![]() |
| Ilustrasi Mahabhrata |
I. Pendahuluan
Setiap
agama memiliki keunikannya masing-masing. Keunikan itu menunjukkan bahwa setiap
agama tidaklah sama walaupun memiliki beberapa kemiripan-kemiripan di dalam
ajarannya. Sebab, pada prinsipnya, sebuah agama itu lahir atau muncul dari
agama sebelumnya, dan terus berkembang sejalan dengan perkembangan zaman.
Khususnya, dalam hal ajaran atau doktrin, yang pada dasarnya lahir dari suatu
konteks sejarah atau zaman sebagai jawaban dari sebuah persoalan yang “urgen”
untuk segera dijawab pada masa itu, dan biasanya akan terus “diabadikan” dan
dipakai dalam kehidupan iman suatu pemeluk agama dari zaman ke zaman sesuai dengan
konteksnya.
Dalam
agama Hindu, epos kepahlawanan dua carita yakni Mahabrata dan Ramayana lahir
dalam suatu konteks sejarah kehidupan umat Hindu dengan permasalahannya yang
“urgen” saat itu. Konteks zaman yang semakin berkembang terkesan “memaksa” para penulis untuk
memunculkan dua carita ini sebagai jawaban atas persoalan yang sedang terjadi ketika itu, sehingga
dampaknya, dimana sampai sekarang dua carita ini masih dipakai dalam kehidupan
keagamaan umat Hindu, terlebih dalam perkembangan kehidupan spritualitas
jemaat. Untuk, itu apakah yang melatarbelakangi munculnya dua carita ini? Dan
apakah pesan atau maknanya dalam kehidupan kerohanian umat Hindu? Sehingga
dengan jelas bahwa, setiap orang melalui tulisan ini setidaknya dapat
mengetahui dan belajar tentang iman sesamanya (Hindu) dari dua carita Bhagavad-Gita[1]
yakni Mahabrata dan Ramayana, secara khusus akan dibahas dalam tulisan ini
hanyalah carita Mahabharata.
II.
Pengertian
Mahabrata
2.1 Latar Belakang Mahabharata
Sekitar
abad ke-2 sM, di wilayah India terjadi berbagai perubahan hidup kemasyarakatan.
Khususnya, setelah India terjajah secara politis dan menjadi wilayah kekuasaan
Persia semasa abad tersebut. Hal lain yang banyak terjadi ialah munculnya
“kejenuhan” dalam berbagai aspek kehidupan. Dari sudut keagaaman terkesan
sebagai suatu kondisi yang “statis”, disusul dengan kehidupan ekonomi
masyarakat yang memprihatinkan. Inilah yang mendukung munculnya awal suatu
“reformasi” oleh kaum Ksatria dari agama Hindu. Hal ini ditandai dengan lahirnya
berbagai aliran-aliran seperti:
1. Samakhia:
merupakan aliran yang menolak Brahman dan dewa.
2. Bhagawad-Gita:
merupakan kitab tentang Sastra dari Ramayana dan Mahabrata.
3. Golongan
Yoga: aliran yang menekankan ketenangan atau “semedhi”.
4. Budha:
aliran yang menjadi sebuah agama Besar di China.[2]
Yang
termasuk kepustakaan Wiracarita adalah dua syair kepahlawanan, Ramayana dan
Mahabrata. Kedua pustaka ini berisikan cerita dalam bentuk syair tentang
perbuatan-perbuatan mulia yang dilakukan oleh pahlawan-pahlawan kebangsaan yang
besar. Maksud dari cerita ini ialah menggambarkan bagaimana menerapkan
hukum-hukum Smrti pada keadaan
yang konkret dalam kehidupan.[3]
Bagian
pertama Kitab Mahabrata disusun oleh Wyasa. Kapan hal itu terjadi, tidak
seorangpun mengetahuinya. Yang jelas ialah, bahwa kitab ini sudah dikenal pada
waktu agama Budha timbul. Bentuknya yang sekarang pun mungkin terjadi antara
abad ke-2 sM sampai abad ke-2 M.
Ceritanya mengisahkan tentang perang besar antara Kaurawa dan Pandawa,
keturunan Dhrtarastra dan Pandu, anak Wyasa. Mereka berebutan negara Hastina.
Karena pertolongan Krsna, yang
merupakan titisan dari Wisnu (dewa
pemelihara). Maka,
pada akhirnya Pandawalah yang menang dan
mewarisi Hastina.[4]
Mahabhrata
sebagai epos (syair kepahlawanan) memuat 200.000 baris. Terbagi atas 18 bagian
(parwa) yang kemudian masih ditambah dengan bagian yang ke-19 yang menceritakan
riwayat Krsna. Orang menganggap bahwa penulis buku yang besar itu ialah seorang
pertapa legendari, Wyasa namanya, padahal sebenarnya, kitab itu tidaklah dikarang oleh seorang
penyair saja. Kidungan itu terbentuk berabad-abad lamanya ± 400 sM sampai tahun
400 M.[5]
Di dalam syair Mahabhrata terdapat juga petunjuk-petunjuk, bahwa pembagian
kemasyarakatan yang lama itu dipandang sesuai dengan ketertiban kosmos.
