Pergunakanlah Waktu dan Tetap Berpengharapan


“DUNIA SEBAGAI TEMPAT TINGGAL MANUSIA”

ILUSTRASI DUNIA TEMPAT TINGGAL MANUSIA

I.             PENDAHULUAN
Manusia adalah bagian  yang paling penting dari alam semesta ini. Ke dalam dunia inilah manusia dilahirkan, dan di dalamnya mereka hidup sampai mereka mati. Dunia itulah dunianya orang laki-laki dan perempuan, dari daging dan darah yang dikasihi oleh Allah.
Dalam kisah penciptaan alam, Allah menciptakan semuanya dari yang tidak ada menjadi ada, kecuali kisah penciptaan manusia. Di mana manusia yang diciptakan dari debu tanah dan yang menurut gambar dan rupa Allah. Jadi, manusia dipercayai untuk menjalankan fungsinya sebagai wali atau kuasa usaha-Nya di tengah alam semesta. Allah menggunakan manusia sebagai rekan sekerja-Nya yang secara modern dapat dikatakan bahwa manusia adalah sebagai orang yang mengusahakan dan memelihara tanah (Kej 2:5).
II.          PEMBAHASAN
Di dalam Perjanjian Lama, ada beberapa kata Ibrani yang mengartikan dunia yaitu: ארץ yang paling sering diterjemahkan sebagai “bumi, tanah” (tanah dari Mesir, Bil 1:1), “negeri” (Kej 12:1), “tanah” (Ulg 15:23). תבל yang digunakan hanya pada ilmu syair puisi, tidak pernah dibuat dalam artikel. חלד dan חדל dari lima alur yang mana חלד adalah mendirikan, kata ini berhubungan dengan Arabic halada (tinggal, melanjutkan), huldun (abadi) dan karena itu sejajar  untuk αιών bukan κόσμος. Dan חעולם dapat dikatakan sebagai “dunia” dan pada umumnya artinya adalah “waktunya panjang”.
Di dalam Perjanjian Baru, istilah dunia berasal dari tiga kata Yunani yaitu οίκουμένη, αίών, dan κόσμος yang artinya “dunia” dalam bahasa Inggris Perjanjian Baru. Ketiga kata tersebut di mana beberapa dari pengertiannya hampir sama dan dapat sekali-kali, seperti yang nyatanya, menemukan satu dengan yang lain. Οίκουμένη adalah sebuah singkatan dari (ή) οίκουμένη (γή) “tempat tinggal atau bumi”. Αίών, kata ini seperti עולם umumnya berarti yang waktunya lama atau panjang. Κόσμος (dunia), sebagian besar pengertiannya diperoleh dalam penulis Yunani yang digambarkan dalam Perjanjian Baru, tetapi kata ini sampai pada pengertian yang lain di mana tidak mempunyai kesejajaran di Perjanjian Baru dan kesusastraan yang langsung dipengaruhi oleh hal tersebut.
