaurawa dan Pandawa, keturunan Dhrtarastra dan Pandu, anak Wyasa. Mereka berebutan negara Hastina. Karena pertolongan Krsna, yang merupakan titisan dari Wisnu (dewa pemelihara). Maka, pada akhirnya Pandawalah yang menang dan mewarisi Hastina.[4]
Mahabhrata sebagai epos (syair kepahlawanan) memuat 200.000 baris. Terbagi atas 18 bagian (parwa) yang kemudian masih ditambah dengan bagian yang ke-19 yang menceritakan riwayat Krsna. Orang menganggap bahwa penulis buku yang besar itu ialah seorang pertapa legendari, Wyasa namanya, padahal sebenarnya, kitab itu tidaklah dikarang oleh seorang penyair saja. Kidungan itu terbentuk berabad-abad lamanya ± 400 sM sampai tahun 400 M.[5] Di dalam syair Mahabhrata terdapat juga petunjuk-petunjuk, bahwa pembagian kemasyarakatan yang lama itu dipandang sesuai dengan ketertiban kosmos. Tata-tertib kehidupan manusia itu sama dengan tata-tertib alam semesta. Di dalam Bhagavad-Gita dikatakan, bahwa Wisnu tiap-tiap kali turun ke dunia apabila tata-tertib menjadi goncang. Wisnu lalu datang untuk melindungi yang baik dan membinasakan yang jahat. Begitulah Wisnu datang dalam tiap-tiap zaman.[6]

2.2  Makna Carita Mahabrata bagi Umat Hindu
Bagi umat Hindu, 2 epos kepahlawanan ini, yakni Mahabhrata dan Ramayana ialah bersifat suci. Membaca atau lebih tepat menghafal kitab itu seluruhnya dianggap sangat berpahala, bahkan dianggap dapat melepaskan diri dari dosa. Buku kidung itu seperti suatu ensiklopedia saja rupanya, karena orang menjumpai segala yang mengenai mitologi, tetapi juga mengenai kehidupan sehari-hari. Di antara bagian yang ditambahkan ada yang membicarakan tentang soal-soal mitologi, tetapi juga yang mengutarakan dalil-dalil dari pengertian-pengertian filsafat tinggi yang sangat terkenal ialah percakapan antara Arjuna dengan Krshna, pada saat sebelum perang dimulai. Kidung yang disebut Bhagavad-Gita (Kidung dari Dewa) itu hingga kini masih dianggap suci atau keramat bagi orang Hindu dan tergolong kepada tulisan-tulisan yang terindah di dunia mengenai agama.[7]
Tiap-tiap syair kepahlawanan Mahabhrata itu membicarakan tentang pengertian bhakti: penyerahan, ketekunan, percaya. Manusia, yang menyerahkan diri seluruhnya kepada Dewanya, boleh tetap tinggal di dalam masyarakat dan tidak perlu memisahkan diri dari dunia yang ramai sebagai seorang pertapa. Tetapi, ia hanya boleh berurusan dengan perbuatan yang dilakukannya, tidak dengan hasil perbuatannya, sebagaimana yang ditulis dalam Bhagavad-Gita. Itu artinya: Arjuna sebagai Ksatria harus menunaikan dharma ksatrianya, dan di dalam menjalankan itu tidak boleh ia mundur jika ada sesuatu yang mencegahnya, rasa belas kasihanpun tidak, jika dharmanya sebagai ksatria memerintahkannya membunuh manusia. Tetapi, ia harus menunaikan dharmanya itu tanpa nafsu sedikitpun, bahkan sama sekali ia tidak boleh terharu hatinya. Ia harus tinggal di dunia dengan tiada merasa terikat kepadanya, tanpa terharu (emosi) sedikitpun, karena dunia ini pada hakikatnya bukanlah sesuatu yang sungguh-sungguh ada, hanya maya belaka.[8]

