![]() |
| ILUSTRASI DUNIA TEMPAT TINGGAL MANUSIA |
I.
PENDAHULUAN
Manusia adalah bagian
yang paling penting dari alam semesta ini. Ke dalam dunia inilah manusia
dilahirkan, dan di dalamnya mereka hidup sampai mereka mati. Dunia itulah
dunianya orang laki-laki dan perempuan, dari daging dan darah yang dikasihi
oleh Allah.
Dalam kisah penciptaan alam, Allah menciptakan semuanya
dari yang tidak ada menjadi ada, kecuali kisah penciptaan manusia. Di mana
manusia yang diciptakan dari debu tanah dan yang menurut gambar dan rupa Allah.
Jadi, manusia dipercayai untuk menjalankan fungsinya sebagai wali atau kuasa
usaha-Nya di tengah alam semesta. Allah menggunakan manusia sebagai rekan
sekerja-Nya yang secara modern dapat dikatakan bahwa manusia adalah sebagai
orang yang mengusahakan dan memelihara tanah (Kej 2:5).
II.
PEMBAHASAN
Di dalam Perjanjian Lama, ada beberapa kata Ibrani yang
mengartikan dunia yaitu: ארץ yang paling sering diterjemahkan sebagai
“bumi, tanah” (tanah dari Mesir, Bil 1:1), “negeri” (Kej 12:1), “tanah” (Ulg
15:23). תבל yang digunakan hanya pada ilmu syair puisi, tidak pernah dibuat
dalam artikel. חלד dan חדל dari lima alur yang mana חלד adalah mendirikan, kata
ini berhubungan dengan Arabic halada
(tinggal, melanjutkan), huldun (abadi)
dan karena itu sejajar untuk αιών bukan
κόσμος. Dan חעולם dapat dikatakan sebagai “dunia” dan pada umumnya artinya adalah
“waktunya panjang”.
Di dalam Perjanjian Baru, istilah dunia berasal dari
tiga kata Yunani yaitu οίκουμένη, αίών, dan κόσμος yang artinya “dunia” dalam
bahasa Inggris Perjanjian Baru. Ketiga kata tersebut di mana beberapa dari
pengertiannya hampir sama dan dapat sekali-kali, seperti yang nyatanya,
menemukan satu dengan yang lain. Οίκουμένη adalah sebuah singkatan dari (ή)
οίκουμένη (γή) “tempat tinggal atau bumi”. Αίών, kata ini seperti עולם
umumnya berarti yang waktunya lama atau panjang. Κόσμος (dunia), sebagian besar
pengertiannya diperoleh dalam penulis Yunani yang digambarkan dalam Perjanjian
Baru, tetapi kata ini sampai pada pengertian yang lain di mana tidak mempunyai
kesejajaran di Perjanjian Baru dan kesusastraan yang langsung dipengaruhi oleh
hal tersebut.