Pengertian manusia di dalam Perjanjian Lama, dalam bahasa Ibrani ada lima pengertian dari manusia. אדם “kemanusiaan” (sejenis) adalah kadang-kadang digunakan oleh pribadi manusia, tetapi lebih tepat perkataan בן־אדם (etimologi yang penuh dengan keraguan). Untuk איש “manusia (laki-laki), suami, individu”. אנוש “manusia, dapat mati atau fana”. גבר, manusia (laki-laki) yang kuat berbeda  dari wanita dan anak-anak. מת yang hanya berdiri pada jamak מתים “laki-laki (jantan), orang-orang (penduduk)”. Kata-kata ini seringkali digunakan sinonim, teristimewa dalam membuat syair puisi. Mereka mungkin membayangkan beberapa aturan aspek yang berbeda dari manusia alam seperti konsep Ibrani.[1] Dan di dalam Perjanjian Baru manusia berasal dari bahasa Yunani yaitu ό άνθρωπος. Manusia mempunyai kecerdasan, emosional, kebebasan, pertanggungjawaban moral dan kemungkinan hidup yang kekal
Dengan rumusan langit dan bumi, terkenal juga di antara bangsa-bangsa lain. Perjanjian Lama menyatukan keseluruhan segala makhluk ciptaan Allah. Sungguhpun hanya sebagai makhluk atau ciptaan belaka, namun terhadap bumi itu langit merupakan dunia “bagian atas” yang sering menjadi lambang (dan wakil) Allah sendiri; kebersamaan langit dan bumi mencerminkan pertemuan dan persekutuan khalik dengan makhluk-Nya yang menjadi tujuan rencana Allah dengan penciptaan dunia.[2]
Kitab-kitab PL menyatakan bahwa langit, dan tak kurang pula bagiannya yang terpencil, yakni sorga termasuk kepada makhluk-makhluk Allah yang selalu menghadapi bahaya kebinasaan. Langit itupun mempunyai samudera rayanya. Dewan sorgawi itupun tak luput dari pengaruh unsur-unsur yang ingin menentang ketetapan Allah. Boleh jadi mereka mempunyai kepentingannya sendiri di dalam pelaksanaan karya Tuhan itu, bumi dan langit menunggu pelaksanaan karya itu. Pengetahuan dan pengakuan inilah yang rupanya mengilhamkan perkataan yang terkenal, Yes 65:17 “Sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru” dan perkataan yang bergema dalam Wahyu 21:1 “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu dan lautpun tidak ada lagi”.
Dalam kisah penciptaan dunia dalam Kejadian 1:1-2:4b tidaklah mulai dengan kekosongan mutlak, tetapi dengan samudera raya yang menutupi muka bumi (Kej 1:2). Kemudian kisah kedua dalam Kej 2:4b-25, mulai dengan tanah kering yang belum pernah digenangi hujan. Bahwa Allah mulai bertindak dengan mengamankan makhluk-makhluk yang akan diciptakan-Nya. Sebagai ciptaan Allah, bumi ini menjadi hak milik Allah sendiri. Namun demikian, Ia memberikannya kepada manusia. Penyerahan bumi ini mempunyai arti yang sebesar-besarnya bagi umat Israel, sebab bahasa Ibrani hanya mempunyai satu sebutan untuk bumi dan tanah. Bahwa Allah memberikan bumi itu kepada manusia, hal itu merupakan berita kesukaan yaitu pertama-tama bagi umat manusia seluruhnya. Sebab umat Israel dan sesudah kedatangan Yesus Kristus, umat baru dari Allah juga. Mengetahui bahwa Allah sudah menjanjikan, memberikan dan menjanjikan lagi suatu tanah tertentu di atas muka bumi, tanah Kanaan yang menjadi inti dan jaminan dari karya penyelamatan yang direncanakan Allah.
Di antara segala makhluk-Nya yang lain, manusia diberi tempat yang terkemuka, sebab Allah berniat untuk pertama-tama mendirikan perjanjian-Nya dengan dia. Keadaan manusia sebagai jiwa dan tubuh mencerminkan pertemuan antara langit dan bumi, roh Allah yang dititipkan kepadanya selama masih hidup, menjadi lambang dari kuasa yang menghidupkan persekutuan antara kedua pihak. Selaku pencerminan perjanjian itu Allah menciptaikan manusia sebagai laki-laki dan perempuan, di mana laki-laki menjadi lambang (dan wakil) Khalik yang dengan sukarela menuruti panggilan itu.
Manusia diberi kedudukan seorang tuan yang berkuasa tinggi terhadap makhluk-makhluk lainnya di bumi, tetapi pada waktu itu juga ia diserahi tugas untuk bekerja sebagai hamba dan pelayan yang rendah. Mengingat segala sifat dan tugas yang saling melengkapi ini, maka manusioa ciptaan Allah dibanggakan sebagai makhluk yang sempurna, malah sebagai makhluk yang mirip kepada Allah sendiri.
