Pergunakanlah Waktu dan Tetap Berpengharapan


GMKI KOMISARIAT USI BELAJAR KE DESA

Photo Istimewa Kader Usi Bersama Ketua Tani M Malau
Kunjungan GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) Komisariat Universitas Simalungun. Pada hari ini melakukan belajar di desa Cinta Mulia Perumnas Batu Enam Kabupaten Simalungun (26/01). Lokasinya tidak jauh dari kota Pematang siantar. Pengurus Komisariat Rika Napitupulu, Hesianna Sitorus, Elsa Siahaan, Yowan Butar-butar, Andre Sinaga, Galaxy Sagala, Jevandri sinaga berserta kader USI lainnya adalah yang menginisiasi dari kegiatan ini.

Komisariat USI melakukan wawancara dengan salah satu ketua tani di sana yaitu M Malau (57) Beliau sangat bersemangat  menjelaskan tentang pertanian kepada kami . beliau membawa kami jauh kesawah yang jaraknya kira kira 10 menit jalan kaki dari rumah beliau.

Bapak ini bercerita bahwa dia adalah seorang tengkulak (pengepul) di desa tersebut. Ia juga banyak bercerita bagaimana keluh kesah menjadi petani sehari hari.
“aku udah  sejak gak jadi guru lagi kuputuskan la aku jadi Petani “ucap pria bertopi tersebut.

Di sawah kamipun berdiskusi dengan beliau tentang Pertanian, petani, dan sebagainya.
Beliau mengatakan dia mengunakan bibit padi jenis Bagandit dan beliau juga menanam jagung dan sayur kacang panjang untuk memenuhi kebutuhan nya sehari-hari.

Bapak beranak empat itu awalnya mengunakan bibit bersubsidi yang di berikan Pemerintah namun hasilnya tidak terlalu baik. Maka ia memutuskan membeli sendiri.
Beliau mengatakan dia memiliki sawah 2 hektare. Setiap rante dia mengunakan pupuk yang berbeda guna melihat bibit mana yang unggul dan baik di gunakan di sana
“saya jujur saja saya mengunakan Pestisida untuk mengurangi hama yang  ada pada padi dengan cara menyemprotnya“ tutur beliau.

Disana juga bapak tersebut mengunakan sisitem tanam padi yaitu Mina Padi ikan nila . yang dimana padi dan ikan nila di buat dalam satu kolam dengan jarak tanam padi 20-25 cm. padi tersebut membuat ikan terhindar dari terik matahari d siang hari. Teknik ini sangat menguntungkan karna hasil panen nya dua yaitu dari padi dan ikan tapi modalnya juga dua.

Beliau tidak setuju dengan perkataan presiden Jokowidodo yang dimana petani harus langsung menjual beras bukan Gabah. "Hal tersebut justru membebani petani, karna belum lagi membawah gabah ke kilang tentu makan banyak biaya lagi.
sebaiknya pemerintah itu melihat dulu ke bawah bagaimana kami disini jangab terus berargument begitu."
uda jadi beraspun gabah ini uda di bawa kekilang untuk memproses nya tetap aja harganya segitu yaitu Rp.4500,00- per KG.

Kami pun bertanya sehubungan dengan usaha yang digeluti bapak berusia 57 tahun itu yaitu menjadi tengkulak. "Kenapa bapak mau jadi tengkulak ? ujar Galaxy Sagala
"gini dek kalok tengkulak ini bisa bantu petani dan untung lumayan lah." Galaxy pun bertanya “ kenapa bapak gak dirikan PT atau CV resmi?”
kalok saya buat PT resmi maka ketika saya akan menyetor beras ke PT atau CV yang lebih besar otomatis akan terkena PPh, “uda untung tipis kenak PPH pulak “ujar bapak itu.

Bapak itu bercerita di sini ada juga d tawarkan asuransi pertanian namun rasanya tidak menguntungkan karna di sini pun petani kecilnya bukan besar belum lagi bayar uang asuransi kira kira Rp6.000 per bulan.

“Kami juga sempat di sini katanya mau buat tanam padi secara serentak, tapi tak terealisasi. Gmna mau tereakisasi cobak semua takut menanam pertama katanya takut nantik hamanya ketanman kita luan la takut gagal panen la”ucap pria itu sambil menyalakan sebatang rokok.

Setelah bercerita panjang lebar kami pun pulang dan bapak itu berpesan pada kami.
“kalian jangan malu jadi petani . gak semua nantik kalian bekerja di kantor gtu tamat kuliah. Mahasiswa harus tahu juga bagaimana cara proses pertanian itu baik dari modal penanaman, pembibitan, perawatan hingga pemanenan. "Jangan taunya ditanam terus panen, tambah pria tua tersebut  lama kelamaan lahan sawah bakalan hilang di buat pemukiman masyarakat, nanti makan apa lagilah kita uda habis sawah uda gak ada lagi tempat tanam padi." Sebaiknya pemerintah cepat dan responsive dengan hal seperti ini . apa solusi jika beras langka bole saja kita makan ubi, jagung, singkong , sagu seperti saudara kita di daerah timur sana , tambah beliau satu lagi. Pemerintah seharusnya lebih peduli pada kaum kecil ini. "Di survey dulu  bagaimana di lapangan jangan hanya berargumen aja taunya tidak tahu sakitnya jadi orang kecil ini” tutur beliau dengan sedikit lantang.

Pesan yang sangat bermakna yang kami dapat dari beliau adalah "Janganlah kalian kalo uda tamat hanya fokus mengejar kerja jadi PNS, kantoran, pekerja pabrik  mereka hanya bergaji tetap tapi tirulah petani selalu tetap bergaji “ kata pak tani yang sudah berumur tersebut sambil tertawa bahagia.

Tulisan narasi ini adalah tulisan dari Komisariat Usi sebagai laporan pembelajaran yang mereka dapatkan selama belajar di desa Cinta Mulia Perumnas Batu Enam Kabupaten Simalungun.


Dokumentasi Kegiataan





Labels: GALERI GMKI, SASTRA

Thanks for reading GMKI KOMISARIAT USI BELAJAR KE DESA . Please share...!

0 Comment for "GMKI KOMISARIAT USI BELAJAR KE DESA "

Back To Top