![]() |
| Ilustrasi Hari Tuhan |
1. Kedatangan Yesus
Kristus kedua kalinya[1]
sebagai penggenapan Hari TUHAN
Salah satu ciri nubuatan eskatologis
PL adalah kepercayaan akan datangnya Hari TUHAN. Pada hari itu Tuhan akan
datang dan campur tangan dalam sejarah dunia untuk menghakimi manusia dan
menegakkan keadilan-Nya.
Maleakhi melihat pemusnahan orang-orang fasik dan
keselamatan orang-orang yang melayani TUHAN pada Hari TUHAN sebagai babak
terakhir sejarah dunia ini[2]. Oleh karena itulah S.H. Widyapranawa
mengatakan[3]:
“Sebenarnya Hari TUHAN dalam arti
mutlak barulah akan datang pada akhir segala zaman”.
Artinya
Hari TUHAN dipercayai telah digenapi dalam sejarah kehidupan bangsa Israel dan
akan terus digenapi dalam sejarah dunia sampai pada penggenapannya yang
terakhir pada akhir zaman.
“Apart from all the intervening judgments in the course of this
history of God’s people, the central fulfillment is to be related to the first
coming of Christ, just as the final fulfillment must be seen in connection with
His coming again”[4].
Jadi nubuatan Hari TUHAN dalam PL
secara mutlak dan untuk yang terakhir kalinya akan digenapi dalam kedatangan
Yesus Kristus kedua kalinya. Pada saat itu berakhirlah sejarah nubuatan Hari
TUHAN.
“Hari TUHAN menjadi masa peralihan dari zaman sekarang menuju suatu zaman
yang baru, yaitu masa didirikannya pemerintahan Mesias”[5].
Pada
waktu Yesus datang ke dunia yang diakui oleh orang Kristen sebagai Mesias
dipercayai bahwa zaman yang baru itu telah dimulai, tetapi harapan akan
kedatangan Mesias yang kedua kalinya pada akhir zaman tetap diyakini[6].
PB sendiri juga menggunakan istilah “Hari
TUHAN” (hmera Kuriou) untuk menyatakan kedatangan Tuhan (Mesias) pada akhir zaman (Luk.
21:34; Kis. 2:20; 1 Kor. 1:8;
3:13; 1 Tes. 5:2; 2 Tes. 2:2; 2 Tim.
1:12; Ibr. 10:25; 2 Ptr. 3:10; Wah. 1:10) dan semuanya menunjuk kepada
kedatangan Yesus Kristus kedua kalinya.
Kedatangan
Yesus Kristus kedua kali diberitakan secara tegas dan jelas dalam PB, baik oleh
Yesus sendiri (Mat. 16:27; 23:39; 24:27; Yoh. 14:3; 14:28, dll), maupun penulis-penulis
kitab PB seperti Lukas (Kis. 1:11) dan Paulus (1 Kor. 1:7; 15:23; Kol. 3:4; 1 Tes.
1:10, dll). Pemberitahuan ini bukanlah untuk memberikan bahan-bahan perhitungan
tentang saat yang pasti akan kedatangan Hari Tuhan. Hari Tuhan itu akan datang
seperti pencuri pada malam hari(1 Tes. 5:2) dan tidak seorangpun yang mengetahuinya. Hal ini secara
jelas dinyatakan oleh Yesus sendiri:
“Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu,
malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja”[7].
(Mark. 13:32; bnd. Mat. 24:36)
2.
Hari TUHAN Sebagai Hari Penghakiman Terakhir
Pada Hari TUHAN semua manusia akan
dihakimi dan hakimnya adalah Yesus Kristus (Yoh. 5:22; Kis. 10:42; 17:31; 2
Kor. 5:10; 2 Tim. 4:1; 1 Tes. 4:16). Semua orang akan dihakimi,
baik yang hidup pada waktu itu, baik yang sudah meninggal yang akan
dibangkitkan untuk dihakimi, baik orang yang benar, maupun orang fasik (Mat.
25:46)[8].
Pada saat itu Yesus akan ‘membalas setiap orang menurut perbuatannya”[9]
(Mat. 16:27). Ayat ini tidak menyebutkan tentang baik atau jahat, jadi tentu
mencakup keduanya. Gagasan pembalasan sama seringnya dengan gagasan mengenai
penghukuman, dan keduanya harus dipertimbangkan untuk mendapat gambaran yang
benar mengenai penghakiman[10].