Kitab-kitab PL mementingkan manusia sebagai makhluk yang dipentingkan Allah sendiri. Allah mempunyai maksud dan rencana-Nya sendiri. Manusia diciptakan-Nya oleh karena rencana-Nya itu. Manusia dipilih-Nya, diangkat-Nya menjadi pihak kedua di dalam perjanjian yang hendak diikat-Nya. Rencana dan tujuan inilah yang membuat manusia itu “makhluk yang utama”. Mengingat tujuan ini pula ia mendapat perkenanan istimewa dari Allah, sehingga disebut makhluk yang amat baik dan sempurna.[3]
Tuhan menciptakan manusia menurut gambar Allah. Ini berarti bahwa manusia adalah makhluk dan tetaplah sebagai makhluk yang selama-lamanya, dan manusialah yang mempunyai kedudukan tertinggi di antara segala makhluk. Tuhan berfirman kepada manusia, bahwa kepada manusia diletakkan tanggung jawab kepada Tuhan. Dengan kebenaran yang sesunguhnya dimaksudkan bahwa manusia ditempatkan di dunia sebagai raja yang tak bercacat dan murni hubungannya dengan Allah dan yang mempunyai panggilan memerintah dunia atas nama Allah dengan kebenaran, dengan keadilan. Dengan kekudusan yang sesungguhnya dimaksudkan, bahwa manusia ditempatkan di dunia sebagai imam Allah, yang mau mengorbankan hidupnya sebagai pelayanan kasih, sebagai korban syukur kepada Allah dan sesama manusia.
Namun manusia mengalami kegagalan di dalam hal memenuhi tugas yang telah diberikan kepadanya. Cerita Firdaus memperlihatkan dengan sejelas-jelasnya bahwa betapa eratnya perhubungan antara penciptaan manusia, mahkota segala makhluk itu disatu pihak, dengan pemberontakan manusia di lain pihak: kisah penciptaan itu tidak selesai diceritakan, sebelum pemberontakan itu diceritakan. Pemberontakan manusia dalm bentuk pencurian atau perebutan sesuatu yang dipandang baik oleh manusia itu, tetapi yang membawa kecelakaan baginya: pengetahuan atau pembedaan antara yang baik dan yang buruk.
Allah mengusir mereka dari tanah Eden, dan nampaknya hukuman Allah ini malahan bersifat perlindungan bagi manusia pertama itu terhadap kecelakaan yang lebih sial daripada yang sudah terjadi. Allah menghukum ini berarti bahwa ia memukul (Kej 8:21), perbuatan yang kadang-kadang mendatangkan kerusakan, kematian dan kebinasaan, tanda penulakn-Nya terhadap segala yang dibuat oleh makhluknya. Namun dengfan tidak disangka-sangka tindakan pengrusakan ini ternyata keluar sebagai tindakan pembangunan. Jadi Allah  sebenarnya mengaruniakan kemungkinan dan kesempatan untuk permulaan yang baru.
Pemberontakan manusia merupakan juga pokok cerita Kain dan Habil (Kej 4:1-16). Cerita Kain ini meriwayatkan pemberontakan manusia, sejajar dengan peristiwa Firdaus. Dengan pemberontakan manusia yang disusul dengan bencana, tersimpan juga dalam Kej 18-19. ini merupakan rangkaian cerita tentang bapa leluhur Israel khususnya Abram. Tetapi justru tentang Abram dikatakan bahwa ia mendapat berkat daripada Allah. Jadi pada tempatnyalah kalau kita membandingkan cerita Sodom dengan air bah: kerusakan manusia pada zaman Nuh dengan kejahatan dan dosa yang berat dari penduduk Sodom dan Gomora.
Tidaklah kebetulan saja, bahwa tokoh Abraham ditempatkan pada akhir kumpulan cerita-cerita tentang penciptaan dan pemeliharaan dunia. Rencana Allah mengenai makhluknya akan terlaksana dengan memakai Abraham sebagai alat yang terpilih. Tetapi rencana itu telah diputuskan sejak awal mula berdirinya dunia ini, dan ditujukan kepada umat manusia seluruhnya (perjanjian Allah kepada Nuh dan kepada segenap makhluk di bumi, Kej 9:8-17; 8:20-22).
