Pergunakanlah Waktu dan Tetap Berpengharapan


REFLEKSI TEOLOGIS AKAN HARI TUHAN

Ilustrasi Hari Tuhan
       
1. Kedatangan Yesus Kristus  kedua kalinya[1] sebagai penggenapan Hari  TUHAN
Salah satu ciri nubuatan eskatologis PL adalah kepercayaan akan datangnya Hari TUHAN. Pada hari itu Tuhan akan datang dan campur tangan dalam sejarah dunia untuk menghakimi manusia dan menegakkan keadilan-Nya.
Maleakhi melihat pemusnahan orang-orang fasik dan keselamatan orang-orang yang melayani TUHAN pada Hari TUHAN sebagai babak terakhir sejarah dunia ini[2].  Oleh karena itulah S.H. Widyapranawa mengatakan[3]:
“Sebenarnya Hari TUHAN  dalam arti  mutlak barulah akan datang pada akhir segala zaman”.

            Artinya Hari TUHAN dipercayai telah digenapi dalam sejarah kehidupan bangsa Israel dan akan terus digenapi dalam sejarah dunia sampai pada penggenapannya yang terakhir pada akhir zaman.
“Apart from all the intervening judgments in the course of this history of God’s people, the central fulfillment is to be related to the first coming of Christ, just as the final fulfillment must be seen in connection with His coming again”[4].
           
Jadi nubuatan Hari TUHAN dalam PL secara mutlak dan untuk yang terakhir kalinya akan digenapi dalam kedatangan Yesus Kristus kedua kalinya. Pada saat itu berakhirlah sejarah nubuatan Hari TUHAN.
“Hari TUHAN menjadi masa peralihan dari zaman sekarang menuju suatu zaman yang baru, yaitu masa didirikannya pemerintahan Mesias”[5].
            Pada waktu Yesus datang ke dunia yang diakui oleh orang Kristen sebagai Mesias dipercayai bahwa zaman yang baru itu telah dimulai, tetapi harapan akan kedatangan Mesias yang kedua kalinya pada akhir zaman tetap diyakini[6].
 PB sendiri juga menggunakan istilah “Hari TUHAN” (hmera Kuriou) untuk menyatakan kedatangan Tuhan (Mesias) pada akhir zaman (Luk. 21:34; Kis. 2:20;   1 Kor. 1:8; 3:13;  1 Tes. 5:2; 2 Tes. 2:2; 2 Tim. 1:12; Ibr. 10:25; 2 Ptr. 3:10; Wah. 1:10) dan semuanya menunjuk kepada kedatangan Yesus Kristus kedua kalinya.
            Kedatangan Yesus Kristus kedua kali diberitakan secara tegas dan jelas dalam PB, baik oleh Yesus sendiri (Mat. 16:27; 23:39; 24:27; Yoh. 14:3; 14:28, dll), maupun penulis-penulis kitab PB seperti Lukas (Kis. 1:11) dan Paulus (1 Kor. 1:7; 15:23; Kol. 3:4; 1 Tes. 1:10, dll). Pemberitahuan ini bukanlah untuk memberikan bahan-bahan perhitungan tentang saat yang pasti akan kedatangan Hari Tuhan. Hari Tuhan itu akan datang seperti pencuri pada malam hari(1 Tes. 5:2) dan tidak seorangpun yang mengetahuinya. Hal ini secara jelas dinyatakan oleh Yesus sendiri:
“Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja”[7]. (Mark. 13:32; bnd. Mat. 24:36)


2.      Hari TUHAN Sebagai Hari Penghakiman Terakhir
Pada Hari TUHAN semua manusia akan dihakimi dan hakimnya adalah Yesus Kristus (Yoh. 5:22; Kis. 10:42; 17:31; 2 Kor. 5:10; 2 Tim. 4:1; 1 Tes. 4:16). Semua orang akan dihakimi, baik yang hidup pada waktu itu, baik yang sudah meninggal yang akan dibangkitkan untuk dihakimi, baik orang yang benar, maupun orang fasik (Mat. 25:46)[8]. Pada saat itu Yesus akan ‘membalas setiap orang menurut perbuatannya”[9] (Mat. 16:27). Ayat ini tidak menyebutkan tentang baik atau jahat, jadi tentu mencakup keduanya. Gagasan pembalasan sama seringnya dengan gagasan mengenai penghukuman, dan keduanya harus dipertimbangkan untuk mendapat gambaran yang benar mengenai penghakiman[10].
Kata ‘penghakiman’ sebenarnya tidak hanya berarti penghukuman, tetapi pertama-tama berarti pembebasan, pertolongan, pembelaan hak khususnya dari orang-orang  yang  tertindas,  yang  lemah,  yang  miskin,  yang  menderita. Jadi ‘menghakimi’ berarti membela hak-hak orang-orang yang tertindas, memberikan keadilan kepada orang-orang lemah, menolong orang yang miskin[11].
Oleh karena itu Berkhof  mengatakan[12]:

“Penghakiman akan berarti keselamatan bagi orang-orang yang ditindas dan orang-orang yang kehilangan haknya, bagi orang-orang yang diinjak-injak dan orang-orang yang disiksa”.


Pemahaman ini jelas digambarkan oleh Maleakhi dalam nubuatannya tentang Hari TUHAN. Pada hari itu orang fasik akan dibakar seperti jerami sebagai hukuman baginya, tetapi orang benar yang selama ini menderita, ditindas akan menerima kesembuhan, kegembiraan dan kemenangan atas orang fasik. Dengan kata lain orang benar diberikan hak yang seharusnya, yaitu keselamatan, dan orang fasik penghukuman.
 Gambaran yang sama juga diberikan oleh Yesus dalam  Matius 25:31-46 mengenai penghakiman terakhir. Pada hari kedatangan-Nya kelak Yesus akan mengumpulkan semua bangsa dan menghakimi mereka. Penghakiman ini didasarkan atas perbuatan manusia kepada ‘orang yang lapar, orang yang haus, orang asing, orang telanjang, orang  sakit, orang yang dalam penjara’. Yesus mengatakan:
“Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40)[13].

Artinya dasar penghakiman Yesus adalah perbuatan manusia kepada semua sesamanya.           Demikianlah di satu sisi kedatangan Hari TUHAN adalah untuk membebaskan, menolong, dan membela hak manusia, khususnya mereka yang tertindas, yang lemah, yang miskin dan yang menderita. Di sisi lain kedatangan Hari TUHAN adalah untuk menghukum mereka yang melakukan penindasan, penderitaan dan ketidakadilan kepada sesamanya manusia. Jadi pewartaan kedatangan Hari TUHAN mempunyai makna ganda yaitu penghiburan dan pengharapan bagi orang yang menderita, tetapi peringatan bagi orang yang melakukan penindasan. Bagi posisi yang tertindas Hari TUHAN adalah hari keselamatan (bnd. Ef. 4:30), tetapi bagi posisi penindas Hari TUHAN  itu adalah hari penghakiman dan murka Allah (bnd. Rom. 2:5).
            Pewartaan kedatangan Hari TUHAN membawa makna yang sangat besar bagi kehidupan sekarang. Dengan pewartaan itu manusia akan sadar bahwa hidup sekarang ini adalah hidup yang penuh pertanggungjawaban. Hidup sekarang ini mempunyai hubungan yang erat dengan hidup masa mendatang. Oleh karena itu Gereja dan orang Kristen harus selalu mengingat dan mewartakan bahwa ‘Yesus Kristus sebagai Mesias dan Hakim akan datang kembali pada Hari TUHAN, dan Hari TUHAN akan datang sebagai hari penghakiman terakhir’.
 3.   Tugas Orang Kristen dan Gereja Dalam Menanti Kedatangan Hari TUHAN
            Apabila dikatakan  kedatangan Hari TUHAN sudah dekat, maka hal itu memberi kesadaran bagi orang-orang Kristen dan Gereja bahwa saat ini adalah masa penantian. Masa penantian ini adalah masa anugerah untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menyambut kedatangan-Nya. Penantian dalam hal ini adalah penantian yang aktif untuk mewujudkan kehendak Allah di dunia ini.
            Gereja sebagai ‘persekutuan keselamatan eskatologis’ adalah persekutuan yang diutus ke luar. Kristuslah yang memanggil, mengumpulkan dan membenarkan gereja, dan Kristus jugalah yang mengutus gereja kepada dunia. Persekutuan Kristen tidaklah hidup dari dan untuk dirinya sendiri, tetapi dari dan untuk Kristus yang telah dan yang akan datang. Untuk itu orang Kristen dan Gereja harus mengikuti misi Kristus untuk melayani dunia. Gereja Kristus adalah ‘gereja untuk dunia’, artinya gereja melayani dunia, bekerja di dunia untuk menyuarakan misi Kristus. Gereja bertugas mewujudkan pemerintahan Mesianis dan pengharapan eskatologis tentang Kerajaan Allah, kebenaran, damai, kebebasan dan keadilan. Gereja Kristus melayani bukan supaya dunia tetap sebagaimana adanya sekarang, tetapi untuk mengubah dunia seperti yang telah dijanjikan.
“This means in practice that Christianity takes up mankind – or to put it concretely, the Church takes up the society with which it lives – into its own horizon of expectation of the eschatological fulfilment of justice, live, humanity and sociability”[14].