Tata-tertib kehidupan manusia itu sama dengan tata-tertib alam semesta. Di
dalam Bhagavad-Gita
dikatakan, bahwa Wisnu tiap-tiap kali turun ke dunia apabila tata-tertib
menjadi goncang. Wisnu lalu datang untuk melindungi yang baik dan membinasakan
yang jahat. Begitulah Wisnu datang dalam tiap-tiap zaman.[6]
2.2 Makna Carita Mahabrata bagi Umat Hindu
Bagi
umat Hindu, 2 epos kepahlawanan ini, yakni Mahabhrata dan Ramayana ialah
bersifat suci. Membaca atau lebih tepat menghafal kitab itu seluruhnya dianggap
sangat berpahala, bahkan dianggap dapat melepaskan diri dari dosa. Buku kidung
itu seperti suatu ensiklopedia saja rupanya, karena orang menjumpai segala yang
mengenai mitologi, tetapi juga mengenai kehidupan sehari-hari. Di antara bagian
yang ditambahkan ada yang membicarakan tentang soal-soal mitologi, tetapi juga
yang mengutarakan dalil-dalil dari pengertian-pengertian filsafat tinggi yang
sangat terkenal ialah percakapan antara Arjuna dengan Krshna, pada saat sebelum
perang dimulai. Kidung yang disebut Bhagavad-Gita (Kidung dari Dewa) itu hingga
kini masih dianggap suci atau keramat bagi orang Hindu dan tergolong kepada
tulisan-tulisan yang terindah di dunia mengenai agama.[7]
Tiap-tiap
syair kepahlawanan Mahabhrata itu membicarakan tentang pengertian bhakti:
penyerahan, ketekunan, percaya. Manusia, yang menyerahkan diri seluruhnya
kepada Dewanya, boleh tetap tinggal di dalam masyarakat dan tidak perlu
memisahkan diri dari dunia yang ramai sebagai seorang pertapa. Tetapi, ia hanya
boleh berurusan dengan perbuatan yang dilakukannya, tidak dengan hasil
perbuatannya, sebagaimana yang ditulis dalam Bhagavad-Gita. Itu artinya: Arjuna sebagai Ksatria harus menunaikan
dharma ksatrianya, dan di dalam menjalankan itu tidak boleh ia mundur jika ada
sesuatu yang mencegahnya, rasa belas kasihanpun tidak, jika dharmanya sebagai
ksatria memerintahkannya membunuh manusia. Tetapi, ia harus menunaikan
dharmanya itu tanpa nafsu sedikitpun, bahkan sama sekali ia tidak boleh terharu
hatinya. Ia harus tinggal di dunia dengan tiada merasa terikat kepadanya, tanpa
terharu (emosi) sedikitpun, karena dunia ini pada hakikatnya bukanlah sesuatu
yang sungguh-sungguh ada, hanya maya belaka.[8]
III. Kisah Mahabrata
Kuil
Dewi Sri Mariyamman adalah kuil agama Hindu yang pertama di Pematang Siantar,
yang didirikan pada tahun 1971 oleh bapak Musami. Awalnya jemaat Hindu masih
beribadah di rumah-rumah. Saat ini, jemaat Hindu di kota Pematang Siantar
berjumlah 40 kepala keluarga, yang mayoritas pekerjaannya ialah berdagang.
Mereka beribadah pada hari Jumat yang dimulai pada pukul 18.00 s-d 20.00 WIB yang dilayani oleh pandita
Mitun Sembiring.
Jemaat
Hindu ini adalah penganut aliran dewa Shiwa, yang mana dewi yang dipuja adalah
Sri Mariyamman. Dewi ini diyakini sebagai dewi yang penyabar. Aliran Shiwa
menekankan pola hidup yang bebas, seperti boleh menikah, bebas menentukan
makanan dan lain-lain. Namun, tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran. Sebaliknya, berbeda
dengan aliran Wisnu yang memiliki banyak larangan, seperti tidak boleh menikah
bagi kaum Pandita dan pola makanan jemaat yang harus vegetarian. Tentang carita
Mahabrata, jemaat ini telah memahaminya, khususnya Pandita Mitun, namun mereka
tidak meninggikan carita
tersebut di dalam ibadah dan kehidupan sehari-hari mereka. Hal ini dikarenakan
bahwa mereka adalah penganut aliran Shiwa, sedangkan carita Mahabrata diketahui beraliran
Wisnu.