Pengertian manusia di dalam Perjanjian Lama, dalam
bahasa Ibrani ada lima
pengertian dari manusia. אדם “kemanusiaan” (sejenis) adalah
kadang-kadang digunakan oleh pribadi manusia, tetapi lebih tepat perkataan בן־אדם
(etimologi yang penuh dengan keraguan). Untuk איש “manusia (laki-laki),
suami, individu”. אנוש “manusia, dapat mati atau fana”. גבר, manusia (laki-laki) yang
kuat berbeda dari wanita dan anak-anak. מת yang
hanya berdiri pada jamak מתים “laki-laki (jantan), orang-orang
(penduduk)”. Kata-kata ini seringkali digunakan sinonim, teristimewa dalam
membuat syair puisi. Mereka mungkin membayangkan beberapa aturan aspek yang
berbeda dari manusia alam seperti konsep Ibrani.[1]
Dan di dalam Perjanjian Baru manusia berasal dari bahasa Yunani yaitu ό
άνθρωπος. Manusia mempunyai kecerdasan, emosional, kebebasan,
pertanggungjawaban moral dan kemungkinan hidup yang kekal
Dengan rumusan langit dan bumi, terkenal juga di antara
bangsa-bangsa lain. Perjanjian Lama menyatukan keseluruhan segala makhluk
ciptaan Allah. Sungguhpun hanya sebagai makhluk atau ciptaan belaka, namun
terhadap bumi itu langit merupakan dunia “bagian atas” yang sering menjadi
lambang (dan wakil) Allah sendiri; kebersamaan langit dan bumi mencerminkan
pertemuan dan persekutuan khalik dengan makhluk-Nya yang menjadi tujuan rencana
Allah dengan penciptaan dunia.[2]
Dalam kisah penciptaan dunia dalam Kejadian 1:1-2:4b
tidaklah mulai dengan kekosongan mutlak, tetapi dengan samudera raya yang
menutupi muka bumi (Kej 1:2). Kemudian kisah kedua dalam Kej 2:4b-25, mulai
dengan tanah kering yang belum pernah digenangi hujan. Bahwa Allah mulai
bertindak dengan mengamankan makhluk-makhluk yang akan diciptakan-Nya. Sebagai
ciptaan Allah, bumi ini menjadi hak milik Allah sendiri. Namun demikian, Ia
memberikannya kepada manusia. Penyerahan bumi ini mempunyai arti yang sebesar-besarnya
bagi umat Israel ,
sebab bahasa Ibrani hanya mempunyai satu sebutan untuk bumi dan tanah. Bahwa
Allah memberikan bumi itu kepada manusia, hal itu merupakan berita kesukaan
yaitu pertama-tama bagi umat manusia seluruhnya. Sebab umat Israel dan sesudah
kedatangan Yesus Kristus, umat baru dari Allah juga. Mengetahui bahwa Allah
sudah menjanjikan, memberikan dan menjanjikan lagi suatu tanah tertentu di atas
muka bumi, tanah Kanaan yang menjadi inti dan jaminan dari karya penyelamatan
yang direncanakan Allah.
Di antara segala makhluk-Nya yang lain, manusia diberi
tempat yang terkemuka, sebab Allah berniat untuk pertama-tama mendirikan
perjanjian-Nya dengan dia. Keadaan manusia sebagai jiwa dan tubuh mencerminkan
pertemuan antara langit dan bumi, roh Allah yang dititipkan kepadanya selama
masih hidup, menjadi lambang dari kuasa yang menghidupkan persekutuan antara
kedua pihak. Selaku pencerminan perjanjian itu Allah menciptaikan manusia
sebagai laki-laki dan perempuan, di mana laki-laki menjadi lambang (dan wakil)
Khalik yang dengan sukarela menuruti panggilan itu.
Manusia diberi kedudukan seorang tuan yang berkuasa
tinggi terhadap makhluk-makhluk lainnya di bumi, tetapi pada waktu itu juga ia
diserahi tugas untuk bekerja sebagai hamba dan pelayan yang rendah. Mengingat
segala sifat dan tugas yang saling melengkapi ini, maka manusioa ciptaan Allah
dibanggakan sebagai makhluk yang sempurna, malah sebagai makhluk yang mirip
kepada Allah sendiri.
Tuhan menciptakan manusia menurut gambar Allah. Ini
berarti bahwa manusia adalah makhluk dan tetaplah sebagai makhluk yang
selama-lamanya, dan manusialah yang mempunyai kedudukan tertinggi di antara
segala makhluk. Tuhan berfirman kepada manusia, bahwa kepada manusia diletakkan
tanggung jawab kepada Tuhan. Dengan kebenaran yang sesunguhnya dimaksudkan
bahwa manusia ditempatkan di dunia sebagai raja yang tak bercacat dan murni
hubungannya dengan Allah dan yang mempunyai panggilan memerintah dunia atas
nama Allah dengan kebenaran, dengan keadilan. Dengan kekudusan yang
sesungguhnya dimaksudkan, bahwa manusia ditempatkan di dunia sebagai imam
Allah, yang mau mengorbankan hidupnya sebagai pelayanan kasih, sebagai korban
syukur kepada Allah dan sesama manusia.