III. Kisah Mahabrata
3.1                   Hasil Wawancara[9]
Kuil Dewi Sri Mariyamman adalah kuil agama Hindu yang pertama di Pematang Siantar, yang didirikan pada tahun 1971 oleh bapak Musami. Awalnya jemaat Hindu masih beribadah di rumah-rumah. Saat ini, jemaat Hindu di kota Pematang Siantar berjumlah 40 kepala keluarga, yang mayoritas pekerjaannya ialah berdagang. Mereka beribadah pada hari Jumat yang dimulai pada pukul 18.00 s-d 20.00 WIB yang dilayani oleh pandita Mitun Sembiring.
Jemaat Hindu ini adalah penganut aliran dewa Shiwa, yang mana dewi yang dipuja adalah Sri Mariyamman. Dewi ini diyakini sebagai dewi yang penyabar. Aliran Shiwa menekankan pola hidup yang bebas, seperti boleh menikah, bebas menentukan makanan dan lain-lain. Namun, tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran. Sebaliknya, berbeda dengan aliran Wisnu yang memiliki banyak larangan, seperti tidak boleh menikah bagi kaum Pandita dan pola makanan jemaat yang harus vegetarian. Tentang carita Mahabrata, jemaat ini telah memahaminya, khususnya Pandita Mitun, namun mereka tidak meninggikan carita tersebut di dalam ibadah dan kehidupan sehari-hari mereka. Hal ini dikarenakan bahwa mereka adalah penganut aliran Shiwa, sedangkan carita Mahabrata diketahui beraliran Wisnu.

3.2  Carita Mahabrata[10]
Bhagavad-Gita semula disabdakan kepada dewa matahari, Vivasvan, oleh Sri Krsna lebih dari 120 tahun. Bhagavad-Gita turun melalui garis perguruan raja-raja yang suci. Bhagavad-Gita sering diterbitkan dan dibaca sebagai sastra tersendiri, namun Bhagavad-Gita juga tercantum sebagai satu babak dalam karya epos sejarah Mahabharata, sejarah dunia pada masa lampau dalam bahasa Sansekerta. Mahabharata membicarakan kejadian-kejadian menjelang jaman Kali. Pada awal jaman ini, kurang lebih 50 abad yang silam, Sri Krsna menyabdakan Bhagavad-Gita kepada Arjuna sebagai kawan dan penyembah-Nya. Percakapan antara Krsna dengan Arjuna, salah satu di antara dialog-dialog filsafat kerohanian yang paling mulia dalam masyarakat manusia terjadi sebelum perang saudara yang berkecamuk hebat antara seratus putera Dhratarasta dengan Pandawa. Perang hebat ini dinamakan “Bharatayuddha”.

3.2.1    Masa Sebelum Lahirnya Pandawa dan Kurawa[11]
Isi epos Mahabarata secara garis besar mengisahkan kehidupan Santanu (Çantanu) seorang raja yang perkasa keturunan keluarga Kuru dan bertakhta di kerajaan Barata. Bersama permaisurinya Dewi Gangga, mereka dikaruniai seorang putra bernama Bisma. Pada suatu hari Çantanu jatuh cinta pada seorang anak raja nelayan bernama Setyawati. Namun ayahanda Setyawati hanya mau memberikan putrinya jika Çantanu kelak mau menobatkan anaknya dari Setyawati sebagai putra mahkota pewaris takhta dan bukannya Bisma. Karena syarat yang berat ini Çantanu terus bersedih. Melihat hal ini, Bisma yang tahu mengapa ayahnya demikian, merelakan haknya atas takhta di Barata diserahkan kepada putra yang kelak lahir dari Setyawati. Bahkan Bisma berjanji tidak akan menuntut itu kapan pun dan berjanji tidak akan menikah agar kelak tidak mendapat anak untuk mewarisi takhta Çantanu.
Perkawinan Çantanu dan Setyawati melahirkan dua orang putra masing-masing Citranggada dan Wicitrawirya. Namun kedua putra ini meninggal dalam pertempuran tanpa meninggalkan keturunan. Karena takut punahnya keturunan raja, Setyawati memohon kepada Bisma agar menikah dengan dua mantan menantunya yang ditinggal mati oleh Wicitrawirya, masing-masing Ambika dan Ambalika. Namun permintaan ini ditolak Bisma mengingat sumpahnya untuk tidak menikah.
Akhirnya Setyawati meminta kepada Wiyasa anaknya dari perkawinan yang lain, untuk menikah dengan Ambika dan Ambalika. Perkawinan dengan Ambika melahirkan Dhratarasta dan dengan Ambalika melahirkan Pandu. Dhratarasta lalu menikah dengan Gandari dan melahirkan seratus orang anak, sedangkan Pandu menikahi Kunti dan Madrim tapi tidak mendapat anak. Nanti ketika Kunti dan Madrim kawin dengan dewa-dewa, Kunti melahirkan 3 orang anak masing-masing dengan dewa Darma lahirlah Yudistira, dengan dewa Bayu lahir Werkodara atau Bima dan dengan dewa Surya lahirlah Arjuna. Sedangkan Madrim yang menikah dengan dewa kembar Acwin, lahir anak kembar bernama Nakula dan Sadewa. Selanjutnya, keturunan-keturunan itu dibagi dua yakni keturunan Dhratarasta disebut Kaum Kurawa sedangkan keturunan Pandu disebut kaum Pandawa.