Bhagavad-Gita semula disabdakan kepada dewa matahari,
Vivasvan, oleh Sri Krsna lebih dari 120 tahun. Bhagavad-Gita turun melalui
garis perguruan raja-raja yang suci. Bhagavad-Gita
sering diterbitkan dan dibaca sebagai sastra tersendiri, namun Bhagavad-Gita
juga tercantum sebagai satu babak dalam karya epos sejarah Mahabharata, sejarah
dunia pada masa lampau dalam bahasa Sansekerta. Mahabharata membicarakan
kejadian-kejadian menjelang jaman Kali. Pada
awal jaman ini, kurang lebih 50 abad yang silam, Sri Krsna menyabdakan
Bhagavad-Gita kepada Arjuna sebagai kawan dan penyembah-Nya. Percakapan antara
Krsna dengan Arjuna, salah satu di antara dialog-dialog filsafat kerohanian
yang paling mulia dalam masyarakat manusia terjadi sebelum perang saudara yang
berkecamuk hebat antara seratus putera Dhratarasta dengan Pandawa. Perang hebat
ini dinamakan “Bharatayuddha”.
Isi epos Mahabarata secara garis besar mengisahkan
kehidupan Santanu (Çantanu) seorang raja yang perkasa keturunan keluarga Kuru
dan bertakhta di kerajaan Barata. Bersama permaisurinya Dewi Gangga, mereka
dikaruniai seorang putra bernama Bisma. Pada suatu hari Çantanu jatuh cinta
pada seorang anak raja nelayan bernama Setyawati. Namun ayahanda Setyawati
hanya mau memberikan putrinya jika Çantanu kelak mau menobatkan anaknya dari
Setyawati sebagai putra mahkota pewaris takhta dan bukannya Bisma. Karena
syarat yang berat ini Çantanu terus bersedih. Melihat hal ini, Bisma yang tahu
mengapa ayahnya demikian, merelakan haknya atas takhta di Barata diserahkan
kepada putra yang kelak lahir dari Setyawati. Bahkan Bisma berjanji tidak akan
menuntut itu kapan pun dan berjanji tidak akan menikah agar kelak tidak
mendapat anak untuk mewarisi takhta Çantanu.
Perkawinan Çantanu dan Setyawati melahirkan dua orang
putra masing-masing Citranggada dan Wicitrawirya. Namun kedua putra ini
meninggal dalam pertempuran tanpa meninggalkan keturunan. Karena takut punahnya
keturunan raja, Setyawati memohon kepada Bisma agar menikah dengan dua mantan
menantunya yang ditinggal mati oleh Wicitrawirya, masing-masing Ambika dan
Ambalika. Namun permintaan ini ditolak Bisma mengingat sumpahnya untuk tidak
menikah.
Akhirnya Setyawati meminta kepada Wiyasa anaknya dari
perkawinan yang lain, untuk menikah dengan Ambika dan Ambalika. Perkawinan
dengan Ambika melahirkan Dhratarasta dan dengan Ambalika melahirkan Pandu. Dhratarasta
lalu menikah dengan Gandari dan melahirkan seratus orang anak, sedangkan Pandu
menikahi Kunti dan Madrim tapi tidak mendapat anak. Nanti ketika Kunti dan
Madrim kawin dengan dewa-dewa, Kunti melahirkan 3 orang anak masing-masing dengan dewa Darma lahirlah Yudistira, dengan dewa Bayu
lahir Werkodara atau Bima dan dengan dewa Surya lahirlah Arjuna. Sedangkan
Madrim yang menikah dengan dewa kembar Acwin, lahir anak kembar bernama Nakula dan Sadewa.
Selanjutnya, keturunan-keturunan itu dibagi dua
yakni keturunan Dhratarasta disebut Kaum Kurawa sedangkan keturunan Pandu
disebut kaum Pandawa.
Dhratarasta dan Pandu adalah kakak beradik yang
dilahirkan dalam dinasti Kuru, keturunan Raja Bharata, seorang raja yang pernah
berkuasa di bumi ini. Nama Mahabharata
diambil dari nama Raja Bharata itu. Oleh karena Dhratarasta, kakak Pandu,
tunanetra sejak lahir, Pandulah yang dinobatkan menjadi raja. Pandu
meninggal dunia dalam usia muda. Kelima Putera Pandu, Yudhisthira, Bhima,
Arjuna, Nakula dan Sadewa dibesarkan oleh Dhratarasta.
Dhratarasta menjadi pejabat untuk sementara waktu.