            Gereja tidak lagi hanya mewartakan kedatangan Hari TUHAN sebagai kedatangan Kristus kedua kali, tetapi bersama-sama dengan orang Kristen bertugas mewujudkan misi kedatangan Kristus ke dunia. Ajaran tentang kedatangan Hari TUHAN mempengaruhi keterlibatan orang Kristen dan Gereja pada masalah-masalah dalam masyarakat, yaitu masalah kedamaian, keadilan, persamaan hak, toleransi, keprihatinan bagi orang yang tak berdaya dan lemah, kasih sejati bagi sesamanya. Singkatnya orang Kristen dan Gereja yang sedang menantikan kedatangan Hari TUHAN bertugas memperjuangkan dan menciptakan pemerintahan Mesianis, suatu dunia yang penuh kedamaian dan keadilan. Dengan demikian Hari TUHAN itu akan menjadi keselamatan dan bukan penghukuman.(WNS)
           






















[1] Istilah ‘kedatangan Yesus kedua kalinya’ yang dipakai untuk mengungkapkan kedatangan Yesus pada akhir segala zaman tidak terdapat dalam PB. Istilah ini digunakan untuk membedakan kedatangan Yesus pada akhir zaman dengan kedatangan-Nya yang pertama, ketika Kristus lahir di Betlehem. Harun Hadiwijono, Iman Kristen, (Jakarta: BPK-GM, 1997), hlm. 479. Istilah yang umum digunakan dalam PB untuk menyatakan kedatangan Kristus kedua kalinya ialah parousia (kedatangan, 1 Kor. 16:17; 2 Kor. 7:6-7; Fil. 1:26), apokalypsis (penyataan, wahyu, 2 Kor. 12:1.7; Gal. 1:12; 1 Kor. 14:6.26; Wah. 1:1) dan epiphania (penyataan, pemunculan, kedatangan, 2 Tes. 2:8; 1 Yoh. 2:28). Lebih jelasnya baca J.L.Ch. Abineno, Sekali Lagi Pengharapan Kristen, (Jakarta: BPK-GM, 1983), hlm. 41-43, yang mengutip P.S. Minear (Christian Hope and The Second Coming, 1954).
[2] Christoph Barth dan Marie Claire, Teologi PL 4, (Jakarta: BPK-GM, 1993), hlm. 130.
[3] S.H. Widyapranawa, Tafsiran Alkitab Kitab Yesaya 13-27, (Jakarta: BPK-GM, 1979), hlm. 14.          
[4] Pieter A. Verhoef, The New International Commentary on The Old Testament: The Books of Hagai & Malachi, (Grand Rapids, Michigan: William B. Publishing Co., 1986), hlm. 325. (Terjemahan: Selain dari pada seluruh penghukuman-penghukuman dalam perjalanan sejarah umat Allah, penggenapan utama dihubungkan dengan kedatangan Kristus yang pertama, dan penggenapan yang terakhir harus dilihat dalam hubungan dengan kedatangan-Nya kembali).
[5] Donald Guthrie, Teologi PB 3, (Jakarta: BPK-GM, 1998), hlm. 130.

[6]  Donald Guthrie, Ibid., hlm. 130.
[7]  Ayat ini menimbulkan masalah sehubungan dengan terbatasnya pengetahuan Yesus sendiri akan kedatangan-Nya, tetapi cukup jelas bahwa waktu kedatangan itu tidak mungkin diramalkan secara tepat. Pernyataan bahwa waktu itu ada di tangan Bapa memperkuat keteguhan keyakinan yang diungkapkan Yesus bahwa setiap bagian dari misi-Nya berada di bawah pengetahuan Allah. Ibid.,  hlm. 134.
[8]     Bnd. Pengakuan Iman Rasuli yang mengatakan “dan dari sana akan datang kelak untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati”.
[9]     Pemahaman ini seolah-olah bertentangan dengan ajaran kekristenan tentang sola fide (hanya karena iman, bnd. Rom. 5:1). Sebenarnya “percaya dan perbuatan” bukan merupakan pertentangan, sebab kepercayaan bukanlah suatu teori atau pendapat. “Percaya” berarti hidup dalam  kepercayaan; percaya yang hidup menghasilkan perbuatan-perbuatan yang baik (Yak. 2:14-26). “Perbuatan baik” bukanlah hanya amalan-amalan yang istimewa, tetapi adalah mengenai segenap tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Percaya adalah perbuatan, perbuatan yang menentukan. G. C. van Nifrik dan B.J. Boland, Dogmatika Masa Kini, (Jakarta: BPK-GM, 1997), hlm. 320. 
[10]   Donald Guthrie, Op.cit., hlm. 197.
[11]    Kata ‘menghakimi’ yang dimaksud di sini adalah terjemahan dari kata Ibrani ‘syafat’. Kata ini mempunyai isi yang lebih kaya dan lebih positif dari pada kata menghakimi. ‘Syafat’ berarti menempatkan kembali seseorang atau sesuatu di tempatnya semula, di tempat yang tepat, sesuai dengan kehendak Allah. Dalam PL pekerjaan ‘syafat’ ini adalah khususnya pekerjaan Allah sebab dunia ini kacau dan tidak teratur. Segala sesuatu yang ada di dalamnya rusak dan bobrok, tidak sesuai dengan kehendak Allah. Orang yang benar dan rendah hati ditindas. Orang yang lemah dan miskin makin menderita. Orang yang kaya dan berkuasa makin merajalela. Keadilan diinjak dan kebenaran diperkosa. Semua ini bertentangan dengan kehendak Allah, sehingga Ia bertindak sebagai Hakim. Ia merendahkan yang satu dan meninggikan yang lain (Mzm. 75:8; bnd. Mzm. 9:4-5; 10:17-18; 103:6). Dalam PB pekerjaan ‘syafat’ ini khususnya adalah pekerjaan Yesus Kristus. J.L. Ch. Abineno, Op.cit., hlm. 70-71.      
[12]   J.L.Ch. Abineno mengutip Berkhof (Gegronde Verwachting, 1968), Ibid., hlm. 71.
[13]  Donald Gutrie, Op.cit., hlm. 200-202. Kata ‘saudara’ dalam ayat ini menjadi perdebatan para ahli. Ada yang mengatakan saudara yang dimaksud Yesus adalah bangsa-Nya sendiri, rasul-Nya, sisa  orang Yahudi yang akan memberitakan Injil atau semua orang yang membutuhkan bantuan. Masing-masing penafsiran ini mempunyai kelemahan masing-masing. Guthrie mengatakan ‘saudara’ dalam hal ini adalah semua manusia.

[14] Jurgent Moltmann, Theology of Hope, (London: SCM Press Ltd, 1967), hlm. 325-328. (Terjemahan: Dalam prakteknya ini berarti bahwa kekristenan yang berarti manusia, atau secara konkritnya, Gereja membawa  masyarakat yang di dalamnya dia hidup – ke dalam pengaharapannya sendiri yang horizon tentang penggenapan keadilan, kehidupan, kemanusiaan dan kemasyarakatan yang eskatologis).


“DUNIA SEBAGAI TEMPAT TINGGAL MANUSIA”