3.2.2    Kehidupan di Istana Hastinapura dan Sebelum Perang Kurawa dan Arjuna[12]
Dhratarasta dan Pandu adalah kakak beradik yang dilahirkan dalam dinasti Kuru, keturunan Raja Bharata, seorang raja yang pernah berkuasa di bumi ini. Nama Mahabharata diambil dari nama Raja Bharata itu. Oleh karena Dhratarasta, kakak Pandu, tunanetra sejak lahir, Pandulah yang dinobatkan menjadi raja. Pandu meninggal dunia dalam usia muda. Kelima Putera Pandu, Yudhisthira, Bhima, Arjuna, Nakula dan Sadewa dibesarkan oleh Dhratarasta.
Dhratarasta menjadi pejabat untuk sementara waktu. Putera-putera Dhrtarastra dan putera-putera Pandu dibesarkan dalam istana kerajaan yang sama. Mereka dilatih ilmu militer oleh Guru Drona dan dibimbing oleh “kakek” kelurga besar Kuru yang sangat dihormati, yaitu Bhisma. Namun para putera Dhrtarastra, terutama putera sulungnya, Duryodhana, sangat benci dan iri hati terhadap para Pandawa. Dhrtarastra buta dan berjiwa jahat. Dhratarasta menginginkan putera-puteranya sendiri yang mewarisi kerajaan, bukan putera Pandu. Karena itu, seizin Dhrtarastra, Duryodhana menyusun siasat untuk membunuh putera Pandu yang masih muda. Hanya karena perlindungan yang saksama dari Paman Vidura dan saudara misan Para Pandawa, Sri Krsna mereka selamat, meskipun nyawanya terancam berkali-kali. Sri Krsna bukanlah manusia biasa, Sri Krsna adalah kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Sendiri, yang telah menjelma di bumi ini dan sedang berperan sebagai pangeran dalam salah satu dinasti. Dalam peran ini, Sri Krsna juga adalah keponakan Kunti atau Prtha, istri Pandu, ibu Pandawa. Sebagai sanak keluarga dan sebagai penegak prinsip-prinsip dharma yang kekal, Sri Krsna memberkahi dan melindungi para putera Pandu yang saleh. Akan tetapi, akhirnya Duryodhana yang sangat licik mengajak para Pandawa bermain judi. Dalam kejadian perjudian yang mengakibatkan nasib yang sangat buruk itu. Duryodhana dan saudara-saudaranya mengambil Draupadi, isteri para Pandawa yang sangat suci dan setia. Duryodhana beserta kawan-kawan berusaha menghina Draupadi dengan cara membuka pakaian Draupadi di hadapan sidang pangeran-pangeran dan raja-raja. Sri Krsna turun tangan secara rohani hingga Draupadi selamat, tetapi permainan dadu yang sudah diatur dengan cara yang tidak adil, mengakibatkan para Pandawa tertipu hingga kehilangan kerajaannya dan terpaksa diasingkan ke hutan selama tiga belas tahun. Sesudah para Pandawa kembali dari masa pengasingannya, menurut hak yang sah mereka meminta supaya kerajaannya dikembalikan oleh Duryodhana, namun Duryodhana menolak mentah-mentah mengembalikan kerajaan itu. Sebagai pangeran-pangeran, para Pandawa wajib mengabdikan diri dalam administrasi negara. Karena itu, para Pandawa meminta agar diberikan lima desa saja oleh Duryodhana. Namun, Duryodhana sombong dan menjawab bahwa dia tidak akan memberikan tanah seluas ujung jarum pun kepada Pandawa. Selama ini, para Pandawa terus bersikap toleransi dan sabar. Tetapi, sekarang perang tampaknya tidak dapat dihindarkan lagi.