Namun manusia mengalami kegagalan di dalam hal memenuhi
tugas yang telah diberikan kepadanya. Cerita Firdaus memperlihatkan dengan
sejelas-jelasnya bahwa betapa eratnya perhubungan antara penciptaan manusia,
mahkota segala makhluk itu disatu pihak, dengan pemberontakan manusia di lain
pihak: kisah penciptaan itu tidak selesai diceritakan, sebelum pemberontakan
itu diceritakan. Pemberontakan manusia dalm bentuk pencurian atau perebutan
sesuatu yang dipandang baik oleh manusia itu, tetapi yang membawa kecelakaan
baginya: pengetahuan atau pembedaan antara yang baik dan yang buruk.
Allah mengusir mereka dari tanah Eden , dan nampaknya hukuman Allah ini malahan
bersifat perlindungan bagi manusia pertama itu terhadap kecelakaan yang lebih
sial daripada yang sudah terjadi. Allah menghukum ini berarti bahwa ia memukul
(Kej 8:21 ), perbuatan yang
kadang-kadang mendatangkan kerusakan, kematian dan kebinasaan, tanda
penulakn-Nya terhadap segala yang dibuat oleh makhluknya. Namun dengfan tidak
disangka-sangka tindakan pengrusakan ini ternyata keluar sebagai tindakan
pembangunan. Jadi Allah sebenarnya
mengaruniakan kemungkinan dan kesempatan untuk permulaan yang baru.
Pemberontakan manusia merupakan juga pokok cerita Kain
dan Habil (Kej 4:1-16). Cerita Kain ini meriwayatkan pemberontakan manusia,
sejajar dengan peristiwa Firdaus. Dengan pemberontakan manusia yang disusul
dengan bencana, tersimpan juga dalam Kej 18-19. ini merupakan rangkaian cerita
tentang bapa leluhur Israel
khususnya Abram. Tetapi justru tentang Abram dikatakan bahwa ia mendapat berkat
daripada Allah. Jadi pada tempatnyalah kalau kita membandingkan cerita Sodom dengan air bah:
kerusakan manusia pada zaman Nuh dengan kejahatan dan dosa yang berat dari
penduduk Sodom
dan Gomora.
Tidaklah kebetulan saja, bahwa tokoh Abraham ditempatkan
pada akhir kumpulan cerita-cerita tentang penciptaan dan pemeliharaan dunia.
Rencana Allah mengenai makhluknya akan terlaksana dengan memakai Abraham
sebagai alat yang terpilih. Tetapi rencana itu telah diputuskan sejak awal mula
berdirinya dunia ini, dan ditujukan kepada umat manusia seluruhnya (perjanjian
Allah kepada Nuh dan kepada segenap makhluk di bumi, Kej 9:8-17; 8:20 -22).
Dalam Kitab Wahyu terkenal karena memperlihatkan kuasa
Allah yang mutlak atas dunia. Dalam Kitab Wahyu kata kosmos dipakai sekali saja
dan dihubungkan dengan kerajaan yang kini telah menjadi Kerajaan Tuhan kita dan
Dia yang diurapi-Nya (Why 11:15 ).
Dalam hal ini kosmos berarti dunia yang didiami oleh manusia yang berpaling
dari Allah. Tidak dikatakan bahwa dunia ini berasal dari sumber yang lain
selain dari Allah. Dalam Wahyu 4 yang bersifat liturgis, para tua-tua memuji
Allah yang menjadikan segala sesuatu, “oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada
dan diciptakan” (Wahyu 4:11 ).
Kitab Wahyu menyatakan keyakinan yang sama dengan kitab-kitab PB lainnya bahwa
Allah telah menciptakan langit, bumi dan laut (Why 10:6). Dalam pendahuluan surat kepada jemaat di
Laodikia disebutkan tentang Kristus sebagai Amin, permulaan dari ciptaan Allah
(Why 3:14 ).
Berbagai istilah tentang manusia terdapat dalam kitab
Wahyu, tetapi diungkapkan dengan cara yang khusus seperti dalam tulisan Paulus.