Kata ‘penghakiman’ sebenarnya tidak
hanya berarti penghukuman, tetapi pertama-tama berarti pembebasan, pertolongan,
pembelaan hak khususnya dari orang-orang
yang tertindas, yang
lemah, yang miskin,
yang menderita. Jadi ‘menghakimi’ berarti membela hak-hak orang-orang yang
tertindas, memberikan keadilan kepada orang-orang lemah, menolong orang yang
miskin[11].
Oleh karena itu Berkhof mengatakan[12]:
“Penghakiman akan berarti keselamatan bagi orang-orang yang ditindas
dan orang-orang yang kehilangan haknya, bagi orang-orang yang diinjak-injak dan
orang-orang yang disiksa”.
Pemahaman ini jelas digambarkan oleh Maleakhi dalam
nubuatannya tentang Hari TUHAN. Pada hari itu orang fasik akan dibakar seperti
jerami sebagai hukuman baginya, tetapi orang benar yang selama ini menderita,
ditindas akan menerima kesembuhan, kegembiraan dan kemenangan atas orang fasik.
Dengan kata lain orang benar diberikan hak yang seharusnya, yaitu keselamatan,
dan orang fasik penghukuman.
Gambaran yang sama juga diberikan oleh Yesus
dalam Matius 25:31-46 mengenai
penghakiman terakhir. Pada hari kedatangan-Nya kelak Yesus akan mengumpulkan
semua bangsa dan menghakimi mereka. Penghakiman ini didasarkan atas perbuatan
manusia kepada ‘orang yang lapar, orang yang haus, orang asing, orang
telanjang, orang sakit, orang yang dalam
penjara’. Yesus mengatakan:
“Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari
saudara-Ku yang hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40)[13].
Artinya dasar penghakiman Yesus adalah perbuatan manusia
kepada semua sesamanya. Demikianlah
di satu sisi kedatangan Hari TUHAN adalah untuk membebaskan, menolong, dan
membela hak manusia, khususnya mereka yang tertindas, yang lemah, yang miskin
dan yang menderita. Di sisi lain kedatangan Hari TUHAN adalah untuk menghukum
mereka yang melakukan penindasan, penderitaan dan ketidakadilan kepada
sesamanya manusia. Jadi pewartaan kedatangan Hari TUHAN mempunyai makna ganda
yaitu penghiburan dan pengharapan bagi orang yang menderita, tetapi peringatan
bagi orang yang melakukan penindasan. Bagi posisi yang tertindas Hari TUHAN
adalah hari keselamatan (bnd. Ef. 4:30), tetapi bagi posisi penindas Hari
TUHAN itu adalah hari penghakiman dan murka
Allah (bnd. Rom. 2:5).
Pewartaan
kedatangan Hari TUHAN membawa makna yang sangat besar bagi kehidupan sekarang.
Dengan pewartaan itu manusia akan sadar bahwa hidup sekarang ini adalah hidup
yang penuh pertanggungjawaban. Hidup sekarang ini mempunyai hubungan yang erat
dengan hidup masa mendatang. Oleh karena itu Gereja dan orang Kristen harus
selalu mengingat dan mewartakan bahwa ‘Yesus Kristus sebagai Mesias dan Hakim
akan datang kembali pada Hari TUHAN, dan Hari TUHAN akan datang sebagai hari
penghakiman terakhir’.
3. Tugas Orang Kristen dan Gereja Dalam Menanti
Kedatangan Hari TUHAN
Apabila
dikatakan kedatangan Hari TUHAN sudah
dekat, maka hal itu memberi kesadaran bagi orang-orang Kristen dan Gereja bahwa
saat ini adalah masa penantian. Masa penantian ini adalah masa anugerah untuk mempersiapkan
diri sebaik mungkin untuk menyambut kedatangan-Nya. Penantian dalam hal ini
adalah penantian yang aktif untuk mewujudkan kehendak Allah di dunia ini.