ILUSTRASI DUNIA TEMPAT TINGGAL MANUSIA

I.             PENDAHULUAN
Manusia adalah bagian  yang paling penting dari alam semesta ini. Ke dalam dunia inilah manusia dilahirkan, dan di dalamnya mereka hidup sampai mereka mati. Dunia itulah dunianya orang laki-laki dan perempuan, dari daging dan darah yang dikasihi oleh Allah.
Dalam kisah penciptaan alam, Allah menciptakan semuanya dari yang tidak ada menjadi ada, kecuali kisah penciptaan manusia. Di mana manusia yang diciptakan dari debu tanah dan yang menurut gambar dan rupa Allah. Jadi, manusia dipercayai untuk menjalankan fungsinya sebagai wali atau kuasa usaha-Nya di tengah alam semesta. Allah menggunakan manusia sebagai rekan sekerja-Nya yang secara modern dapat dikatakan bahwa manusia adalah sebagai orang yang mengusahakan dan memelihara tanah (Kej 2:5).
II.          PEMBAHASAN
Di dalam Perjanjian Lama, ada beberapa kata Ibrani yang mengartikan dunia yaitu: ארץ yang paling sering diterjemahkan sebagai “bumi, tanah” (tanah dari Mesir, Bil 1:1), “negeri” (Kej 12:1), “tanah” (Ulg 15:23). תבל yang digunakan hanya pada ilmu syair puisi, tidak pernah dibuat dalam artikel. חלד dan חדל dari lima alur yang mana חלד adalah mendirikan, kata ini berhubungan dengan Arabic halada (tinggal, melanjutkan), huldun (abadi) dan karena itu sejajar  untuk αιών bukan κόσμος. Dan חעולם dapat dikatakan sebagai “dunia” dan pada umumnya artinya adalah “waktunya panjang”.
Di dalam Perjanjian Baru, istilah dunia berasal dari tiga kata Yunani yaitu οίκουμένη, αίών, dan κόσμος yang artinya “dunia” dalam bahasa Inggris Perjanjian Baru. Ketiga kata tersebut di mana beberapa dari pengertiannya hampir sama dan dapat sekali-kali, seperti yang nyatanya, menemukan satu dengan yang lain. Οίκουμένη adalah sebuah singkatan dari (ή) οίκουμένη (γή) “tempat tinggal atau bumi”. Αίών, kata ini seperti עולם umumnya berarti yang waktunya lama atau panjang. Κόσμος (dunia), sebagian besar pengertiannya diperoleh dalam penulis Yunani yang digambarkan dalam Perjanjian Baru, tetapi kata ini sampai pada pengertian yang lain di mana tidak mempunyai kesejajaran di Perjanjian Baru dan kesusastraan yang langsung dipengaruhi oleh hal tersebut.
Pengertian manusia di dalam Perjanjian Lama, dalam bahasa Ibrani ada lima pengertian dari manusia. אדם “kemanusiaan” (sejenis) adalah kadang-kadang digunakan oleh pribadi manusia, tetapi lebih tepat perkataan בן־אדם (etimologi yang penuh dengan keraguan). Untuk איש “manusia (laki-laki), suami, individu”. אנוש “manusia, dapat mati atau fana”. גבר, manusia (laki-laki) yang kuat berbeda  dari wanita dan anak-anak. מת yang hanya berdiri pada jamak מתים “laki-laki (jantan), orang-orang (penduduk)”. Kata-kata ini seringkali digunakan sinonim, teristimewa dalam membuat syair puisi. Mereka mungkin membayangkan beberapa aturan aspek yang berbeda dari manusia alam seperti konsep Ibrani.[1] Dan di dalam Perjanjian Baru manusia berasal dari bahasa Yunani yaitu ό άνθρωπος. Manusia mempunyai kecerdasan, emosional, kebebasan, pertanggungjawaban moral dan kemungkinan hidup yang kekal
Dengan rumusan langit dan bumi, terkenal juga di antara bangsa-bangsa lain. Perjanjian Lama menyatukan keseluruhan segala makhluk ciptaan Allah. Sungguhpun hanya sebagai makhluk atau ciptaan belaka, namun terhadap bumi itu langit merupakan dunia “bagian atas” yang sering menjadi lambang (dan wakil) Allah sendiri; kebersamaan langit dan bumi mencerminkan pertemuan dan persekutuan khalik dengan makhluk-Nya yang menjadi tujuan rencana Allah dengan penciptaan dunia.[2]
Kitab-kitab PL menyatakan bahwa langit, dan tak kurang pula bagiannya yang terpencil, yakni sorga termasuk kepada makhluk-makhluk Allah yang selalu menghadapi bahaya kebinasaan. Langit itupun mempunyai samudera rayanya. Dewan sorgawi itupun tak luput dari pengaruh unsur-unsur yang ingin menentang ketetapan Allah. Boleh jadi mereka mempunyai kepentingannya sendiri di dalam pelaksanaan karya Tuhan itu, bumi dan langit menunggu pelaksanaan karya itu. Pengetahuan dan pengakuan inilah yang rupanya mengilhamkan perkataan yang terkenal, Yes 65:17 “Sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru” dan perkataan yang bergema dalam Wahyu 21:1 “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu dan lautpun tidak ada lagi”.
Dalam kisah penciptaan dunia dalam Kejadian 1:1-2:4b tidaklah mulai dengan kekosongan mutlak, tetapi dengan samudera raya yang menutupi muka bumi (Kej 1:2). Kemudian kisah kedua dalam Kej 2:4b-25, mulai dengan tanah kering yang belum pernah digenangi hujan. Bahwa Allah mulai bertindak dengan mengamankan makhluk-makhluk yang akan diciptakan-Nya. Sebagai ciptaan Allah, bumi ini menjadi hak milik Allah sendiri. Namun demikian, Ia memberikannya kepada manusia. Penyerahan bumi ini mempunyai arti yang sebesar-besarnya bagi umat Israel, sebab bahasa Ibrani hanya mempunyai satu sebutan untuk bumi dan tanah. Bahwa Allah memberikan bumi itu kepada manusia, hal itu merupakan berita kesukaan yaitu pertama-tama bagi umat manusia seluruhnya. Sebab umat Israel dan sesudah kedatangan Yesus Kristus, umat baru dari Allah juga. Mengetahui bahwa Allah sudah menjanjikan, memberikan dan menjanjikan lagi suatu tanah tertentu di atas muka bumi, tanah Kanaan yang menjadi inti dan jaminan dari karya penyelamatan yang direncanakan Allah.
Di antara segala makhluk-Nya yang lain, manusia diberi tempat yang terkemuka, sebab Allah berniat untuk pertama-tama mendirikan perjanjian-Nya dengan dia. Keadaan manusia sebagai jiwa dan tubuh mencerminkan pertemuan antara langit dan bumi, roh Allah yang dititipkan kepadanya selama masih hidup, menjadi lambang dari kuasa yang menghidupkan persekutuan antara kedua pihak. Selaku pencerminan perjanjian itu Allah menciptaikan manusia sebagai laki-laki dan perempuan, di mana laki-laki menjadi lambang (dan wakil) Khalik yang dengan sukarela menuruti panggilan itu.
Manusia diberi kedudukan seorang tuan yang berkuasa tinggi terhadap makhluk-makhluk lainnya di bumi, tetapi pada waktu itu juga ia diserahi tugas untuk bekerja sebagai hamba dan pelayan yang rendah. Mengingat segala sifat dan tugas yang saling melengkapi ini, maka manusioa ciptaan Allah dibanggakan sebagai makhluk yang sempurna, malah sebagai makhluk yang mirip kepada Allah sendiri.
Kitab-kitab PL mementingkan manusia sebagai makhluk yang dipentingkan Allah sendiri. Allah mempunyai maksud dan rencana-Nya sendiri. Manusia diciptakan-Nya oleh karena rencana-Nya itu. Manusia dipilih-Nya, diangkat-Nya menjadi pihak kedua di dalam perjanjian yang hendak diikat-Nya. Rencana dan tujuan inilah yang membuat manusia itu “makhluk yang utama”. Mengingat tujuan ini pula ia mendapat perkenanan istimewa dari Allah, sehingga disebut makhluk yang amat baik dan sempurna.[3]
Tuhan menciptakan manusia menurut gambar Allah. Ini berarti bahwa manusia adalah makhluk dan tetaplah sebagai makhluk yang selama-lamanya, dan manusialah yang mempunyai kedudukan tertinggi di antara segala makhluk. Tuhan berfirman kepada manusia, bahwa kepada manusia diletakkan tanggung jawab kepada Tuhan. Dengan kebenaran yang sesunguhnya dimaksudkan bahwa manusia ditempatkan di dunia sebagai raja yang tak bercacat dan murni hubungannya dengan Allah dan yang mempunyai panggilan memerintah dunia atas nama Allah dengan kebenaran, dengan keadilan. Dengan kekudusan yang sesungguhnya dimaksudkan, bahwa manusia ditempatkan di dunia sebagai imam Allah, yang mau mengorbankan hidupnya sebagai pelayanan kasih, sebagai korban syukur kepada Allah dan sesama manusia.
Namun manusia mengalami kegagalan di dalam hal memenuhi tugas yang telah diberikan kepadanya. Cerita Firdaus memperlihatkan dengan sejelas-jelasnya bahwa betapa eratnya perhubungan antara penciptaan manusia, mahkota segala makhluk itu disatu pihak, dengan pemberontakan manusia di lain pihak: kisah penciptaan itu tidak selesai diceritakan, sebelum pemberontakan itu diceritakan. Pemberontakan manusia dalm bentuk pencurian atau perebutan sesuatu yang dipandang baik oleh manusia itu, tetapi yang membawa kecelakaan baginya: pengetahuan atau pembedaan antara yang baik dan yang buruk.
Allah mengusir mereka dari tanah Eden, dan nampaknya hukuman Allah ini malahan bersifat perlindungan bagi manusia pertama itu terhadap kecelakaan yang lebih sial daripada yang sudah terjadi. Allah menghukum ini berarti bahwa ia memukul (Kej 8:21), perbuatan yang kadang-kadang mendatangkan kerusakan, kematian dan kebinasaan, tanda penulakn-Nya terhadap segala yang dibuat oleh makhluknya. Namun dengfan tidak disangka-sangka tindakan pengrusakan ini ternyata keluar sebagai tindakan pembangunan. Jadi Allah  sebenarnya mengaruniakan kemungkinan dan kesempatan untuk permulaan yang baru.