Dalam Kitab Wahyu terkenal karena memperlihatkan kuasa Allah yang mutlak atas dunia. Dalam Kitab Wahyu kata kosmos dipakai sekali saja dan dihubungkan dengan kerajaan yang kini telah menjadi Kerajaan Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya (Why 11:15). Dalam hal ini kosmos berarti dunia yang didiami oleh manusia yang berpaling dari Allah. Tidak dikatakan bahwa dunia ini berasal dari sumber yang lain selain dari Allah. Dalam Wahyu 4 yang bersifat liturgis, para tua-tua memuji Allah yang menjadikan segala sesuatu, “oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan” (Wahyu 4:11). Kitab Wahyu menyatakan keyakinan yang sama dengan kitab-kitab PB lainnya bahwa Allah telah menciptakan langit, bumi dan laut (Why 10:6). Dalam pendahuluan surat kepada jemaat di Laodikia disebutkan tentang Kristus sebagai Amin, permulaan dari ciptaan Allah (Why 3:14).
Berbagai istilah tentang manusia terdapat dalam kitab Wahyu, tetapi diungkapkan dengan cara yang khusus seperti dalam tulisan Paulus. Kata pneuma dipakai terutama untuk Roh Kudus, tetapi juga dipakai dalam beberapa pengertian lain seperti roh-roh jahat. Untuk menggambarkan manusia yang seutuhnya, Kitab Wahyu memakai kata Psuke, baik untuk orang-orang yang telah mati dalam kebenaran. Karena itu jelaslah bahwa pemakaian kata pneuma dan psukhe dalam Kitab Wahyu sama sekali tidak menjelaskan tentang keadaan manusia secara jasmani. Kata tubuh hanya sekali dipakai (dalam Wahyu 18:13) dengan arti budak, dan kata itu diikuti dengan psukhe (budak dan bahkan nyawa manusia). [4]
Dalam Wahyu dapat dilihat kemenangan akhir dari yang benar dan atas yang salah digambarkan secara khas oleh kemenangan Anak domba atas semua kuasa kejahatan. Dalam penglihatan mengenai Yerusalem baru, segala bentuk kenajisan, kekejian atas dusta tidak boleh masuk (Why 21:27). Segala sesuatu yang mengganggu rencana Allah yang sempurna akan dibuang, dan anak domba itu sendiri menjadi suluh dan pedoman bagi masyarakat baru itu. Perbedaan antara yang sempurna dan yang ada dalam kenyataan begitu besar sehingga dapat dikatakan bahwa di antara kitab-kitab Perjanjian Baru yang lain, kitab Wahyulahss yang paling jelas dalam menerangkan akhir hidup manusia yang terpisah dari Allah.[5]
III.       DIPANDANG SECARA KONTINUITAS DAN DISKONTINUITAS YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERJANJIAN BARU
Di tengah-tengah dunia yang diciptakan Tuhan itu, manusia mempunyai kedudukan yang istimewa. Hal ini ditegaskan dalam pasal pertama Alkitab. Sebelum manusia ada, dunia menyerupai sebuah rumah kosong. “Belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu” (Kejadian 2:5). Segala daya tenaga dalam alam belum dipergunakannya menurut tujuan yang telah ditentukan oleh Tuhan. “Tuhan Allah membentuk  manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup dalam hidupnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kejadian 2:7).[6]
Allah tetap memelihara makhluknya, walaupun pada masa hidup pertama manusia melakukan pemberontakan terhadap rencana dan maksud baik-Allah dan pemberontakan itu (dosa) semakin menghebat dan meluas. Sebagai akibat dari sikapnya itu, manusia harus menderita berbagai kesukaran dan penyakit, dan hidupnya di bumi berakhir dengan suatu kematian yang bersifat penghukuman. Namun demikian, Allah memelihara kesetiaan-Nya terhadap segala makhluk-Nya, malahan meneruskan pekerjaan tangan-Nya menuju suatu dunia baru. Di mana kemenangan-Nya sejak permulaan atas pemberontakan manusia dan atas segala kuasa kegelapan akan menjadi kenyataan.