Putera-putera Dhrtarastra dan putera-putera Pandu dibesarkan dalam istana
kerajaan yang sama. Mereka dilatih ilmu militer oleh Guru Drona dan dibimbing oleh
“kakek” kelurga besar Kuru yang sangat dihormati, yaitu Bhisma. Namun para
putera Dhrtarastra, terutama putera sulungnya, Duryodhana, sangat benci dan iri
hati terhadap para Pandawa. Dhrtarastra buta
dan berjiwa jahat. Dhratarasta menginginkan putera-puteranya sendiri yang
mewarisi kerajaan, bukan putera Pandu. Karena itu, seizin Dhrtarastra,
Duryodhana menyusun siasat untuk membunuh putera Pandu yang masih muda. Hanya
karena perlindungan yang saksama dari Paman Vidura dan saudara misan Para Pandawa, Sri Krsna mereka selamat, meskipun nyawanya terancam berkali-kali. Sri Krsna
bukanlah manusia biasa, Sri Krsna adalah kepribadian
Tuhan Yang Maha Esa Sendiri, yang telah menjelma di bumi ini dan sedang
berperan sebagai pangeran dalam salah satu dinasti. Dalam peran ini, Sri Krsna
juga adalah keponakan Kunti atau Prtha, istri Pandu, ibu Pandawa. Sebagai sanak keluarga dan sebagai penegak
prinsip-prinsip dharma yang kekal,
Sri Krsna memberkahi dan melindungi para putera Pandu yang saleh. Akan tetapi,
akhirnya Duryodhana yang sangat licik mengajak para Pandawa bermain judi. Dalam kejadian perjudian yang
mengakibatkan nasib yang sangat buruk itu. Duryodhana dan saudara-saudaranya
mengambil Draupadi, isteri para Pandawa
yang sangat suci dan setia.
Duryodhana beserta kawan-kawan berusaha menghina Draupadi dengan cara membuka
pakaian Draupadi di hadapan sidang pangeran-pangeran dan raja-raja. Sri Krsna
turun tangan secara rohani hingga Draupadi selamat, tetapi
permainan dadu yang sudah diatur dengan cara yang tidak adil, mengakibatkan
para Pandawa tertipu hingga kehilangan kerajaannya dan terpaksa diasingkan ke hutan
selama tiga belas tahun. Sesudah para Pandawa kembali dari masa pengasingannya,
menurut hak yang sah mereka meminta supaya kerajaannya dikembalikan oleh
Duryodhana, namun Duryodhana menolak mentah-mentah mengembalikan kerajaan itu.
Sebagai pangeran-pangeran, para Pandawa wajib mengabdikan diri dalam
administrasi negara. Karena itu, para Pandawa meminta agar diberikan lima desa
saja oleh Duryodhana. Namun, Duryodhana sombong dan menjawab bahwa dia tidak
akan memberikan tanah seluas ujung jarum pun kepada Pandawa. Selama ini, para Pandawa
terus bersikap toleransi dan sabar. Tetapi, sekarang perang tampaknya tidak
dapat dihindarkan lagi.
Beberapa karakter dari pada Pandawa dan Kurawa
ialah:
PUNTADEWA adalah raja negara Amarta atau Indrapasta. Setelah perang Bharatayuddha Puntadewa menjadi raja Astina yang bergelar Prabu Kalimataya. Nama lain yang dipakai adalah: Darmawangsa, Darmakusuma, Kantakapura, Gunatalikrama, Yudistira, Sami Aji (sebutan dari Prabu Kresna). Sifatnya: jujur, sabar, hatinya suci, berbudi luhur, suka menolong sesama, mencintai orang tua serta melindungi saudara-saudaranya. Pusakanya bernama: Jamus Kalimasada, yang mempunyai kekuatan sebagai perlindungan dan petunjuk pada kebenaran serta kesejahteraan. Mempunyai dua isteri yaitu: Dewi Drupadi dan Dwi Kuntulwilaten.
PUNTADEWA adalah raja negara Amarta atau Indrapasta. Setelah perang Bharatayuddha Puntadewa menjadi raja Astina yang bergelar Prabu Kalimataya. Nama lain yang dipakai adalah: Darmawangsa, Darmakusuma, Kantakapura, Gunatalikrama, Yudistira, Sami Aji (sebutan dari Prabu Kresna). Sifatnya: jujur, sabar, hatinya suci, berbudi luhur, suka menolong sesama, mencintai orang tua serta melindungi saudara-saudaranya. Pusakanya bernama: Jamus Kalimasada, yang mempunyai kekuatan sebagai perlindungan dan petunjuk pada kebenaran serta kesejahteraan. Mempunyai dua isteri yaitu: Dewi Drupadi dan Dwi Kuntulwilaten.