Gereja
sebagai ‘persekutuan keselamatan eskatologis’ adalah persekutuan yang diutus ke
luar. Kristuslah yang memanggil, mengumpulkan dan membenarkan gereja, dan
Kristus jugalah yang mengutus gereja kepada dunia. Persekutuan Kristen tidaklah
hidup dari dan untuk dirinya sendiri, tetapi dari dan untuk Kristus yang telah
dan yang akan datang. Untuk itu orang Kristen dan Gereja harus mengikuti misi
Kristus untuk melayani dunia. Gereja Kristus adalah ‘gereja untuk dunia’,
artinya gereja melayani dunia, bekerja di dunia untuk menyuarakan misi Kristus.
Gereja bertugas mewujudkan pemerintahan Mesianis dan pengharapan eskatologis
tentang Kerajaan Allah, kebenaran, damai, kebebasan dan keadilan. Gereja
Kristus melayani bukan supaya dunia tetap sebagaimana adanya sekarang, tetapi
untuk mengubah dunia seperti yang telah dijanjikan.
“This means in practice that Christianity takes up mankind – or to
put it concretely, the Church takes up the society with which it lives – into
its own horizon of expectation of the eschatological fulfilment of justice,
live, humanity and sociability”[14].
Gereja
tidak lagi hanya mewartakan kedatangan Hari TUHAN sebagai kedatangan Kristus
kedua kali, tetapi bersama-sama dengan orang Kristen bertugas mewujudkan misi
kedatangan Kristus ke dunia. Ajaran tentang kedatangan Hari TUHAN mempengaruhi
keterlibatan orang Kristen dan Gereja pada masalah-masalah dalam masyarakat,
yaitu masalah kedamaian, keadilan, persamaan hak, toleransi, keprihatinan bagi
orang yang tak berdaya dan lemah, kasih sejati bagi sesamanya. Singkatnya orang
Kristen dan Gereja yang sedang menantikan kedatangan Hari TUHAN bertugas
memperjuangkan dan menciptakan pemerintahan Mesianis, suatu dunia yang penuh
kedamaian dan keadilan. Dengan demikian Hari TUHAN itu akan menjadi keselamatan
dan bukan penghukuman.(WNS)
[1] Istilah ‘kedatangan Yesus
kedua kalinya’ yang dipakai untuk mengungkapkan kedatangan Yesus pada akhir
segala zaman tidak terdapat dalam PB. Istilah ini digunakan untuk membedakan
kedatangan Yesus pada akhir zaman dengan kedatangan-Nya yang pertama, ketika
Kristus lahir di Betlehem. Harun Hadiwijono, Iman Kristen, (Jakarta: BPK-GM, 1997), hlm. 479. Istilah yang umum
digunakan dalam PB untuk menyatakan kedatangan Kristus kedua kalinya ialah
parousia (kedatangan, 1 Kor. 16:17; 2 Kor. 7:6-7; Fil. 1:26), apokalypsis
(penyataan, wahyu, 2 Kor. 12:1.7; Gal. 1:12; 1 Kor. 14:6.26; Wah. 1:1) dan
epiphania (penyataan, pemunculan, kedatangan, 2 Tes. 2:8; 1 Yoh. 2:28). Lebih
jelasnya baca J.L.Ch. Abineno, Sekali
Lagi Pengharapan Kristen, (Jakarta: BPK-GM, 1983), hlm. 41-43, yang
mengutip P.S. Minear (Christian Hope and The Second Coming, 1954).
[2] Christoph Barth dan Marie
Claire, Teologi PL 4, (Jakarta:
BPK-GM, 1993), hlm. 130.
[4] Pieter A. Verhoef, The New International Commentary on The
Old Testament: The Books of Hagai & Malachi, (Grand Rapids, Michigan:
William B. Publishing Co., 1986), hlm. 325. (Terjemahan: Selain dari pada
seluruh penghukuman-penghukuman dalam perjalanan sejarah umat Allah,
penggenapan utama dihubungkan dengan kedatangan Kristus yang pertama, dan
penggenapan yang terakhir harus dilihat dalam hubungan dengan kedatangan-Nya
kembali).
[5] Donald Guthrie, Teologi PB 3, (Jakarta: BPK-GM, 1998),
hlm. 130.
[6] Donald Guthrie, Ibid., hlm. 130.