3.3                   Berbagai Karakter Pandawa dan Kurawa[13]
Beberapa karakter dari pada Pandawa dan Kurawa ialah:
PUNTADEWA adalah raja negara Amarta atau Indrapasta. Setelah perang Bharatayuddha Puntadewa menjadi raja Astina yang bergelar Prabu Kalimataya. Nama lain yang dipakai adalah: Darmawangsa, Darmakusuma, Kantakapura, Gunatalikrama, Yudistira, Sami Aji (sebutan dari Prabu Kresna). Sifatnya: jujur, sabar, hatinya suci, berbudi luhur, suka menolong sesama, mencintai orang tua serta melindungi saudara-saudaranya. Pusakanya bernama: Jamus Kalimasada, yang mempunyai kekuatan sebagai perlindungan dan petunjuk pada kebenaran serta kesejahteraan. Mempunyai dua isteri yaitu: Dewi Drupadi dan Dwi Kuntulwilaten.
BRATASENA. Setelah dewasa bernama Werkudara. adalah ksatria Jodipati dan Tunggulpamenang. Pernah menjadi raja di Gilingwesi, dengan gelar Prabu Tuguwasesa. Nama lain yang dipakai adalah: Bima, Bayusutu, Dandun Wacana, Kusuma WaliGita. Sifatnya: jujur, tidak sombong, jiwanya suci, sangat patuh kepada guru-gurunya (terutama dengan Dewa Ruci), mencintai ibunya serta menjaga saudara-saudaranya. Bila berperang semboyannya adalah menang, bila kalah berarti mati. Bratasena adalah merupakan suri tauladan kehidupan dengan sifat yang jujur dan jiwanya suci. Pusakanya adalah: Kuku Pancanaka di tangan kanan dan kiri sangat ampuh, sangat kuat dan tajam. Selain kuku pancanaka Werkudara juga mempunyai kekuatan angin (lima kekuatan angin), serta dapat membongkar gunung. Mempunyai dua permaisuri yaitu: Arimbi dan Nagagini. Dengan Arimbi mendapatkan putra bernama Gatotkaca, yang dapat terbang tanpa sayap. Dari perkawinannya dengan Nagagini memperoleh putra bernama Antasena yang dapat masuk ke dalam bumi dan menguasai samudera. Bratasena pada waktu lahir dalam keadaan bungkus. Yang menyobek bungkus tersebut adalah Gajah Situ Seno. Pada waktu itu Gajah Situ Seno masuk ke dalam tubuh Bratasena, sehingga mempunyai kekuatan luar biasa dan bisa menyobek bungkus tersebut.
ARJUNA adalah ksatria Madukara, juga menjadi raja di Tinjomoya. Nama lain yang dipakai sangat banyak, antara lain: Janaka, Parta, Panduputra, Kumbawali, Margana, Kuntadi, Indratanaya, Prabu Kariti, Palgunadi, Dananjaya. Sifatnya: Suka menolong sesama, gemar bertapa, cerdik dan pandai, ahli dibidang kebudayaan dan kesenian. Arjuna adalah ksatria yang sakti mandraguna, kekasih para Dewa, ia adalah titisan Dewa Wisnu. Istri Arjuna banyak sekali, ia dijuluki lelananging jagad, parasnya sangat tampan dan tidak ada tandingannya. Permaisurinya di arcapada adalah Wara Sumbadra dan Wara Srikandi. Selain itu masih banyak lagi istri-istrinya antara lain: Rarasati, Sulastri, Gandawati, Ulupi, Maeswara, dan lainnya. Permaisuri di kahyangan antara lain Dewi Supraba, Dewi Dersanala pada bidadari di Tinjomaya. Arjuna berjiwa ksatria, berjiwa luhur, suka menolong, serta kesayangan para Dewa. Tetapi ada kelemahan yang tidak boleh diteladani dan diterapkan pada jaman sekarang yaitu beristri banyak.
NAKULA adalah anak ke empat Prabu Pandu Dewanata dengan Dewi Madrim yang lahir kembar dengan Sadewa. Ayah dan ibunya (Madrim) meninggal pada waktu si kembar masih kecil, oleh karena itu sejak kecil mereka diasuh oleh ibu Kunti dengan tidak membedakan antara satu dengan lainnya. Setelah perang Bharatayuddha Nakula dan Sadewa menjadi raja di Mandraka dengan Sadewa. Nama lain adalah Raden Pinten. Nakula adalah ahli dalam bidang Pertanian. Pada waktu perang Bharatayuddha, Nakula dan Sadewa yang bisa meluluhkan hati Prabu Salya (dari pihak Kurawa). Sebab Prabu Salya adalah saudara Dewi Madrim, selain itu sebenarnya dalam hatinya memihak pada kebenaran yaitu Pandawa. Akhirnya Prabu Salya memberitahukan kepada Nakula dan Sadewa bahwa yang bisa mengalahkannya hanyalah Puntadewa, karena Puntadewa berdarah putih.  
SADEWA adalah anak kelima Prabu Pandu dengan Madrim, dilahirkan kembar dengan Nakula. Setelah perang Bharatayuddha Sadewa menjadi raja dengan Nakula di Mandraka. Nama kecil Sadewa adalah Raden Tangsen. Sadewa adalah ahli dalam bidang peternakan. Ia kawin dengan Endang Sadarmi, anak Bagawan Tembangpetra dari Pertapaan Parangalas, dan mempunyai putra bernama Sabekti. Dengan adanya sifat-sifat Pandawa yang seperti tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa dengan adanya Pandawa, kerajaan Amarta menjadi kerajaan yang kuat, aman, adil dan makmur. Hal ini dapat dibuktikan selain dengan sifat-sifat mereka yang jujur, membela kebenaran dan sebagainya, juga berkat kemampuan disegala bidang. Puntadewa adalah ahli dalam bidang kerohanian, ahli dalam hal bertapa, ia berdarah putih, tokoh ini mementingkan perdamaian, persatuan, kesejahteraan bersama. Werkudara adalah tokoh yang menguasai keamanan, kekuatannya tidak tertanding, apalagi dengan kehadiran kedua putranya dimana Gatotkaca menguasai keamanan samudera (laut) dan darat.