BRATASENA. Setelah dewasa bernama Werkudara. adalah ksatria
Jodipati dan Tunggulpamenang. Pernah menjadi raja di Gilingwesi, dengan gelar
Prabu Tuguwasesa. Nama lain yang dipakai adalah: Bima, Bayusutu, Dandun Wacana, Kusuma WaliGita. Sifatnya: jujur,
tidak sombong, jiwanya suci, sangat patuh kepada guru-gurunya (terutama dengan
Dewa Ruci), mencintai ibunya serta menjaga saudara-saudaranya. Bila berperang
semboyannya adalah menang, bila kalah berarti mati. Bratasena adalah merupakan
suri tauladan kehidupan dengan sifat yang jujur dan jiwanya suci. Pusakanya
adalah: Kuku Pancanaka di tangan kanan dan kiri sangat ampuh, sangat kuat dan
tajam. Selain kuku pancanaka Werkudara juga mempunyai kekuatan angin (lima
kekuatan angin), serta dapat membongkar gunung. Mempunyai dua permaisuri yaitu:
Arimbi dan Nagagini. Dengan Arimbi mendapatkan putra bernama Gatotkaca, yang
dapat terbang tanpa sayap. Dari perkawinannya dengan Nagagini memperoleh putra
bernama Antasena yang dapat masuk ke dalam bumi dan menguasai samudera.
Bratasena pada waktu lahir dalam keadaan bungkus. Yang menyobek bungkus
tersebut adalah Gajah Situ Seno. Pada waktu itu Gajah Situ Seno masuk ke dalam
tubuh Bratasena, sehingga mempunyai kekuatan luar biasa dan bisa menyobek
bungkus tersebut.
ARJUNA
adalah ksatria Madukara, juga menjadi raja di Tinjomoya. Nama lain yang dipakai
sangat banyak, antara lain: Janaka, Parta, Panduputra, Kumbawali, Margana,
Kuntadi, Indratanaya, Prabu Kariti, Palgunadi, Dananjaya. Sifatnya: Suka
menolong sesama, gemar bertapa, cerdik dan pandai, ahli dibidang kebudayaan dan
kesenian. Arjuna adalah ksatria yang sakti mandraguna, kekasih para Dewa, ia
adalah titisan Dewa Wisnu. Istri Arjuna banyak sekali, ia dijuluki lelananging
jagad, parasnya sangat tampan dan tidak ada tandingannya. Permaisurinya di
arcapada adalah Wara Sumbadra dan Wara Srikandi. Selain itu masih banyak lagi
istri-istrinya antara lain: Rarasati, Sulastri, Gandawati, Ulupi, Maeswara, dan lainnya. Permaisuri di kahyangan antara lain Dewi Supraba, Dewi
Dersanala pada bidadari di Tinjomaya. Arjuna berjiwa ksatria, berjiwa luhur,
suka menolong, serta kesayangan para Dewa. Tetapi ada kelemahan yang tidak
boleh diteladani dan diterapkan pada jaman
sekarang yaitu beristri banyak.
NAKULA
adalah anak ke empat Prabu Pandu Dewanata dengan Dewi Madrim yang lahir kembar
dengan Sadewa. Ayah dan ibunya (Madrim) meninggal pada waktu si kembar masih
kecil, oleh karena itu sejak kecil mereka diasuh oleh ibu Kunti dengan tidak
membedakan antara satu dengan lainnya. Setelah perang Bharatayuddha Nakula dan Sadewa menjadi raja di Mandraka dengan
Sadewa. Nama lain adalah Raden Pinten. Nakula adalah ahli dalam bidang
Pertanian. Pada waktu perang Bharatayuddha, Nakula dan Sadewa yang bisa meluluhkan
hati Prabu Salya (dari pihak Kurawa). Sebab Prabu Salya adalah saudara Dewi
Madrim, selain itu sebenarnya dalam hatinya memihak pada kebenaran yaitu
Pandawa. Akhirnya Prabu Salya memberitahukan kepada Nakula dan Sadewa bahwa
yang bisa mengalahkannya hanyalah Puntadewa, karena Puntadewa berdarah putih.
SADEWA
adalah anak kelima Prabu Pandu dengan Madrim, dilahirkan kembar dengan Nakula.
Setelah perang Bharatayuddha Sadewa menjadi raja dengan Nakula di Mandraka.
Nama kecil Sadewa adalah Raden Tangsen. Sadewa adalah ahli dalam bidang
peternakan. Ia kawin dengan Endang Sadarmi, anak Bagawan Tembangpetra dari
Pertapaan Parangalas, dan mempunyai putra bernama Sabekti. Dengan adanya
sifat-sifat Pandawa yang seperti tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa
dengan adanya Pandawa, kerajaan Amarta menjadi kerajaan yang kuat, aman, adil
dan makmur. Hal ini dapat dibuktikan selain dengan sifat-sifat mereka yang
jujur, membela kebenaran dan sebagainya, juga berkat kemampuan disegala bidang.