[7] Ayat ini menimbulkan masalah sehubungan dengan terbatasnya
pengetahuan Yesus sendiri akan kedatangan-Nya, tetapi cukup jelas bahwa waktu
kedatangan itu tidak mungkin diramalkan secara tepat. Pernyataan bahwa waktu
itu ada di tangan Bapa memperkuat keteguhan keyakinan yang diungkapkan Yesus
bahwa setiap bagian dari misi-Nya berada di bawah pengetahuan Allah. Ibid.,
hlm. 134.
[8] Bnd.
Pengakuan Iman Rasuli yang mengatakan “dan dari sana akan datang kelak untuk
menghakimi orang yang hidup dan yang mati”.
[9] Pemahaman
ini seolah-olah bertentangan dengan ajaran kekristenan tentang sola fide (hanya
karena iman, bnd. Rom. 5:1). Sebenarnya “percaya dan perbuatan” bukan merupakan
pertentangan, sebab kepercayaan bukanlah suatu teori atau pendapat. “Percaya”
berarti hidup dalam kepercayaan; percaya
yang hidup menghasilkan perbuatan-perbuatan yang baik (Yak. 2:14-26).
“Perbuatan baik” bukanlah hanya amalan-amalan yang istimewa, tetapi adalah
mengenai segenap tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Percaya adalah
perbuatan, perbuatan yang menentukan. G. C. van Nifrik dan B.J. Boland, Dogmatika Masa Kini, (Jakarta:
BPK-GM, 1997), hlm. 320.
[10] Donald Guthrie, Op.cit., hlm.
197.
[11] Kata ‘menghakimi’ yang dimaksud di sini adalah terjemahan dari kata
Ibrani ‘syafat’. Kata ini mempunyai isi yang lebih kaya dan lebih positif dari
pada kata menghakimi. ‘Syafat’ berarti menempatkan kembali seseorang atau
sesuatu di tempatnya semula, di tempat yang tepat, sesuai dengan kehendak
Allah. Dalam PL pekerjaan ‘syafat’ ini adalah khususnya pekerjaan Allah sebab
dunia ini kacau dan tidak teratur. Segala sesuatu yang ada di dalamnya rusak
dan bobrok, tidak sesuai dengan kehendak Allah. Orang yang benar dan rendah
hati ditindas. Orang yang lemah dan miskin makin menderita. Orang yang kaya dan
berkuasa makin merajalela. Keadilan diinjak dan kebenaran diperkosa. Semua ini
bertentangan dengan kehendak Allah, sehingga Ia bertindak sebagai Hakim. Ia
merendahkan yang satu dan meninggikan yang lain (Mzm. 75:8; bnd. Mzm. 9:4-5;
10:17-18; 103:6). Dalam PB pekerjaan ‘syafat’ ini khususnya adalah pekerjaan
Yesus Kristus. J.L. Ch. Abineno, Op.cit.,
hlm. 70-71.
[12] J.L.Ch. Abineno mengutip Berkhof (Gegronde
Verwachting, 1968), Ibid., hlm. 71.
[13] Donald Gutrie, Op.cit., hlm. 200-202. Kata ‘saudara’ dalam ayat ini menjadi
perdebatan para ahli. Ada yang mengatakan saudara yang dimaksud Yesus adalah
bangsa-Nya sendiri, rasul-Nya, sisa
orang Yahudi yang akan memberitakan Injil atau semua orang yang
membutuhkan bantuan. Masing-masing penafsiran ini mempunyai kelemahan
masing-masing. Guthrie mengatakan ‘saudara’ dalam hal ini adalah semua manusia.
[14] Jurgent Moltmann, Theology of Hope, (London: SCM Press
Ltd, 1967), hlm. 325-328. (Terjemahan: Dalam prakteknya ini berarti bahwa
kekristenan yang berarti manusia, atau secara konkritnya, Gereja membawa masyarakat yang di dalamnya dia hidup – ke
dalam pengaharapannya sendiri yang horizon tentang penggenapan keadilan,
kehidupan, kemanusiaan dan kemasyarakatan yang eskatologis).
Labels:
RENUNGAN
Thanks for reading REFLEKSI TEOLOGIS AKAN HARI TUHAN. Please share...!


0 Comment for "REFLEKSI TEOLOGIS AKAN HARI TUHAN"