Pemberontakan manusia merupakan juga pokok cerita Kain dan Habil (Kej 4:1-16). Cerita Kain ini meriwayatkan pemberontakan manusia, sejajar dengan peristiwa Firdaus. Dengan pemberontakan manusia yang disusul dengan bencana, tersimpan juga dalam Kej 18-19. ini merupakan rangkaian cerita tentang bapa leluhur Israel khususnya Abram. Tetapi justru tentang Abram dikatakan bahwa ia mendapat berkat daripada Allah. Jadi pada tempatnyalah kalau kita membandingkan cerita Sodom dengan air bah: kerusakan manusia pada zaman Nuh dengan kejahatan dan dosa yang berat dari penduduk Sodom dan Gomora.
Tidaklah kebetulan saja, bahwa tokoh Abraham ditempatkan pada akhir kumpulan cerita-cerita tentang penciptaan dan pemeliharaan dunia. Rencana Allah mengenai makhluknya akan terlaksana dengan memakai Abraham sebagai alat yang terpilih. Tetapi rencana itu telah diputuskan sejak awal mula berdirinya dunia ini, dan ditujukan kepada umat manusia seluruhnya (perjanjian Allah kepada Nuh dan kepada segenap makhluk di bumi, Kej 9:8-17; 8:20-22).
Dalam Kitab Wahyu terkenal karena memperlihatkan kuasa Allah yang mutlak atas dunia. Dalam Kitab Wahyu kata kosmos dipakai sekali saja dan dihubungkan dengan kerajaan yang kini telah menjadi Kerajaan Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya (Why 11:15). Dalam hal ini kosmos berarti dunia yang didiami oleh manusia yang berpaling dari Allah. Tidak dikatakan bahwa dunia ini berasal dari sumber yang lain selain dari Allah. Dalam Wahyu 4 yang bersifat liturgis, para tua-tua memuji Allah yang menjadikan segala sesuatu, “oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan” (Wahyu 4:11). Kitab Wahyu menyatakan keyakinan yang sama dengan kitab-kitab PB lainnya bahwa Allah telah menciptakan langit, bumi dan laut (Why 10:6). Dalam pendahuluan surat kepada jemaat di Laodikia disebutkan tentang Kristus sebagai Amin, permulaan dari ciptaan Allah (Why 3:14).
Berbagai istilah tentang manusia terdapat dalam kitab Wahyu, tetapi diungkapkan dengan cara yang khusus seperti dalam tulisan Paulus. Kata pneuma dipakai terutama untuk Roh Kudus, tetapi juga dipakai dalam beberapa pengertian lain seperti roh-roh jahat. Untuk menggambarkan manusia yang seutuhnya, Kitab Wahyu memakai kata Psuke, baik untuk orang-orang yang telah mati dalam kebenaran. Karena itu jelaslah bahwa pemakaian kata pneuma dan psukhe dalam Kitab Wahyu sama sekali tidak menjelaskan tentang keadaan manusia secara jasmani. Kata tubuh hanya sekali dipakai (dalam Wahyu 18:13) dengan arti budak, dan kata itu diikuti dengan psukhe (budak dan bahkan nyawa manusia). [4]
Dalam Wahyu dapat dilihat kemenangan akhir dari yang benar dan atas yang salah digambarkan secara khas oleh kemenangan Anak domba atas semua kuasa kejahatan. Dalam penglihatan mengenai Yerusalem baru, segala bentuk kenajisan, kekejian atas dusta tidak boleh masuk (Why 21:27). Segala sesuatu yang mengganggu rencana Allah yang sempurna akan dibuang, dan anak domba itu sendiri menjadi suluh dan pedoman bagi masyarakat baru itu. Perbedaan antara yang sempurna dan yang ada dalam kenyataan begitu besar sehingga dapat dikatakan bahwa di antara kitab-kitab Perjanjian Baru yang lain, kitab Wahyulahss yang paling jelas dalam menerangkan akhir hidup manusia yang terpisah dari Allah.[5]
III.       DIPANDANG SECARA KONTINUITAS DAN DISKONTINUITAS YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERJANJIAN BARU
Di tengah-tengah dunia yang diciptakan Tuhan itu, manusia mempunyai kedudukan yang istimewa. Hal ini ditegaskan dalam pasal pertama Alkitab. Sebelum manusia ada, dunia menyerupai sebuah rumah kosong. “Belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu” (Kejadian 2:5). Segala daya tenaga dalam alam belum dipergunakannya menurut tujuan yang telah ditentukan oleh Tuhan. “Tuhan Allah membentuk  manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup dalam hidupnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kejadian 2:7).[6]
Allah tetap memelihara makhluknya, walaupun pada masa hidup pertama manusia melakukan pemberontakan terhadap rencana dan maksud baik-Allah dan pemberontakan itu (dosa) semakin menghebat dan meluas. Sebagai akibat dari sikapnya itu, manusia harus menderita berbagai kesukaran dan penyakit, dan hidupnya di bumi berakhir dengan suatu kematian yang bersifat penghukuman. Namun demikian, Allah memelihara kesetiaan-Nya terhadap segala makhluk-Nya, malahan meneruskan pekerjaan tangan-Nya menuju suatu dunia baru. Di mana kemenangan-Nya sejak permulaan atas pemberontakan manusia dan atas segala kuasa kegelapan akan menjadi kenyataan.
Dalam Wahyupun menggambarkan hari ketika mana suara-suara besar di sorga akan mengumumkan “Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia diurapi-Nya; dan Dia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya” Wahyu 11:15.[7] Kitab Wahyu terkenal karena memperlihatkan kuasa Allah yang mutlak atas dunia. Dalam hal ini kosmos berarti dunia yang didiami oleh manusia yang berpaling dari Allah. Tidak dikatakan bahwa dunia ini berasal dari sumber yang lain selain dari Allah. Dalam Wahyu 4 yang bersifat liturgis, para tua-tua memuji Allah yang menjadikan segala sesuatu, “oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan” (Wahyu 4:11). Kitab Wahyu menyatakan keyakinan yang sama dengan kitab-kitab PB lainnya bahwa Allah telah menciptakan langit, bumi dan laut (Why 10:6). Dalam pendahuluan surat kepada jemaat di Laodikia disebutkan tentang Kristus sebagai Amin, permulaan dari ciptaan Allah (Why 3:14).
Di samping pandangan mengenai dunia yang diciptakan, terdapat pandangan mengenai Sang Pencipta sebagai Yang Maha Kuasa (Why 1:8; 4:8; 11:17; 15:3; 16:7,14; 19:6,15; 21:22). Pandangan tentang Allah ini mencerminkan ketergantungan seluruh ciptaan secara mutlak kepada-Nya.
IV.       TEOLOGI BIBLIKA SECARA TIPOLOGIS
Di dalam dosa atau kesalahan yang dilakukan  oleh Adam dan Hawa telah membawa dampak bagi seluruh umat manusia. Sehingga rencana Allah mengenai makhluk ciptaan-Nya akan terlaksana dengan memakai Abraham sebagai alat terpilih. Abraham dikatakan, bahwa ia mendapat berkat dari Allah Khalik langit dan bumi (14:19). Tipologi Abraham ini, merupakan tipe seorang yang taat dan percaya kepada Tuhan (Kej 12:1-9; 15:6; 22:16-18)[8]. Adalah seakan-akan segala kenyataan pengasihan Allah belum cukup, malahan diberikan kesaksian tambahan. Dalam Kejadian 1-11, mengandung beberapa cerita tentang orang-orang terpilih untuk mencerminkan pengasihan Allah dengan cara khusus. Seperti Henokh dan Nuh dikatakan hidup bergaul dengan Allah (Kej 5:22; 6:9), Habel dan korban persembahannya diindahkan oleh Tuhan (4:4), dan pada zaman Enos (sebutan untuk manusia, seperti nama Adam) orang mulai memanggil  nama Tuhan (4:26). Dan di dalam rentetan inilah tidak boleh dilupakan nama Abraham, yakni tokoh pengunci dari daftar silsilah pada akhir kumpulan dari cerita-cerita purbakala itu (11:26).
Jadi rencana Allah mengenai makhluk-Nya akan terlaksana dengan memakai Abraham sebagai alat-Nya. Di mana Abraham pergi ke suatu tempat yang ditujukan oleh Allah (Kej 12:1). Panggilan itu adalah panggilan Allah yang memerlukan jawaban ketaatan. Panggilan itu datang kepada Abraham  bukan karena Abraham itu baik, melinkan semata-mata karena kehendak Allah saja.[9]
Dalam Perjanjian Baru juga dapat kita lihat, bahwa dalam seluruh Perjanjian Baru Israel digambarkan sebagai tipe jemaat Yesus Kristus (dalam Wahyu 21:12-14). Dalam hal ini tipe jemaat Kristus hanya dapat mengerti dirinya sendiri dengan benar sebagai Israel milik Allah yang eskhatologis. Di mana umat Allah  dibentuk melalui karya penyelamatan Allah, perjanjian Allah hanya dipelihara melalui pengampunan dosa dan kerajaan Allah yang menuntut ketaatan umat Allah terhadap hukum-Nya. Jadi perjanjian yang baru dalam Kristus bersesuaian dengan kehendak Allah dalam perjanjian yang lama sebagai penggenapan-Nya.
Memang dalam Kitab Wahyu ini terpusat pada tokoh Kristus sorgawi yang telah bangkit, karena itu hanya ada sedikit penekanan pada kemanusiaan-Nya. Tetapi dalam penglihatan mengenai Tuhan yang telah naik itu dalam Wahyu 1:13, Ia digambarkan sebagai seseorang yang serupa dengan “Anak Manusia”. Kematian-Nya disebut dalam Wahyu 1:7-8. kemanusiaan-Nya juga muncul dalam keterangan tentang Anak Domba yang terluka. Gambaran-gambaran ini cukup untuk mengenali Anak Domba yang menang sebagai Dia yang sudah hidup di bumi dan mati ntuk menyelamatkan manusia.
Sejarah zaman permulaan memberi kesaksian tentang rencana Allah bagi dunia, dan tanpa kesaksian  itu Yesus Kristus tidak akan dimengerti dengan tepat. Upacara pada hari pendamaian menunjukkan prinsip-prinsip yang digunakan Allah dalam mengatasi masalah dosa, yang diandaikan dalam misi Yesus dan tanpa itu kematian-Nya tidak dipahami. Jadi penyelamatan Allah dilihat sebagai salah satu aspek dari karya Allah untuk menyelamatkan manusia yang terus menerus sepanjang sejarah manusia.[10]