Kata pneuma dipakai terutama untuk Roh Kudus, tetapi juga dipakai dalam
beberapa pengertian lain seperti roh-roh jahat. Untuk menggambarkan manusia
yang seutuhnya, Kitab Wahyu memakai kata Psuke,
baik untuk orang-orang yang telah mati dalam kebenaran. Karena itu jelaslah
bahwa pemakaian kata pneuma dan psukhe dalam Kitab Wahyu sama sekali tidak
menjelaskan tentang keadaan manusia secara jasmani. Kata tubuh hanya sekali
dipakai (dalam Wahyu 18:13 )
dengan arti budak, dan kata itu diikuti dengan psukhe (budak dan bahkan nyawa
manusia). [4]
Dalam Wahyu dapat dilihat kemenangan akhir dari yang
benar dan atas yang salah digambarkan secara khas oleh kemenangan Anak domba
atas semua kuasa kejahatan. Dalam penglihatan mengenai Yerusalem baru, segala
bentuk kenajisan, kekejian atas dusta tidak boleh masuk (Why 21:27 ). Segala sesuatu yang
mengganggu rencana Allah yang sempurna akan dibuang, dan anak domba itu sendiri
menjadi suluh dan pedoman bagi masyarakat baru itu. Perbedaan antara yang
sempurna dan yang ada dalam kenyataan begitu besar sehingga dapat dikatakan
bahwa di antara kitab-kitab Perjanjian Baru yang lain, kitab Wahyulahss yang
paling jelas dalam menerangkan akhir hidup manusia yang terpisah dari Allah.[5]
III.
DIPANDANG SECARA
KONTINUITAS DAN DISKONTINUITAS YANG
BERHUBUNGAN DENGAN PERJANJIAN BARU
Di tengah-tengah dunia yang diciptakan Tuhan itu,
manusia mempunyai kedudukan yang istimewa. Hal ini ditegaskan dalam pasal
pertama Alkitab. Sebelum manusia ada, dunia menyerupai sebuah rumah kosong. “Belum
ada orang untuk mengusahakan tanah itu” (Kejadian 2:5). Segala daya tenaga
dalam alam belum dipergunakannya menurut tujuan yang telah ditentukan oleh
Tuhan. “Tuhan Allah membentuk manusia
itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup dalam hidupnya; demikianlah
manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kejadian 2:7).[6]
Allah tetap memelihara makhluknya, walaupun pada masa
hidup pertama manusia melakukan pemberontakan terhadap rencana dan maksud
baik-Allah dan pemberontakan itu (dosa) semakin menghebat dan meluas. Sebagai
akibat dari sikapnya itu, manusia harus menderita berbagai kesukaran dan
penyakit, dan hidupnya di bumi berakhir dengan suatu kematian yang bersifat
penghukuman. Namun demikian, Allah memelihara kesetiaan-Nya terhadap segala
makhluk-Nya, malahan meneruskan pekerjaan tangan-Nya menuju suatu dunia baru.
Di mana kemenangan-Nya sejak permulaan atas pemberontakan manusia dan atas
segala kuasa kegelapan akan menjadi kenyataan.
Dalam Wahyupun menggambarkan hari ketika mana
suara-suara besar di sorga akan mengumumkan “Pemerintahan atas dunia dipegang
oleh Tuhan kita dan Dia diurapi-Nya; dan Dia akan memerintah sebagai raja
sampai selama-lamanya” Wahyu 11:15.[7]
Kitab Wahyu terkenal karena memperlihatkan kuasa Allah yang mutlak atas dunia.
Dalam hal ini kosmos berarti dunia yang didiami oleh manusia yang berpaling
dari Allah. Tidak dikatakan bahwa dunia ini berasal dari sumber yang lain
selain dari Allah. Dalam Wahyu 4 yang bersifat liturgis, para tua-tua memuji
Allah yang menjadikan segala sesuatu, “oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada
dan diciptakan” (Wahyu 4:11). Kitab Wahyu menyatakan keyakinan yang sama dengan
kitab-kitab PB lainnya bahwa Allah telah menciptakan langit, bumi dan laut (Why
10:6). Dalam pendahuluan surat
kepada jemaat di Laodikia disebutkan tentang Kristus sebagai Amin, permulaan
dari ciptaan Allah (Why 3:14).