Dalam Wahyupun menggambarkan hari ketika mana suara-suara besar di sorga akan mengumumkan “Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia diurapi-Nya; dan Dia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya” Wahyu 11:15.[7] Kitab Wahyu terkenal karena memperlihatkan kuasa Allah yang mutlak atas dunia. Dalam hal ini kosmos berarti dunia yang didiami oleh manusia yang berpaling dari Allah. Tidak dikatakan bahwa dunia ini berasal dari sumber yang lain selain dari Allah. Dalam Wahyu 4 yang bersifat liturgis, para tua-tua memuji Allah yang menjadikan segala sesuatu, “oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan” (Wahyu 4:11). Kitab Wahyu menyatakan keyakinan yang sama dengan kitab-kitab PB lainnya bahwa Allah telah menciptakan langit, bumi dan laut (Why 10:6). Dalam pendahuluan surat kepada jemaat di Laodikia disebutkan tentang Kristus sebagai Amin, permulaan dari ciptaan Allah (Why 3:14).
Di samping pandangan mengenai dunia yang diciptakan, terdapat pandangan mengenai Sang Pencipta sebagai Yang Maha Kuasa (Why 1:8; 4:8; 11:17; 15:3; 16:7,14; 19:6,15; 21:22). Pandangan tentang Allah ini mencerminkan ketergantungan seluruh ciptaan secara mutlak kepada-Nya.
IV.       TEOLOGI BIBLIKA SECARA TIPOLOGIS
Di dalam dosa atau kesalahan yang dilakukan  oleh Adam dan Hawa telah membawa dampak bagi seluruh umat manusia. Sehingga rencana Allah mengenai makhluk ciptaan-Nya akan terlaksana dengan memakai Abraham sebagai alat terpilih. Abraham dikatakan, bahwa ia mendapat berkat dari Allah Khalik langit dan bumi (14:19). Tipologi Abraham ini, merupakan tipe seorang yang taat dan percaya kepada Tuhan (Kej 12:1-9; 15:6; 22:16-18)[8]. Adalah seakan-akan segala kenyataan pengasihan Allah belum cukup, malahan diberikan kesaksian tambahan. Dalam Kejadian 1-11, mengandung beberapa cerita tentang orang-orang terpilih untuk mencerminkan pengasihan Allah dengan cara khusus. Seperti Henokh dan Nuh dikatakan hidup bergaul dengan Allah (Kej 5:22; 6:9), Habel dan korban persembahannya diindahkan oleh Tuhan (4:4), dan pada zaman Enos (sebutan untuk manusia, seperti nama Adam) orang mulai memanggil  nama Tuhan (4:26). Dan di dalam rentetan inilah tidak boleh dilupakan nama Abraham, yakni tokoh pengunci dari daftar silsilah pada akhir kumpulan dari cerita-cerita purbakala itu (11:26).
Jadi rencana Allah mengenai makhluk-Nya akan terlaksana dengan memakai Abraham sebagai alat-Nya. Di mana Abraham pergi ke suatu tempat yang ditujukan oleh Allah (Kej 12:1). Panggilan itu adalah panggilan Allah yang memerlukan jawaban ketaatan. Panggilan itu datang kepada Abraham  bukan karena Abraham itu baik, melinkan semata-mata karena kehendak Allah saja.[9]
Dalam Perjanjian Baru juga dapat kita lihat, bahwa dalam seluruh Perjanjian Baru Israel digambarkan sebagai tipe jemaat Yesus Kristus (dalam Wahyu 21:12-14). Dalam hal ini tipe jemaat Kristus hanya dapat mengerti dirinya sendiri dengan benar sebagai Israel milik Allah yang eskhatologis. Di mana umat Allah  dibentuk melalui karya penyelamatan Allah, perjanjian Allah hanya dipelihara melalui pengampunan dosa dan kerajaan Allah yang menuntut ketaatan umat Allah terhadap hukum-Nya. Jadi perjanjian yang baru dalam Kristus bersesuaian dengan kehendak Allah dalam perjanjian yang lama sebagai penggenapan-Nya.
Memang dalam Kitab Wahyu ini terpusat pada tokoh Kristus sorgawi yang telah bangkit, karena itu hanya ada sedikit penekanan pada kemanusiaan-Nya. Tetapi dalam penglihatan mengenai Tuhan yang telah naik itu dalam Wahyu 1:13, Ia digambarkan sebagai seseorang yang serupa dengan “Anak Manusia”. Kematian-Nya disebut dalam Wahyu 1:7-8. kemanusiaan-Nya juga muncul dalam keterangan tentang Anak Domba yang terluka. Gambaran-gambaran ini cukup untuk mengenali Anak Domba yang menang sebagai Dia yang sudah hidup di bumi dan mati ntuk menyelamatkan manusia.