Teologi yang ditemukan:
·         Manusia diciptakan Allah sebagai gambar dan rupa Allah diberikan wewenang atau kuasa untuk berkuasa atas bumi. Wewenang yang diberikan Allah kepada manusia merupakan hak istimewa manusia. Berbicara tentang kuasa yang mencakup hak dan wewenang, manusia sebagai pemegang kuasa, baik itu di bidang politik maupun di bidang ekonomi cenderung untuk mempersempit kebebasan dan ruang gerak sesamanya, yang dianggapnya sebagai saingan atau lawan.
·         Kebebasan yang diberikan kepada manusia bukan membuka peluang untuk anarkis di mana setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya, tetapi justru membawa kebahagiaan kepada manusia itu sendiri. Karena manusia diciptakan di dunia ini bukan untuk saling menguasai tetapi untuk hidup sejahtera, di mana Allah menciptakan lebih dulu apa yang menjadi kesejahteraan manusia yaitu binatang-binatang dan tumbuhan. Dengan demikian manusia sebagai gambar Allah haruslah hidup menurut gambar dan rupa-Nya yaitu hidup kudus, sopan dan teratur dalam jemaat, tekun dalam pengajaran dan dalam persekutuan. Itulah sebabnya kebebasan yang diberikan-Nya ialah kebebasan yang bertanggung jawab (Kej 3:9-13).
·         Kebebasan yang diperoleh ialah untuk saling melayani, bukan untuk melakukan kejahatan. Kebebasan sejati adalah yang dijalani dengan penuh rasa tanggung jawab demi keselamatan bersama dan kelestarian lingkungan hidup. Jadi, sebagai gambar Allah manusia tidak dapat berkuasa dengan semena-mena melainkan harus tunduk dalam kehendak Allah dalam melakukan tugasnya.
Jadi manusia harus bertanggung jawab atas kedudukannya di dunia ini dengan memelihara kelestarian alam atau lingkungan. Dengan tidak melakukan eksploitasi sumber daya alam dengan memperhatikan kerusakan dan bagaimana dampaknya bagi lingkungan. Oleh karena itu, manusia harus taat kepada Tuhan dengan menggunakan hak dan tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepada manusia (Kejadian 1:28). (SMS)






[1] The Interpreter’s Dictionary of the Bible (K-Q), (USA: Nashville, 1981), hlm. 242-243
[2] C. Barth, Theologia Perjanjian Lama, (Jakarta: BPK Gungung Mulia, 2006), hlm. 38
[3] Ibid., hlm. 48-51
[4] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru I, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), hlm. 197
[5] Ibid., hlm. 238-239
[6] J. Verkuyl, Aku Percaya, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), hlm. 68
[7] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid I (A-L), (Jakarta: YKBK/OMF, 2005), hlm. 263
[8] David l. baker, Satu Alkitab Dua Perjanjian, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), hlm. 199
[9] S. Wismoady Wahono, Di Sini Kutemukan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), hlm. 95-96
[10] Op. Cit., David l. baker, hlm. 202-203

OTORITAS ALKITAB

Ilustrasi Alkitab

1. Apakah Alkitab itu?
     
Alkitab adalah kumpulan kitab-kitab (39 kitab PL + 27 kitab PB) yang diakui oleh umat Kristen sebagai firman Allah. Alkitab dalam istilah Yunani disebut “Biblia” yaitu bentuk jamak dari kata “Biblon” yang berarti kumpulan kitab-kitab atau buku-buku.[1]  Dari kata “Biblon” muncul terjemahan “Biblia” (bhs. Latin, Portugis dan Spanyol), “Bible” (bhs. Inggris dan Perancis), “Bibel” (bhs. Jerman dan Batak Toba) dan “Bijbel” (bhs. Belanda). Kitab-kitab itu dituliskan oleh manusia yang diilhami oleh kuasa Allah.  Kitab-kitab itu umumnya menceritakan seputar hubungan manusia dengan Allah, sehingga isinya pun diyakini sebagai bentuk penyataan tentang apa yang Allah kehendaki di tengah-tengah ciptaan-Nya.


2. Bagaimana Alkitab ditulis dan dirampungkan?

         2.1. Pengilhaman Allah terhadap para penulis dan kitab yang ditulis

                  Kumpulan kitab-kitab dalam Alkitab ditulis secara bertahap. Ada proses waktu yang cukup lama dan panjang untuk merampungkannya dan akhirnya dapat ditetapkan sebagai bagian dalam Kitab Suci.  Pertanyaan: bagaimana proses penulisan seluruh kitab yang terkumpul dalam Alkitab itu?  Menjawab dan meneliti pertanyaan ini dalam studi teologi dikenal istilah “ belajar teori sumber-sumber Alkitab”. Dalam proses penelitian “teori sumber Alkitab” diakui adanya peran manusia yang diilhami oleh Allah untuk memberitakan dan menuliskan firman-Nya. Tahap awal sebenarnya seluruh firman yang ada di dalam ayat Alkitab itu disampaikan secara lisan. Lalu selanjutnya ditulis dan dibukukan oleh para penulis dan redaktur. Dari proses lisan ke tulisan itu umat Kristen tetap meyakini adanya peran ilham Allah terhadap para pemberita, penulis dan redaktur Alkitab, sebagaimana disaksikan 2 Timotius 3:16 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakukan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran”. Bagaimana cara dan proses pengilhaman itu terjadi? Ada beberapa langkah dan cara yang tetap diimani oleh umat Kristen, antara lain:
(a) Ilham Allah kepada manusia lewat perkerjaan Roh-Nya. Pengilhaman model ini dipercaya umat Kristen terjadi sejak proses pemberitaan lisan, penulisan seluruh kitab PL serta PB hingga ke proses penyatuan oleh redakturnya. Roh Allah memimpin para pemberita, penulis dan penyunting kitab demi kitab dalam Alkitab. Mereka memberitakan dan menuliskan baik penyataan Allah maupun perbuatan dan perkataan manusia, karena dalam rencana Allah keseluruhannya diperlukan dan memiliki arti tersendiri.[2]  Kesaksian kitab 2 Petrus 1: 19, 21 mendukung dan menguatkan penegasan tersebut bahwa firman yang telah disampaikan oleh para nabi (artinya PL), kitab itu tidak timbul dari renungan pribadi para pemberita dan penulis, melainkan oleh dorongan Roh Allah bagi orang-orang yang berbicara atas nama Allah.[3]  Jelas para pemberita, penulis dan redaktur yang dikuasai Roh Allah, mereka menuliskan berita dari Allah itu sesuai dengan konteks, ungkapan, gaya bahasa dan kebiasaan masing-masing. Akhirnya untuk mengerti setiap pesan nas, istilah,  susunan kalimat, perumpamaan dan kisah yang diceritakan masing-masing penulis kitab itu haruslah mempelajari latar belakang konteks, sejarah, bahasa, pengaruh kebudayaan dan politik pada waktu itu.
     