Di samping pandangan mengenai dunia yang diciptakan,
terdapat pandangan mengenai Sang Pencipta sebagai Yang Maha Kuasa (Why 1:8;
4:8; 11:17; 15:3; 16:7,14; 19:6,15; 21:22). Pandangan tentang Allah ini
mencerminkan ketergantungan seluruh ciptaan secara mutlak kepada-Nya.
IV.
TEOLOGI BIBLIKA SECARA TIPOLOGIS
Di dalam dosa atau kesalahan yang dilakukan oleh Adam dan Hawa telah membawa dampak bagi
seluruh umat manusia. Sehingga rencana Allah mengenai makhluk ciptaan-Nya akan
terlaksana dengan memakai Abraham sebagai alat terpilih. Abraham dikatakan,
bahwa ia mendapat berkat dari Allah Khalik langit dan bumi (14:19). Tipologi
Abraham ini, merupakan tipe seorang yang taat dan percaya kepada Tuhan (Kej
12:1-9; 15:6; 22:16-18)[8].
Adalah seakan-akan segala kenyataan pengasihan Allah belum cukup, malahan
diberikan kesaksian tambahan. Dalam Kejadian 1-11, mengandung beberapa cerita
tentang orang-orang terpilih untuk mencerminkan pengasihan Allah dengan cara
khusus. Seperti Henokh dan Nuh dikatakan hidup bergaul dengan Allah (Kej 5:22;
6:9), Habel dan korban persembahannya diindahkan oleh Tuhan (4:4), dan pada
zaman Enos (sebutan untuk manusia, seperti nama Adam) orang mulai memanggil nama Tuhan (4:26). Dan di dalam rentetan
inilah tidak boleh dilupakan nama Abraham, yakni tokoh pengunci dari daftar
silsilah pada akhir kumpulan dari cerita-cerita purbakala itu (11:26).
Jadi rencana Allah mengenai makhluk-Nya akan terlaksana
dengan memakai Abraham sebagai alat-Nya. Di mana Abraham pergi ke suatu tempat
yang ditujukan oleh Allah (Kej 12:1). Panggilan itu adalah panggilan Allah yang
memerlukan jawaban ketaatan. Panggilan itu datang kepada Abraham bukan karena Abraham itu baik, melinkan semata-mata
karena kehendak Allah saja.[9]
Dalam Perjanjian Baru juga dapat kita lihat, bahwa dalam
seluruh Perjanjian Baru Israel
digambarkan sebagai tipe jemaat Yesus Kristus (dalam Wahyu 21:12-14). Dalam hal
ini tipe jemaat Kristus hanya dapat mengerti dirinya sendiri dengan benar
sebagai Israel
milik Allah yang eskhatologis. Di mana umat Allah dibentuk melalui karya penyelamatan Allah,
perjanjian Allah hanya dipelihara melalui pengampunan dosa dan kerajaan Allah
yang menuntut ketaatan umat Allah terhadap hukum-Nya. Jadi perjanjian yang baru
dalam Kristus bersesuaian dengan kehendak Allah dalam perjanjian yang lama
sebagai penggenapan-Nya.
Memang dalam Kitab Wahyu ini terpusat pada tokoh Kristus
sorgawi yang telah bangkit, karena itu hanya ada sedikit penekanan pada
kemanusiaan-Nya. Tetapi dalam penglihatan mengenai Tuhan yang telah naik itu
dalam Wahyu 1:13, Ia digambarkan sebagai seseorang yang serupa dengan “Anak
Manusia”. Kematian-Nya disebut dalam Wahyu 1:7-8. kemanusiaan-Nya juga muncul
dalam keterangan tentang Anak Domba yang terluka. Gambaran-gambaran ini cukup
untuk mengenali Anak Domba yang menang sebagai Dia yang sudah hidup di bumi dan
mati ntuk menyelamatkan manusia.