Puntadewa adalah ahli dalam bidang kerohanian, ahli dalam hal bertapa, ia
berdarah putih, tokoh ini mementingkan perdamaian, persatuan, kesejahteraan
bersama. Werkudara adalah tokoh yang menguasai keamanan, kekuatannya tidak
tertanding, apalagi dengan kehadiran kedua putranya dimana Gatotkaca menguasai
keamanan samudera (laut) dan darat.
Arjuna adalah tokoh yang sakti, pemanah yang ulung, suka
menolong sesama, rasa kemanusiaannya tinggi, tutur katanya lembut, ahli dalam
bidang kebudayaan dan kesenian, ahli dalam bidang bertapa. Tetapi ada satu hal
kelemahannya yaitu terlalu banyak istri. Pada zaman dulu istri merupakan
lambang kehormatan, bisa juga sebagai upeti waktu memenangkan perang, berbeda
halnya dengan sekarang apalagi dengan adanya PP. 10 th. 1983 yang mengatur
tentang perkawinan. Si Kembar Nakula dan Sadewa adalah tokoh yang mencerminkan
tingkah laku untuk mencapai kesejahteraan/kemakmuran hidup, karena Nakula
adalah ahli dan tekun dalam bidang pertanian, sedangkan Sadewa ahli dan tekun
dalam bidang peternakan.
Sebenarnya Pandawa masih mempunyai saudara tua yang
bernama Adipati Karno, semasa kecil dinamakan Suryatmaja. Suryatmaja adalah
putra Dewi Kunti dengan Dewa Surya sebelum menikah dengan Pandu. Ini disebabkan
adanya perbuatan serong Dewa Surya yang bisa mengakibatkan Kunti menjadi hamil.
Akhirnya Dewa Surya bertanggung jawab atas perbuatannya itu dengan jalan, pada
waktu melahirkan bayi (Suryatmaja) keluar lewat telinga, dengan demikian maka
Kunti dianggap masih suci. Bayi yang diberi nama Suryatmaja kemudian dilarung
(dihanyutkan) di sungai Yamuna yang kemudian diketemukan oleh Prabu Radeya
di Petapralaya (dibawah kekuasaan Astina).
Karena merasa dibesarkan dan bukti wibawa di
Astina, maka pada waktu perang Bharatayuddha Adipati Karna berjuang dengan
gagah berani untuk membela negaranya. Ia menjadi senapati perang di pihak
Astina, tetapi akhirnya karna gugur oleh adiknya sendiri yaitu Arjuna. Adipati
Karna adalah suri tauladan sebagai pahlawan yang gigih membela negara, meskipun
rajanya (Astina) dipihak yang salah tetapi bagaimanapun juga negaranya harus
dibela dari kehancuran, yang dibuktikan sampai titik darah penghabisan.
KURAWA.
Tokoh Antagonis. Kejahatan sangat terlihat pada jiwa para Kurawa. Mereka
terlahir dari rahim Ratu Gandari dan Raja Destarata. Kurawa terdiri dari 100
anak. Yang mana anak tertuanya bernama Duryudana.
Para
pangeran dan raja dunia terpecah menjadi dua kelompok. Beberapa di antaranya
memihak putera-putera Dhrtarastra, sedangkan yang lain memihak kepada para Pandawa.
Selama ini, Sri Krsna sendiri berperan sebagai duta untuk para putera Pandu dan
pergi ke istana Dhratarasta dengan usul perdamaian. Akan tetapi, justru usul
ini ditolak, sehingga perang tidak dapat dicegah lagi. Para Pandawa mempunyai prinsip-prinsip moral
yang paling tinggi dan mereka mengakui Krsna sebagai Kepribadian Tuhan Yang
Maha Esa, sedangkan para putera Dhrtarastra yang jahat tidak mau mengakui
Krsna. Namun, Krsna bersedia ikut perang menurut kehendak kedua belah pihak.
Sri Krsna, Tuhan Yang Maha Esa, tidak bersedia bertempur secara pribadi, tetapi
salah satu di antaranya diperbolehkan memanfaatkan tentara Sri Krsna, sedangkan
pihak yang lain dapat memanfaatkan tenaga Krsna sebagai penasihat dan
pendukung. Duryodhana adalah seorang yang jenius dalam bidang politik.
Duryodhana segera meminta tentara Sri Krsna, sedangkan para Pandawa pun
semangat sekali mendapat bantuan Sri Krsna sebagai penasihat.