Arjuna adalah tokoh yang sakti, pemanah yang ulung, suka menolong sesama, rasa kemanusiaannya tinggi, tutur katanya lembut, ahli dalam bidang kebudayaan dan kesenian, ahli dalam bidang bertapa. Tetapi ada satu hal kelemahannya yaitu terlalu banyak istri. Pada zaman dulu istri merupakan lambang kehormatan, bisa juga sebagai upeti waktu memenangkan perang, berbeda halnya dengan sekarang apalagi dengan adanya PP. 10 th. 1983 yang mengatur tentang perkawinan. Si Kembar Nakula dan Sadewa adalah tokoh yang mencerminkan tingkah laku untuk mencapai kesejahteraan/kemakmuran hidup, karena Nakula adalah ahli dan tekun dalam bidang pertanian, sedangkan Sadewa ahli dan tekun dalam bidang peternakan.
Sebenarnya Pandawa masih mempunyai saudara tua yang bernama Adipati Karno, semasa kecil dinamakan Suryatmaja. Suryatmaja adalah putra Dewi Kunti dengan Dewa Surya sebelum menikah dengan Pandu. Ini disebabkan adanya perbuatan serong Dewa Surya yang bisa mengakibatkan Kunti menjadi hamil. Akhirnya Dewa Surya bertanggung jawab atas perbuatannya itu dengan jalan, pada waktu melahirkan bayi (Suryatmaja) keluar lewat telinga, dengan demikian maka Kunti dianggap masih suci. Bayi yang diberi nama Suryatmaja kemudian dilarung (dihanyutkan) di sungai Yamuna yang kemudian diketemukan oleh Prabu Radeya di Petapralaya (dibawah kekuasaan Astina). Karena merasa dibesarkan dan bukti wibawa di Astina, maka pada waktu perang Bharatayuddha Adipati Karna berjuang dengan gagah berani untuk membela negaranya. Ia menjadi senapati perang di pihak Astina, tetapi akhirnya karna gugur oleh adiknya sendiri yaitu Arjuna. Adipati Karna adalah suri tauladan sebagai pahlawan yang gigih membela negara, meskipun rajanya (Astina) dipihak yang salah tetapi bagaimanapun juga negaranya harus dibela dari kehancuran, yang dibuktikan sampai titik darah penghabisan.
KURAWA. Tokoh Antagonis. Kejahatan sangat terlihat pada jiwa para Kurawa. Mereka terlahir dari rahim Ratu Gandari dan Raja Destarata. Kurawa terdiri dari 100 anak. Yang mana anak tertuanya bernama Duryudana.
3.4                   Perang Bharatayuddha dan Dialog antara Krsna dan Arjuna[14]
            Para pangeran dan raja dunia terpecah menjadi dua kelompok. Beberapa di antaranya memihak putera-putera Dhrtarastra, sedangkan yang lain memihak kepada para Pandawa. Selama ini, Sri Krsna sendiri berperan sebagai duta untuk para putera Pandu dan pergi ke istana Dhratarasta dengan usul perdamaian. Akan tetapi, justru usul ini ditolak, sehingga perang tidak dapat dicegah lagi.                         Para Pandawa mempunyai prinsip-prinsip moral yang paling tinggi dan mereka mengakui Krsna sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan para putera Dhrtarastra yang jahat tidak mau mengakui Krsna. Namun, Krsna bersedia ikut perang menurut kehendak kedua belah pihak. Sri Krsna, Tuhan Yang Maha Esa, tidak bersedia bertempur secara pribadi, tetapi salah satu di antaranya diperbolehkan memanfaatkan tentara Sri Krsna, sedangkan pihak yang lain dapat memanfaatkan tenaga Krsna sebagai penasihat dan pendukung. Duryodhana adalah seorang yang jenius dalam bidang politik. Duryodhana segera meminta tentara Sri Krsna, sedangkan para Pandawa pun semangat sekali mendapat bantuan Sri Krsna sebagai penasihat.                                
            Dengan cara inilah, Sri Krsna menjadi kusir kereta Arjuna. Sri Krsna bersedia mengemudikan kereta Arjua, pemanah termasyur. Pertempuran berlangsung selama 18 hari penuh. Dalam pertempuran itu, banyak ksatria yang gugur, seperti misalnya Abimanyu, Drona, Karna, Bisma, Gatotkaca, Irawan, Raja Wirata dan puteranya, Bhagadatta, Susharma, Sangkuni, dan masih banyak lagi. Selama 18 hari tersebut dipenuhi oleh pertumpahan darah dan pembantaian yang mengenaskan. Pada akhir hari ke-18, hanya sepuluh ksatria yang bertahan hidup dari pertempuran, mereka adalah: Lima Pandawa, Yuyutsu, Satyaki, Aswatama, Krepa dan Kretawarma.
Titik pusat Bhagavad-Gita adalah melakukan atau  memuaskan indria-indria Tuhan Yang Maha Esa daripada indria-indria jasmani. Kedudukan  Krsna yang mutlak sulit dipahami oleh orang yang bukan penyembah Krsna dalam sistem parampara (garis keturunan). Tafsiran oleh orang tersebut tentang Bhagavad-Gita disebut Mayavada-bhasya.