Sejarah zaman permulaan memberi kesaksian tentang rencana Allah bagi dunia, dan tanpa kesaksian  itu Yesus Kristus tidak akan dimengerti dengan tepat. Upacara pada hari pendamaian menunjukkan prinsip-prinsip yang digunakan Allah dalam mengatasi masalah dosa, yang diandaikan dalam misi Yesus dan tanpa itu kematian-Nya tidak dipahami. Jadi penyelamatan Allah dilihat sebagai salah satu aspek dari karya Allah untuk menyelamatkan manusia yang terus menerus sepanjang sejarah manusia.[10]

Teologi yang ditemukan:
·         Manusia diciptakan Allah sebagai gambar dan rupa Allah diberikan wewenang atau kuasa untuk berkuasa atas bumi. Wewenang yang diberikan Allah kepada manusia merupakan hak istimewa manusia. Berbicara tentang kuasa yang mencakup hak dan wewenang, manusia sebagai pemegang kuasa, baik itu di bidang politik maupun di bidang ekonomi cenderung untuk mempersempit kebebasan dan ruang gerak sesamanya, yang dianggapnya sebagai saingan atau lawan.
·         Kebebasan yang diberikan kepada manusia bukan membuka peluang untuk anarkis di mana setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya, tetapi justru membawa kebahagiaan kepada manusia itu sendiri. Karena manusia diciptakan di dunia ini bukan untuk saling menguasai tetapi untuk hidup sejahtera, di mana Allah menciptakan lebih dulu apa yang menjadi kesejahteraan manusia yaitu binatang-binatang dan tumbuhan. Dengan demikian manusia sebagai gambar Allah haruslah hidup menurut gambar dan rupa-Nya yaitu hidup kudus, sopan dan teratur dalam jemaat, tekun dalam pengajaran dan dalam persekutuan. Itulah sebabnya kebebasan yang diberikan-Nya ialah kebebasan yang bertanggung jawab (Kej 3:9-13).
·         Kebebasan yang diperoleh ialah untuk saling melayani, bukan untuk melakukan kejahatan. Kebebasan sejati adalah yang dijalani dengan penuh rasa tanggung jawab demi keselamatan bersama dan kelestarian lingkungan hidup. Jadi, sebagai gambar Allah manusia tidak dapat berkuasa dengan semena-mena melainkan harus tunduk dalam kehendak Allah dalam melakukan tugasnya.
Jadi manusia harus bertanggung jawab atas kedudukannya di dunia ini dengan memelihara kelestarian alam atau lingkungan. Dengan tidak melakukan eksploitasi sumber daya alam dengan memperhatikan kerusakan dan bagaimana dampaknya bagi lingkungan. Oleh karena itu, manusia harus taat kepada Tuhan dengan menggunakan hak dan tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepada manusia (Kejadian 1:28). (SMS)






[1] The Interpreter’s Dictionary of the Bible (K-Q), (USA: Nashville, 1981), hlm. 242-243
[2] C. Barth, Theologia Perjanjian Lama, (Jakarta: BPK Gungung Mulia, 2006), hlm. 38
[3] Ibid., hlm. 48-51
[4] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru I, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), hlm. 197
[5] Ibid., hlm. 238-239
[6] J. Verkuyl, Aku Percaya, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), hlm. 68
[7] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid I (A-L), (Jakarta: YKBK/OMF, 2005), hlm. 263
[8] David l. baker, Satu Alkitab Dua Perjanjian, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), hlm. 199
[9] S. Wismoady Wahono, Di Sini Kutemukan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), hlm. 95-96
[10] Op. Cit., David l. baker, hlm. 202-203
Labels: RENUNGAN

Thanks for reading “DUNIA SEBAGAI TEMPAT TINGGAL MANUSIA”. Please share...!

0 Comment for " “DUNIA SEBAGAI TEMPAT TINGGAL MANUSIA”"

Back To Top