Dengan
cara inilah, Sri Krsna menjadi kusir kereta Arjuna. Sri Krsna bersedia
mengemudikan kereta Arjua, pemanah termasyur.
Pertempuran berlangsung selama 18 hari
penuh. Dalam pertempuran itu, banyak ksatria yang gugur, seperti misalnya Abimanyu, Drona, Karna, Bisma, Gatotkaca, Irawan,
Raja Wirata
dan puteranya, Bhagadatta, Susharma, Sangkuni,
dan masih banyak lagi. Selama 18 hari tersebut dipenuhi oleh pertumpahan darah
dan pembantaian yang mengenaskan. Pada akhir hari ke-18, hanya sepuluh ksatria
yang bertahan hidup dari pertempuran, mereka adalah: Lima Pandawa, Yuyutsu, Satyaki, Aswatama, Krepa dan Kretawarma.
Titik pusat Bhagavad-Gita adalah melakukan atau memuaskan indria-indria Tuhan Yang Maha Esa daripada
indria-indria jasmani. Kedudukan Krsna
yang mutlak sulit dipahami oleh orang yang bukan penyembah Krsna dalam sistem parampara (garis keturunan). Tafsiran
oleh orang tersebut tentang Bhagavad-Gita disebut Mayavada-bhasya.
3.5 Nilai-nilai Kehidupan dari Carita
Mahabrata
Carita Mahabrata ini banyak mengajarkan kepada kita
tentang nilai-nilai-kemanusiaan.
Beberapa nilai yang hendak disampaikan dalam carita Mahabharata ini ialah
tentang “nilai perjuangan dan nilai
kepahlawanan”, yang selalu dibuktikan dengan suatu kebenaran di pihak
orang-orang yang benar hidupnya. Selain itu ialah bagaimana menjalani hidup dengan saling menjaga, merawat dan membina hubungan baik
satu sama lain. Dalam setiap hal-hal yang terjadi dalam kehidupan ini selalu
memiliki arti dengan Ketuhanan, artinya tidaklah bisa terlepas kehidupan
manusia dengan keberadaan Tuhan itu sendiri. Selalu ada peran Tuhan dalam
setiap hal yang terjadi dalam kehidupan setiap manusia. Alam sebagai lingkungan
hidup juga memiliki hubungan kepada manusia. Alam di muka bumi ini memiliki
keterkaitan yang erat terhadap manusia.Sebab, kebenaran Tuhan akan
selalu terbukti tepat pada saatnya.
Alasan mengapa semua benda yang hidup terus menerus
dilahirkan kembali adalah karena, hukum sebab akibat. Yakni,
setiap orang hendaknya dapat hidup dalam kebenaran dan meninggalkan segala
perbuatannya yang jahat. Orang
Hindu percaya bahwa karma yang menumpuk dalam kehidupan sebelumnya pindah ke
masa kini dan sangat menentukan wujud kelahiran jiwa kembali. Setiap orang
Hindu berusaha menghindarkan diri dari efek karma pada kelahiran kembali
berikutnya dengan melakukan perbuatan amal dan hidup dengan tidak mementingkan
diri sendiri. Bhagavad-Gita mengajarkan bahwa itulah satu-satunya cara supaya
dapat dilahirkan kembali dengan sesedikit mungkin karma. Karma yang buruk
memastikan bahwa jiwa manusia akan kembali pada kehidupan yang akan datang
dengan tingkat yang lebih rendah.
3.6 Kesinambungan dengan Ajaran Kekristenan
Di dalam kitab Bhagadva-Gita, ada satu dialog antara
Sri Krsna dan Arjuna yang mana Sri Krsna menjawab keluh kesah Arjuna (yang kita
tahu bahwa Arjuna memiliki rasa prikemanusiaan yang tinggi) karena Arjuna harus
berperang melawan saudaranya sendiri. Di dalam dialog ini Sri Krsna menjawab
keluh kesah Arjuna dengan sangat baik. Sri Krsna menekankan kepada Arjuna bahwa
bagaimanapun juga, kebenaran harus ditegakkan walaupun lawan kita adalah
saudara kita sendiri. Hal ini sesuai dengan ajaran kekristenan yang mengajarkan
tentang kebenaran, seperti yang tertulis di dalam Perjanjian Lama (Imamat
19:15) mengatakan, “Janganlah kamu
berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan
tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar,
tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran”. Selain
itu, Roma 5:21 mengatakan, “supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih
karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus
Kristus, Tuhan kita”
sehingga dari cerita
Mahabharata ini, hal-hal yang dapat memberikan
pelajaran hidup bagi manusia antara lain:
1. Kebenaran
akan selalu ditunjukkan oleh Tuhan tepat pada waktunya.