3.5  Nilai-nilai Kehidupan dari Carita Mahabrata
Carita Mahabrata ini banyak mengajarkan kepada kita tentang nilai-nilai-kemanusiaan. Beberapa nilai yang hendak disampaikan dalam carita Mahabharata ini ialah tentang “nilai perjuangan dan nilai kepahlawanan”, yang selalu dibuktikan dengan suatu kebenaran di pihak orang-orang yang benar hidupnya. Selain itu ialah bagaimana menjalani hidup dengan saling menjaga, merawat dan membina hubungan baik satu sama lain. Dalam setiap hal-hal yang terjadi dalam kehidupan ini selalu memiliki arti dengan Ketuhanan, artinya tidaklah bisa terlepas kehidupan manusia dengan keberadaan Tuhan itu sendiri. Selalu ada peran Tuhan dalam setiap hal yang terjadi dalam kehidupan setiap manusia. Alam sebagai lingkungan hidup juga memiliki hubungan kepada manusia. Alam di muka bumi ini memiliki keterkaitan yang erat terhadap manusia.Sebab, kebenaran Tuhan akan selalu terbukti tepat pada saatnya.
Alasan mengapa semua benda yang hidup terus menerus dilahirkan kembali adalah karena, hukum sebab akibat. Yakni, setiap orang hendaknya dapat hidup dalam kebenaran dan meninggalkan segala perbuatannya yang jahat. Orang Hindu percaya bahwa karma yang menumpuk dalam kehidupan sebelumnya pindah ke masa kini dan sangat menentukan wujud kelahiran jiwa kembali. Setiap orang Hindu berusaha menghindarkan diri dari efek karma pada kelahiran kembali berikutnya dengan melakukan perbuatan amal dan hidup dengan tidak mementingkan diri sendiri. Bhagavad-Gita mengajarkan bahwa itulah satu-satunya cara supaya dapat dilahirkan kembali dengan sesedikit mungkin karma. Karma yang buruk memastikan bahwa jiwa manusia akan kembali pada kehidupan yang akan datang dengan tingkat yang lebih rendah.