(b) Ilham Allah lewat kuasa-Nya terhadap para penulis (pengilhaman verbal). Pengilhaman model ini diyakini umat Kristen sering terjadi di jaman para nabi. Misalnya dalam kitab Yeremia 1:5-9 “Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa… Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu”(bnd. Yes. 6:8-9a; Yeh. 2:1-2). Menaruh perkataan Allah ke dalam mulut para nabi [berlaku bagi penulis kitab] adalah kuasa Allah yang bebas dan ajaib terhadap nabi serta penulis kitab. Oleh kuasa itu para nabi berani berkata: “Firman-Nya kepadaku…”(Yeh. 2:1,3; 3:1); “Dengarlah/beginilah firman TUHAN…(Yes.1:10; Yer. 2:2+4) atau “TUHAN berfirman…”(Yes.3:6). Iman terhadap kuasa Allah yang bebas dan ajaib terhadap para nabi, hamba-Nya, termasuk penulis kitab, sehingga memampukan perkataan serta  tulisan mereka itu disamakan dengan ucapan Allah sendiri. Cara ini disebut “pengilhaman atau inspirasi verbal”. Istilah “verbal” berarti bahwa para penulis Alkitab tidak hanya diilhami dalam gagasan-gaasan umum, tetapi juga dalam perkataan yang mereka gunakan.[4]

Dari penjelasan ringkas di atas bahwa Alkitab adalah kumpulan kitab-kitab yang diilhami oleh Allah yang berdaulat, sehingga umat Kristen mengimani Alkitab memiliki otoritas yang “menyaksikan” firman Allah. Keyakinan terhadap adanya peran “pengilhaman Allah dalam Alkitab” tetap terkait-erat kepada kepercayaan kita tentang Allah. Setiap umat yang mengaku percaya kepada Allah tentu berkeyakinan bahwa manusia dapat ditentukan oleh-Nya sesuai dengan maksud-Nya dan di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya (bnd. Ef. 1:11). Manusia dapat diberkati dan diberi kuasa oleh Allah untuk “melakukan apa yang dikehendaki-Nya”(Mzm. 135:6). Iman seperti itu berlaku bagi para pemberita firman dan penulis Alkitab! Mereka dipilih dan ditentukan oleh Allah dengan maksud/tujuan memberitakan firman-Nya menurut kehendak-Nya.  Firman yang mereka beritakan dan diproses dalam bentuk tertulis mendapat ilham dari Allah, sehingga memiliki otoritas yang “menyaksikan”  firman Allah. Dalam pemahaman dan konteks itulah sehinga umat Kristen ttap mempercayai otoritas Alkitab yang menyasikan firman Allah.

2.2. Kanonisasi Alkitab

Istilah “kanonisasi”  berasal dari kata Yunani: “kanon”  berarti ukuran atau patokan (bnd. Gal. 6:16; 2 Kor. 10:13, 15-16).[5]  Kanonisasi Alkitab adalah pengumpulan dan penyatuan kitab-kitab atau buku-buku yang diakui sebagai pedoman keimanan umat Kristen, yang diyakini telah mendapat ilham dari Allah serta disahkan secara resmi oleh gereja.


2.2.1. Kanonisasi kitab PL
            Pada mulanya kepercayaan umat Israel dan hubungan mereka terhadap Allah disampaikan  dari generasi ke generasi secara lisan. Periode itu dalam studi teologi disebut “periode tradisi lisan”.  Baru sekitar tahun 1200 – 1000 seb.M  kisah-kisah yang berkembang secara lisan itu dituliskan.  Umumnya kitab-kitab PL, aslinya ditulis dalam bahasa Ibrani. Tetapi ada pula yang ditulis dalam bahasa Aram (bahasa resmi yg dipakai saat kejayaan Kerajaan Persia), seperti kitab Daniel (2:4 – 7:28) dan sebagian kitab Esra (4:8 – 6:18;  7:12-26).
Sebagian besar kitab PL ditulis dan dikumpulkan selama dan sesudah masa pembuangan (setelah tahun 550 seb.M), kecuali kitab Mazmur dan Amsal berasal dari jaman kerajaan sekitar tahun 1000-587 seb.M.[6] Kitab lain seperti Ulangan telah ditulis dalam bahasa Ibrani pada awal kerajaan Manasye.[7]  Manasye naik takhta sebagai raja tahun 696 seb.M dan memerintah hingga tahun 642 seb.M (bnd.2 Raj. 21:1-18; 2 Taw.33:1-20).[8]  Berarti sejak awal abad ke-6 seb.M kitab Ulangan telah dijadikan sebagai pedoman ibadah Israel Kuna, khususnya dalam mewujudkan pembaharuan Israel pada saat kepemimpinan raja Yosia (2 Raj. 22-23). Perkembangan berikutnya sekitar tahun 300 seb.M, “Pentateukh” yang sering disebut “Kelima Kitab Taurat” (terdiri dari 5 kitab: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan) telah rampung dalam bentuk  tertulis dan telah menjadi kitab koleksi di jaman Ezra (Neh. 8:2) serta diakui oleh umat Israel sebagai kitab suci.[9]  Lalu kitab nabi-nabi diakui umat Israel sebagai kitab suci antara tahun 400 sampai 200 seb.M. Sementara kitab lain yang berisi puisi, pengajaran, nubuatan dan sejarah ditulis serta diakui umat Israel masuk ke dalam kitab suci saat menjelang jaman Perjanjian Baru.  Pada akhirnya tahun 90 para rabi agama Yahudi melaksanakan sidang di Jamnia (Jabneh) dipimpin oleh Johannan ben Zakkai, sehingga diputuskanlah sejumlah 39 kitab yang diakui sebagai kanon Kitab Suci Ibrani dan dikelompokkan menjadi 24 buku.[10]  Berikut ini adalah daftar isi pengelompokan kitab menurut kanon Ibrani.

KANON IBRANI:

I. Taurat (Torah)                    1. Kejadian
                                                2. Keluaran
                                                3. Imamat
                                                4. Bilangan
                                                5. Ulangan
II. Nabi-nabi (Neviim)
    
a. Nabi terdahulu                    6. Yosua
                                                7. Hakim-hakim
                                                8. Samuel
                                                9. Raja-raja
    b. Nabi terkemudian            10. Yesaya
                                                11. Yeremia
                                                12. Yehezkiel
                                                13. Duabelas nabi

III. Kitab-kitab(Ketuvim)       14. Mazmur
                                                15. Amsal
                                                16. Ayub
                                                17. Kidung Agung
                                                18. Rut
                                                19. Ratapan
                                                20. Pengkhotbah
                                                21. Ester
                                                22. Daniel
                                                23. Esra-Nehemia
                                                24. Tawarikh.


Selain kitab PL dalam bentuk kanon Ibrani di atas, bagi orang-orang Yahudi Hellenis beredar kanon  Yunani yang disebut “Septuagianta”. Kanon Yunani “Septuaginta” adalah terjemahan seluruh kitab PL dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani yang disusun di Aleksandria.[11]  Isi kanon Yunani memuat seluruh isi kitab yang ada dalam kanon Ibrani yang lazim disebut “kitab protokanonika” , tetapi menambahkan beberapa kitab yang disebut “Deuterokanonika” (kanon kedua) yang terdiri dari: kitab Tobit, Yudit, tambahan buku Ester, Kebijaksanaan Salomo, Yesus anak Sirakh, Barukh, Surat nabi Yeremia, tambahan pada buku Daniel serta kitab 1 dan 2 Makabe. Kitab tambahan yang disebut “Deuterokanonika” dalam kanon Ibrani tetap ditolak sampai sekarang. Sementara umat Kristen lebih mendasarkan isi Kitab Sucinya pada Septuaginta (terjemahan 39 kitab PL dalam kanon Yunani), sehingga urutan isi kanon PL Yunani yang menjadi pola dasar terjemahan kitab PL umat Kristiani sampai sekarang ini. Ada pun isi kanon “Septuaginta” yang disebut kanon Yunani adalah[12]:

KANON YUNANI (SEPTUAGINTA):

I. Taurat                                 1. Kejadian
                                                2. Keluaran
                                                3. Imamat
                                                4. Bilangan
                                                5. Ulangan

II. Sejarah
    a. Sejarah pertama              6. Yosua
                                                7. Hakim-hakim
                                                8. Rut
                                                9. 1 Samuel
                                                10. 2 Samuel
                                                11. 1 Raja-raja
                                                12. 2 Raja-raja
 
    b. Sejarah kedua                 13. 1 Tawarikh
                                                14. 2 Tawarikh
                                                15. Ezra
                                                16. Nehemia
                                                17. Ester

III. Sastra                               18. Ayub
                                                19. Mazmur
                                                20. Amsal
                                                21. Pengkhotbah
                                                22. Kidung Agung
IV. Nubuat
      a. Nabi-nabi besar            23. Yesaya
                                                24. Yeremia
                                                25. Ratapan
                                                26. Yehezkiel
                                                27. Daniel

     b. Nabi-nabi kecil               28. Hosea
                                                29. Yoel
                                                30. Amos
                                                31. Obaja
                                                32. Yunus
                                                33. Mikha
                                                34. Nahum
                                                35. Habakuk
                                                36. Zepanya
                                                37. Hagai
                                                38. Zakharia
                                                39. Maleakhi.