2. Setiap
manusia hendaknya hidup dalam kebenaran Tuhan dan memperjuangkan kebenaran itu
walau harus dengan pertempuran.
3. Di dalam memecahkan suatu masalah, alangkah baiknya jika dilakukan dengan suatu dialog untuk menghindarkan konflik yang dapat menciptakan
terjadinya perlawanan fisik, sebab hal ini diperlukan dalam
menciptakan suatu kedamaian .
4. Setiap
orang yang mengambil yang bukan bagiannya hanyalah menciptakan “bomerang” bagi
dirinya sendiri.
IV.Kesimpulan
Adapun beberapa kesimpulan
dari tulisan ini ialah sebagai berikut:
1. Bhagavad-Gita adalah
bagian dari Mahabharata yang merupakan sastra
spiritual kuno yang paling disukai dalam Hinduisme. Kitab ini memaparkan
percakapan antara Bhatara Krsna dan sang pahlawan Arjuna di medan perang.
2. Mahabharata
sebagai salah satu bentuk reformasi dari agama Hindu yang terjadi pada ke-2 sM
yang yang dilakukan oleh Ksatria di tengah-tengah kejenuhan masyarakat India
pada masa itu, khususnya dalam agama dan politik. Bhagavad-Gita dianggap suci atau keramat bagi
orang Hindu dan tergolong kepada tulisan-tulisan yang terindah di dunia
mengenai agama.
3. Mahabharata mengajarkan bahwa kebenaran merupakan
sumber kemajuan bagi segala bangsa sementara kejahatan pada akhirnya
mengakibatkan kehancuran. Hal ini sesuai dengan ajaran kekristenan yang
mengajarkan tentang kebenaran yang ditekankan dalam Alkitab, khususnya dalam
tindakan Yesus Kristus semasa hidupnya di dunia.
DAFTAR
PUSTAKA
Hadiwijono, Harun
2008 Agama Hindu dan Budha, Jakarta: BPK
Gunung
Mulia, 2008
Honig, Jr. A. G.
2005 Ilmu Agama, Jakarta: BPK Gunung Mulia
Srimad A. C. Sri
Bhaktivedanta Swami
Prabhupada Bhagavad-Gita Menurut Aslinya,
Sumber
Lain:
Disampaikan oleh dosen Pdt.
PNB. Pardede, M. Th dalam perkuliahan Agama Hindu dan Budha, pada Selasa 22
Februari 2011 pertemuan ke- 6
Hasil wawancara kelompok
kepada Pandita Mitun Sembiring, pada hari Jumat, 25 Februari 2011 pukul.
18.00-20.00 WIB di kuil Sri Mariyamman
Admin, http://id.wikipedia.org/wiki/Mahabharata,
dikunjungi pada Jumat 25 Februari 2011, pukul 17.00 WIB
Amanda Sastranegara, http://mandow.multiply.com/market/item/11, dikunjungi pada Jumat 25 Februari 2011, pukul 17.00 WIB
Admin, http://id.shvoong.com/books/classic-literature/2052997-kisah-mahabarata/,
dikunjungi pada Kamis, 10 Maret 2011, pukul 20.40 WIB
[1]Bhagavad-Gita
adalah bagian dari Mahabharata dan merupakan sastra spiritual kuno yang paling
disukai dalam Hinduisme. Kitab ini memaparkan percakapan antara Bhatara Krsna
dan sang pahlawan Arjuna di medan perang.
[2] Disampaikan oleh dosen Pdt. PNB.
Pardede, M. Th dalam perkuliahan Agama Hindu dan Budha, pada Selasa 22 Februari
2011 pertemuan ke- 6
[3]
Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Budha, (Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2008), hlm. 37
[5] A. G. Honig, Jr. Ilmu Agama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005), hlm. 149-150
[6] Ibid,
hlm. 151
[7] Ibid,
hlm. 149-150
[9] Hasil wawancara kelompok kepada
Pandita Mitun Sembiring, pada hari Jumat, 25 Februari 2011 pukul. 18.00-20.00
WIB di kuil Sri Mariyamman
[11] Admin, http://id.shvoong.com/books/classic-literature/2052997-kisah-mahabarata/, dikunjungi pada Kamis, 10 Maret 2011, pukul 20.40 WIB
[12] Sri Srimad A. C. Bhaktivedanta Swami
Prabhupada, Op. Cit
[13] Amanda Sastranegara, http://mandow.multiply.com/market/item/11,
dikunjungi pada Jumat 25 Februari 2011, pukul 17.00 WIB
[14] Sri Srimad A. C. Bhaktivedanta Swami
Prabhupada, Op. Cit
Labels:
Tokoh dan Sejarah
Thanks for reading CARITA MAHABHARATA. Please share...!


0 Comment for "CARITA MAHABHARATA"