3.6  Kesinambungan dengan Ajaran Kekristenan
Di dalam kitab Bhagadva-Gita, ada satu dialog antara Sri Krsna dan Arjuna yang mana Sri Krsna menjawab keluh kesah Arjuna (yang kita tahu bahwa Arjuna memiliki rasa prikemanusiaan yang tinggi) karena Arjuna harus berperang melawan saudaranya sendiri. Di dalam dialog ini Sri Krsna menjawab keluh kesah Arjuna dengan sangat baik. Sri Krsna menekankan kepada Arjuna bahwa bagaimanapun juga, kebenaran harus ditegakkan walaupun lawan kita adalah saudara kita sendiri. Hal ini sesuai dengan ajaran kekristenan yang mengajarkan tentang kebenaran, seperti yang tertulis di dalam Perjanjian Lama (Imamat 19:15) mengatakan, “Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran”. Selain itu, Roma  5:21 mengatakan, “supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” sehingga dari cerita Mahabharata ini, hal-hal yang dapat memberikan pelajaran hidup bagi manusia antara lain:
1.    Kebenaran akan selalu ditunjukkan oleh Tuhan tepat pada waktunya.
2.    Setiap manusia hendaknya hidup dalam kebenaran Tuhan dan memperjuangkan kebenaran itu walau harus dengan pertempuran.
3.    Di dalam memecahkan suatu masalah, alangkah baiknya jika dilakukan dengan suatu dialog untuk menghindarkan konflik yang dapat menciptakan terjadinya perlawanan fisik, sebab hal ini diperlukan dalam menciptakan suatu kedamaian .
4.    Setiap orang yang mengambil yang bukan bagiannya hanyalah menciptakan “bomerang” bagi dirinya sendiri.