Susunan dan isi kanon Yunani di ataslah menjadi pola dasar untuk menerjemahkan kitab PL di kalangan umat Kristen sampai sekarang.  Tetapi sejak jaman Reformasi seiring dengan arus tuntutan reformasi dan berdirinya Gereja Protestan, seluruh kitab yang termasuk “Deuterokanonika” dianggap sebagai “kitab Apokripa”. Apokripa artinya  ‘kitab tersembunyi’ dan kurang jelas, sehingga tidak dimasukkan lagi ke dalam kanon kitab PL oleh oleh Gereja Protestan. Tetapi bagi Gereja Roma Katolik sejak konsili tahun 1546 di Trente dan hasilnya menentukan satu daftar kanon Alkitab yang berlaku tetap di seluruh Gereja Roma Katolik sedunia, termasuk di dalamnya kitab yang disebut “Deuterokanonika”. Sementara Gereja Yunani Ortodoks sesuai dengan keputusan Sinode di Yerusalem tahun 1672, menolak kitab Deuterokanonik yang diperdebatkan masuk kanon Alkitab mereka, antara lain kitab Barukh, 1 dan 2 Makabe.  Secara ringkas bahwa di kalangan umat Kristen sendiri pun ada 3 (tiga) versi  kanon Alkitab yang dipakai, antara lain: versi Alkitab Gereja Katolik Roma, versi Gereja Kristen Protestan dan versi Gereja Yunani Ortodoks. Padahal ketiga versi itu tetap berpedoman dari satu sumber kanon kitab PL yang sama, yaitu kanon Yunani.

2.2.2. Kanon Perjanjian Baru

            Kitab-kitab Perjanjian Baru  awalnya ditulis para murid Yesus untuk menjelaskan pengenalan dan iman mereka kepada Yesus Kristus, sekaligus sebagai penjelasan atas pertanyaan umat yang baru mejadi Kristen dan bagi mereka di tengah proses pengenalan akan Kristus serta apologi terhadap para pengajar sesat. Sebagian dari para murid Yesus yang mengenal Yesus semasa hidup-Nya di bumi masih jelas dapat menuliskan riwayat Yesus, pekerjaan dan ajaran-Nya. Mereka menulis silsilah, pekerjaan, mujizat, khotbah, pengajaran dan semua peristiwa yang terjadi sejak kelahiran, kematian, kenaikan serta kenaikan-Nya ke sorga dengan pertolongan “ilham Allah” (2 Tim.3:16) dan Roh Kudus. Otoritas kitab-kitab Perjanjin Baru adalah dari Allah yang memberi “ilham dan bimbingan Roh-Nya” kepada murid Yesus dan para Rasul yang menuliskannya. Kuasa penyertaan-Nya atas karya para murid-Nya (Mat.28:20b) menjadikan kitab PB mendapat otoritas dari Yesus Kristus yang adalah “firman Allah” menjadi Manusia (Yoh. 1:1,14).

            Tulisan murid-murid Yesus dan para Rasul itu awalnya masih terpisah satu dengan yang lain dan disimpan di beberapa jemaat. Seiring dengan meluasnya medan pekabaran Injil yang terbuka lebar di luar Yerusalem dan bertambah banyaknya jumlah umat Kristen yang merindukan pesan-pesan kristiani, padahal para rasul-rasul Yesus itu umumnya telah meninggal dunia. Maka kehadiran tulisan murid-murid Yesus dan para Rasul yang terpencar di beberapa jemaat saat itu, sangat diperlukan untuk melengkapi peran kitab PL sebagai pedoman pengajaran keimanan, khususnya untuk pengenalan kepada Yesus Kristus. Pengumpulan terhadap tulisan para murid Yesus dan Rasul pun dilakukan. Tulisan mereka itu aslinya ditulis dalam bahasa Yunani. Kurang lebih 60 tahun lamanya untuk mengumpul, menyunting dan merampungkannya. Tulisan Paulus dan surat Yakobus, Petrus, Yohanes dan Yudas yang dulunya banyak dikirimkan ke jemaat-jemaat untuk dibacakan sebagai khotbah pun turut dikumpulkan dan disusun oleh penyunting.

            Proses penetapan kanon PB lebih maju dan dipercepat karena munculnya tantangan dialami oleh Gereja mula-mula dengan munculnya beberapa aliran sesat. Ada tiga peristiwa yang mendorong Gereja mula-mula untuk menggabungkan kitab-kitab para Rasul itu menjadi satu kumpulan yang disebut kanon PB, yaitu: 1) Timbulnya tradisi-tradisi rahasia dari Gnostisisme[13] yang sesat dan tidak benar; 2) ajaran sesat dari kumpulan tulisan yang disebarluarskan kaum Marcionisme[14], dan 3) pengaruh Montanisme[15] dengan pewahyuan-pewahyuan yang baru. Mengantisipasi serangan-serangan dari aliran sesat itu, kanon kitab PB harus ditentukan untuk menjadi tolok ukur di dalam menilai segala peristiwa, ajaran dan tradisi yang berkembang.[16]  Ada 3 (tiga) dasar pertimbangan untuk menentukan kitab-kitab para Rasul dapat dimasukkan ke dalam kanon kitab PB : a) kalau “menyaksikan” Kristus; b) kalau merupakan “kesaksian dan tulisan asli” para rasul, dan c) harus melalui hasil penilaian dan pertimbangan pemimpin Gereja serta disahkan oleh Sinode Gereja secara resmi.[17] Atas dasar pertimbangan itu maka tahun 367  Athanasius selaku Uskup di Aleksandria mengemukkan kanon Perjanjian Bau yang berisi 27 kitab di dalam  Surat Paskahnya yang ke-39.  Lalu konsili gereja di Roma tahun 382 menetapkan kanon Perjanjian Baru yang dikemukakan Athanasius yang berisi 27 kitab.[18]  Selanjutnya tahun 393 Konsili Hippo Regius pun turut mendukung dan menguatkan keputusan Konsili Roma yang menetapkan kanon PB sebanyak 27 kitab.[19] Kanon PB yang berisi 27 kitab inilah dipadukan bersama kanon PL yang terdiri dari 39 kitab sebagai Alkitab yang resmi diakui dikalangan umat Kristen Protestan. Ada pun isi dan susunan kanon Perjanjian Baru yang disahkan adalah:

KANON PERJANJIAN BARU:

   I. Injil (Euangelion)                        1. Matius
                                                            2. Markus
                                                            3. Lukas
                                                            4. Yohanes
 II. Kisah Rasul-rasul             5. Kisah Rasul-rasul
III. Surat-surat (Epistole)                   6. Roma                      
                                                            7. 1 Korintus
                                                            8. 2 Korintus
                                                            9. Galatia
                                                            10. Efesus
                                                            11. Filipi
                                                            12. Kolose
                                                            13. 1 Tesalonika
                                                            14. 2 Tesalonika
                                                            15. 1 Timotius
                                                            16. 2 Timotius
                                                            17. Titus
                                                            18. Filemon
                                                            19. Ibrani
                                                            20. Yakobus
                                                            21. 1 Petrus
                                                            22. 2 Petrus
                                                            23. 1 Yohanes
                                                            24. 2 Yohanes
                                                            25. 3 Yohanes
                                                            26. Yudas
 IV. Wahyu                                         27. Wahyu.
Penjelasan di atas menegaskan bahwa otoritas kitab PB yang menyaksikan firman Allah berasal dari Yesus Kristus, Sang firman Allah sendiri (Yoh.1:1). Rasul Paulus menegaskan bahwa apa yang telah ia teruskan kepada jemaat, telah ia terima dari Tuhan Yesus (1 Kor. 11:23). Tuhan Yesus adalah dasar dan menjadi sumber segala otoritas Alkitab. Secara ringkas bahwa otoritas Alkitab bersumber dari Allah yang telah berfirman kepada umat manusia melalui Perjanjian-Nya sebagaimana disaksikan oleh kitab-kitab Perjanjian Lama dan pemberitaan mengenai Yesus Kristus lewat kesaksian kitab-kitab Perjanjian Baru, agar kita dapat mendengar, menerima dan menyampaikan firman Allah, yaitu Yesus Kristus sendiri (Mrk.16:15-16; Mat.28:19-20).