Sejarah zaman permulaan memberi kesaksian tentang
rencana Allah bagi dunia, dan tanpa kesaksian
itu Yesus Kristus tidak akan dimengerti dengan tepat. Upacara pada hari
pendamaian menunjukkan prinsip-prinsip yang digunakan Allah dalam mengatasi
masalah dosa, yang diandaikan dalam misi Yesus dan tanpa itu kematian-Nya tidak
dipahami. Jadi penyelamatan Allah dilihat sebagai salah satu aspek dari karya
Allah untuk menyelamatkan manusia yang terus menerus sepanjang sejarah manusia.[10]
Teologi
yang ditemukan:
·
Manusia diciptakan Allah
sebagai gambar dan rupa Allah diberikan wewenang atau kuasa untuk berkuasa atas
bumi. Wewenang yang diberikan Allah kepada manusia merupakan hak istimewa
manusia. Berbicara tentang kuasa yang mencakup hak dan wewenang, manusia
sebagai pemegang kuasa, baik itu di bidang politik maupun di bidang ekonomi
cenderung untuk mempersempit kebebasan dan ruang gerak sesamanya, yang
dianggapnya sebagai saingan atau lawan.
·
Kebebasan yang diberikan kepada
manusia bukan membuka peluang untuk anarkis di mana setiap orang berbuat apa
yang benar menurut pandangannya, tetapi justru membawa kebahagiaan kepada
manusia itu sendiri. Karena manusia diciptakan di dunia ini bukan untuk saling
menguasai tetapi untuk hidup sejahtera, di mana Allah menciptakan lebih dulu
apa yang menjadi kesejahteraan manusia yaitu binatang-binatang dan tumbuhan. Dengan
demikian manusia sebagai gambar Allah haruslah hidup menurut gambar dan
rupa-Nya yaitu hidup kudus, sopan dan teratur dalam jemaat, tekun dalam
pengajaran dan dalam persekutuan. Itulah sebabnya kebebasan yang diberikan-Nya
ialah kebebasan yang bertanggung jawab (Kej 3:9-13).
·
Kebebasan yang diperoleh ialah
untuk saling melayani, bukan untuk melakukan kejahatan. Kebebasan sejati adalah
yang dijalani dengan penuh rasa tanggung jawab demi keselamatan bersama dan
kelestarian lingkungan hidup. Jadi, sebagai gambar Allah manusia tidak dapat
berkuasa dengan semena-mena melainkan harus tunduk dalam kehendak Allah dalam
melakukan tugasnya.
Jadi manusia harus bertanggung jawab atas kedudukannya
di dunia ini dengan memelihara kelestarian alam atau lingkungan. Dengan tidak
melakukan eksploitasi sumber daya alam dengan memperhatikan kerusakan dan
bagaimana dampaknya bagi lingkungan. Oleh karena itu, manusia harus taat kepada
Tuhan dengan menggunakan hak dan tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepada
manusia (Kejadian 1:28). (SMS)
[1] The Interpreter’s Dictionary of the Bible (K-Q), (USA:
Nashville, 1981), hlm. 242-243
[2] C. Barth, Theologia Perjanjian Lama, (Jakarta : BPK Gungung
Mulia, 2006), hlm. 38
[3] Ibid., hlm. 48-51
[4] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru I, (Jakarta : BPK Gunung Mulia,
2006), hlm. 197
[5] Ibid., hlm. 238-239
[6] J. Verkuyl, Aku Percaya, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2000), hlm. 68
[7] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid I (A-L), (Jakarta : YKBK/OMF, 2005),
hlm. 263
[8] David l. baker, Satu Alkitab Dua Perjanjian, (Jakarta : BPK Gunung Mulia,
2001), hlm. 199
[9] S. Wismoady Wahono, Di Sini Kutemukan, (Jakarta : BPK Gunung Mulia,
2004), hlm. 95-96
[10] Op. Cit., David l. baker, hlm. 202-203
Labels:
RENUNGAN
Thanks for reading “DUNIA SEBAGAI TEMPAT TINGGAL MANUSIA”. Please share...!


0 Comment for " “DUNIA SEBAGAI TEMPAT TINGGAL MANUSIA”"