IV.Kesimpulan
       Adapun beberapa kesimpulan dari tulisan ini ialah sebagai berikut:
1. Bhagavad-Gita adalah bagian dari Mahabharata yang merupakan sastra spiritual kuno yang paling disukai dalam Hinduisme. Kitab ini memaparkan percakapan antara Bhatara Krsna dan sang pahlawan Arjuna di medan perang.
2. Mahabharata sebagai salah satu bentuk reformasi dari agama Hindu yang terjadi pada ke-2 sM yang yang dilakukan oleh Ksatria di tengah-tengah kejenuhan masyarakat India pada masa itu, khususnya dalam agama dan politik. Bhagavad-Gita dianggap suci atau keramat bagi orang Hindu dan tergolong kepada tulisan-tulisan yang terindah di dunia mengenai agama.
3.    Mahabharata mengajarkan bahwa kebenaran merupakan sumber kemajuan bagi segala bangsa sementara kejahatan pada akhirnya mengakibatkan kehancuran. Hal ini sesuai dengan ajaran kekristenan yang mengajarkan tentang kebenaran yang ditekankan dalam Alkitab, khususnya dalam tindakan Yesus Kristus semasa hidupnya di dunia.














DAFTAR PUSTAKA

Hadiwijono, Harun
2008                                                   Agama Hindu dan Budha, Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2008
Honig, Jr. A. G.
2005                                                   Ilmu Agama, Jakarta: BPK Gunung Mulia
Srimad A. C. Sri
Bhaktivedanta Swami Prabhupada         Bhagavad-Gita Menurut Aslinya,


Sumber Lain:
Disampaikan oleh dosen Pdt. PNB. Pardede, M. Th dalam perkuliahan Agama Hindu dan Budha, pada Selasa 22 Februari 2011 pertemuan ke- 6
Hasil wawancara kelompok kepada Pandita Mitun Sembiring, pada hari Jumat, 25 Februari 2011 pukul. 18.00-20.00 WIB di kuil Sri Mariyamman
Admin, http://id.wikipedia.org/wiki/Mahabharata, dikunjungi pada Jumat 25 Februari 2011, pukul 17.00 WIB
Amanda Sastranegara, http://mandow.multiply.com/market/item/11, dikunjungi pada Jumat 25 Februari 2011, pukul 17.00 WIB
Admin, http://id.shvoong.com/books/classic-literature/2052997-kisah-mahabarata/, dikunjungi pada Kamis, 10 Maret 2011, pukul 20.40 WIB




[1]Bhagavad-Gita adalah bagian dari Mahabharata dan merupakan sastra spiritual kuno yang paling disukai dalam Hinduisme. Kitab ini memaparkan percakapan antara Bhatara Krsna dan sang pahlawan Arjuna di medan perang.
[2] Disampaikan oleh dosen Pdt. PNB. Pardede, M. Th dalam perkuliahan Agama Hindu dan Budha, pada Selasa 22 Februari 2011 pertemuan ke- 6
[3] Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Budha, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), hlm. 37
[4] Ibid, hlm. 37
[5] A. G. Honig, Jr. Ilmu Agama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005), hlm. 149-150
[6] Ibid, hlm. 151
[7] Ibid, hlm. 149-150
[8] Ibid, hlm. 151
[9] Hasil wawancara kelompok kepada Pandita Mitun Sembiring, pada hari Jumat, 25 Februari 2011 pukul. 18.00-20.00 WIB di kuil Sri Mariyamman
[10] Sri Srimad A. C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada, Bhagavad-Gita Menurut Aslinya,
[11] Admin, http://id.shvoong.com/books/classic-literature/2052997-kisah-mahabarata/, dikunjungi pada Kamis, 10 Maret 2011, pukul 20.40 WIB

[12] Sri Srimad A. C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada, Op. Cit
[13] Amanda Sastranegara, http://mandow.multiply.com/market/item/11, dikunjungi pada Jumat 25 Februari 2011, pukul 17.00 WIB

[14] Sri Srimad A. C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada, Op. Cit
Labels: Tokoh dan Sejarah

Thanks for reading CARITA MAHABHARATA. Please share...!

0 Comment for "CARITA MAHABHARATA"

Back To Top