3. Satu Alkitab: dua perjanjian dalam otoritas yang sama
                              Agama Kristen mewarisi kitab PB sebagai dukumen keimanan resmi terhadap Yesus Kristus dan tentang jemaat Kristen mula-mula. Pertanyaan, apakah umat Kristen masih membutuhkan kitab PL? Masihkah kitab PL memang merupakan bagian Alkitab Kristen yang harus ada? Jawabnya tentu “ya”! Umat Kristen harus tetap merenungkan makna dan pentingnya hubungan kedua perjanjian Allah itu.[20]  Sebab hubungan PL dan PB tidak dapat dipisahkan dalam kerangka memaknai “dua perjanjian Allah dalam satu Alkitab”.[21] Hubungan kedua perjanjian ialah penegasannya tentang Yesus sebagai Kristus yang dinantikan menurut pemberitaan kitab PL.[22] Intisari pemberitaan kitab PL dan PB mengarah kepada Yesus Kristus.[23] Yesus berkata: “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci… dan Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku”(Yoh.5:39). Inti nas PL yang selalu diselidiki para pemimpin agama Yahudi menurut Yesus adalah juga menyaksikan tentang diri-Nya. Demikian halnya bahwa di dalam kitab PB diberitakan karya penyelamatan Allah dalam Yesus Kristus yang bukan hanya semata-mata suatu peristiwa saja, melainkan satu-satunya peristiwa yang menentukan bagi sejarah keselamatan Israel juga. Perjanjian Baru memberitakan bahwa Yesus telah hidup, mati dan bangkit kembali bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Pemberitaan itu disajikan untuk menunjukkan bahwa Yesus menggenapi PL, baik sebagai akhir maupun tujuannya. Oleh karena itu perjanjian Baru mengarahkan hidup umat Kristen kepada Perjanjian Lama, karena di sana mereka dapat melihat contoh-contoh hukuman dan anugerah Allah terhadap umat-Nya. Contoh-contoh itu tetap bermakna dan relevan sebab dalam PL maupun PB umat Allah hidup dalam waktu dan sejarah, dan dalam kedua perjanjian umat itu menemukan Allah dalam penyataan Kristus. Walaupun begitu, PL bukan hanya menolong kita memahami bgaimana kehidupan Kristen yang benar, melainkan sungguh perlu untuk memahami penyataan Allah dalam Yesus Kristus, yang tidak dapat diketahui tanpa PL. Di dalam Yesus Kristus menyatu dua perjanjian Allah dan Dialah menjadi pusat otoritas kedua perjanjian itu sampai selama-lamanya, Amin. (JB)

                                                                       



























[1] H. Balz, “Biblion – Biblos” dalam H. Balz, dkk. (ed.), Exegetical Dictionary of the New Testament, Volume 1, Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1990, 217-218; bnd. F.F. Bruce, “Bible” dalam J.D. Douglas (ed.), New Bible Dictionary, Second Edition, England: Inter-Varsity Press, 1987,  137-140.
[2] W.S. LaSor  dkk., Pengantar Perjanjian Lama 1: Taurat dan Sejarah, terjemahan Werner Tan dkk., Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999,  42.
[3] Bruce Milne, Mengenal Kebenaran: Panduan iman Kristen, terjemahan Connie Item-Corputty, cet. ke-5, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003,  55.
[4] Milne,  58.
[5] H.W. Beyer, “Kanon”  dalam Gerhard Kittel & Gerhard Friedrich (ed.), Theological Dictionary of the New Testament, vol. III, Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1976,  596-606; bnd. A. Sand, “Kanon”  dalam Horst Balz and Gerhard Schneider, EDNT, vol. 2, Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1991,  249.
[6] LaSor, dkk.,  49.
[7] H.H. Rowley, Ibadat di Israel Kuna, terjemahan  I.J. Cairns, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1981,  74-75.
[8] Bnd. William Sanford LaSor, “2 Raja-Raja” dalam Tafsiran Alkitab Masa Kini 1: Kejadian - Ester, terj. Harun Hadiwijono, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1982,  587-588.
[9] Bnd. H. F. von Campenhausen, The Formation of the Christian Bible (E. T., 1972),  17br.
[10] LaSor dkk.,  53; bnd. Hendrikus Berkhof, Christian  Faith: An Introduction to the Study of the Faith, translated by Sierd Woudstra, Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1979,  80-82.
[11] Satu tradisi menginformasikan bahwa Ptolomeus II Philadelphus dari Mesir yang ingin memiliki kitab Perjanjian Lama terjemahan Yunani untuk keperluan Perpustakaan baru dibangun pada saat itu di Aleksandria. Informasi lain memberi alasan politis dan religius, bahwa orang-orang Yahudi yang bermukim di Aleksandria-sekitarnya tidak mengenal lagi bahasa leluhurnya. Sebab mereka telah memakai bahasa Yunani dalam komunikasi sehri-hari. Jadi, Kitab Suci Ibrani  diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani, supaya orang Yahudi di perantauan dapat memahami Kitab Sucinya (Philip A. Noss, “Firman Tuhan, Umat-Nya dan Gereja: Terjemahan Alkitab” dalam Satu Alkitab Beragam Terjemahan, Jakarta: LAI, 2005),  7.
[12] LaSor dkk.,   52.
[13] Gnotisisme adalah aliran yang menonjolkan gnosis, artinya pengetahuan.  Pengetahuan dinyatakan lebih tinggi dan mulia dibandingkan dengan iman Kristen. Aliran ini muncul pada abad ke-2 diperkembang oleh Valentinus dan Basilides dengan megajarkan bahwa dunia diciptakan oleh Allah bangsa Israel bukanlah Allah Bapa yang Mahabaik. Barulah Kristus yang memperkenalkan Allah yang Mahatinggi itu kepada kita. Penganut Gnostik menyusun “Injil Thomas” yang menurut mereka memuat kata dan pengajaran asli Tuhan Yesus, padahal hanya memuat inti ajaran Gnostik semata. Sementara keselamatan menurut ajaran Gnostik boleh didapatkan manusia melalui pengetahuan rahasia. Pengetahuan rahasia tersebut menyebabkan manusia mengetahui dirinya sendiri dan dari mana asalnya sebenarnya. (Th. Van den End, Harta Dalam Bejana:Sejarah Gereja Ringkas, cet. Ke-3, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983, 41-52; bnd.  F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994,  78).
[14] Marcionisme adalah aliran yang dipimpin oleh Marcion seorang kaya di Bandar Sinope di pesisir Laut Hitam. Alasan aliran ini ditolak dan dikucilkan Gereja tahun 144, sebab ajarannya menyebut Allah pencipta dunia memiliki derajat yang rendah dengan tuntutan taurat-Nya yang terlalu keras. Akhirnya aliran ini menolak kitab PL. Juga Yesus dinyatakan tidak diutus oleh Allah Perjanjian Lama, tetapi oleh Allah lain yang belum dikenal. Selanjutnya Marcinisme menolak kedatangan Kristus kembali dan kebangkitan segala daging/makhluk (H. Berkhof/I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, cet.ke-18, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), 21-24).
[15] Montanisme adalah gerakan keagamaan bersifat apokaliptik yang muncul di Phrygia (Asia Kecil) pada pertengahan abad ke-2. Nama pemimpin gerakan ini adalah Montanus yang bernubuat tahun 172 dengan menyatakan bahwa Yerusalem yang baru akan ddirikan di dekat Pepuza (Asia Kecil). Dua wanita pengikutnya, yaitu Priscilla dan Maximilla turut bernubuat dan menyebut diri mereka sebagai Roh Kudus. Mereka menerapkan ibadah puasa, askese atau meditasi dan melarang para ibu janda menikah kedua kalinya. Mengkritik kehidupan gereja yng mewah. Pengikut gerakan ini berani mati martir menghadapi penolakan dari siapa pun, termasuk pemerintah. Akhirnya gerakan Montanisme dikenai siasat Gereja dan dianggap sebagai aliran sesat melalui keputusan Sinode di Antiokhia tahun 200 (Berkhof/Enklaar,  24-26; bnd. Wellem,  169).
[16] Dieter Becker, Pedoman Dogmatika: Suatu Kompendium Singkat, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991,  44.
[17]  48.
[18] Bnd. M.J. Rouet de Journel, Enchiridion Patristicum, no. 791,  Freiburg, 1937, 17 br.; bnd. Becker,  44.
[19] Bnd. Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika 1, Yogyakarta: Kanisius, 2004,  99-100.
[20] B.W. Anderson, “Introduction: The Old Testament as a Christian Pbroblem” dalam The Old Tetasment and Christian Faith: Essays by Rudolf Bultmann and others, disunting B.W. Anderson, London, 1964,  1-7. 
[21] Lihat David L. Baker, Satu Alkitab Dua Perjaanajian: Suatu studi tentang Hubungan Teologis antara PL dan PB, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001,  19.
[22] W. Vischer,  The Witness of th Old Testament to Christ: The Pentateuch, London, 1934,  11-14.
[23] W. Vischer, “Everywhere the Scripture Is abaout Christ alone” dalam OTCF,  90-101.
Back To Top